CO PATRIOT XII  #OperasiKerbauTanah V

CO PATRIOT XII #OperasiKerbauTanah V


CO PATRIOT XII
#OperasiKerbauTanah V
Dua hari sudah depot es tutup. Wien Nio harus melanjutkan keberlangsungan hidup. Papah dan mamahnya pasti menbutuhkan beaya yang sangat besar. Itulah pertimbangan Wien Nio memutuskan pulang, tak jadi menunggu Yani dan Ningsih membawakan pakaian ganti. Rencananya, besok pagi depot es buka dan meminta Yani melayani pembeli, mengingat Ningsih masih terdaftar sebagai buronan akan ditempatkan di dapur. Tapi, begitulah kalau sudah ketemu Ningsih, hal hal konyol sering terjadi. Seperti yang baru saja terjadi di kamar mandi. Han Han dan Yani hanya merasa heran dengan Wien Nio setelah keluar dari kamar mandi, ketawa tak ada habisnya.
“Ini ada apa?’, tanya Han Han keheranan. Dengan senyum saja Yani mengambil sapu, membersihkan bagian dapur sampai bagian depan.
“Coba kalau tadi Koh Han Han yang datang, hugh…dasar Rambat Wedok”,kata Wien Nio yang masih belum berhenti tawanya.
“Biasa Han, canda wanita wuda”, kata Ningsih sambil menutup mulutnya.
“Eh iya koh, banyak juga yang menitipkan ‘ang pao’, untung saja tidak ikut di rampok”, kata Wien Nio yang langsung masuk kamar dan keluar dengan membawa tas berisi ‘ang pao’ untuk Han Han.
“Lhoh kok banyak banget, coba hitung sekalian”, kata Han Han keheranan. Yani yang tengah menyapu disuruh berhenti, duduk mengelilingi meja dan membantu mengitung uang “ang pao’. Sangat banyak uang ‘ang pao’ setelah dihiung. Mat Han Han berkaca kaca terharu. Tidak mengira sama sekali. Selama ini Han Han cukup sinis dengan sesama keturunan China. Hanya keluarga Wien Nio yang peduli dan selalu memberi semangat. Bukan banyaknya uang, melainkan banyaknya jumlah orang yang memberi. Han Han tertunduk. Yani dan Ningsih ikut hanyut dalam keharuan. Wien Nio memeluk kepala Han Han dari belakang.
“Masih banyak yang sayang sama kokoh”, bisik Wien Nio. Han Han yang merasa malu, menangis dihadapan tiga perempuan mengalihkan perhatian sambil memgang setumpuk uang ‘ang pao’.
“Sepertinya cukup, ini untuk membantu kelahiran mbak Rahayu sekaligus cincin pernikahan kang Atmo dan mbak Rahayu, nha… yang ini untuk beli cincin kawin Rambat dan Ningsih, yang ini untuk beaya awal sekolah Mardi juga Yani, untuk Kholili ehmmm…masih cukup untuk sewa los tukang cukur”,papar Han Han.
“Lhah cincin kawin Wien Nio mana?’, tanya Ningsih. Han Han tak menjawab pertanyaan Ningsih. Wien Nio mempererat pelukannya pada Han Han.
“Lagi pada apa ya mereka sekarang?’, tanya Han Han entah kepada siapa dia bertanya. Yani dan Ningsih memahami apa yang dirasakan Han Han. Terlebih Wien Nio yang sedang memeluk erat Han Han, merindukan sahabat sahabat terbaiknya di lereng gunung Merapi.

Pinggir Kali Senowo.
‘Rasanya, kita sudah saling mengenal piluhan tahun yang lalu, kisanak”, kata salah satu Pasukan Teratai.
“Iya, saya Atmo, Rambat namanya yang matanya tinggal sebelah, Kholili keturunan Madura-Tulungagung yang sepenggal nyawanya ada di cluritnya, itu Mardi masih ada lagi Han Han yang mengantar kita kemarin, Wien Nio gadis China yang tak suka memandang perbedaan bangsa, Ningsih, gadis hitam manis yang geliatnya mirip Rambat dan Yani, gadis mungil adik angkat saya”,Atmo memperkenalkan diri dan teman temannya.
“Saya sendiri Mamo, maling simo haha…julukanku, karena seriap aku mencuri kebetulan seperti masuk di kandang harimau, itu Sanib asli Ngawi dan satunya Parno asli Madiun seperti saya”, balas Mamo.
“Tidak apa kan tidur di sisni?’, tanya Atmo
“Ah, tidak apa, Mardi itu adik kandungmu?’, Mamo balik bertanya.
“Iya”, jawab Atmo singkat. Kholili dibantu dibantu Sanib dan Parno mencari, mengumpulkan ‘klaras’ (daun pisang kering) sekedar untuk alas tidur. Rambat dan Mardi yang masih belum bisa melepas kepergian pak Bendhol mencari pelepah daun kelapa (blarak) untuk pelindung dari tiupan angin dingin. Atmo dan Mamo mencari ranting ranting kering untuk perapian. Dipilihnya tempat rata, berpasir menjauh dari kali Senowo. Semoga tidak hujan. Api menyala. Hanya Atmo dan Mamo duduk dekat api, sementara Rambat, Mardi, Kholili, Sanib dan Parno sibuk mencari sesuatu yang bisa dimakannya. Mardi yang menyusuri tebing sungai mendapat seekor biawak, disusul Rambat yang mendapat seekor trenggiling,
“Jangan tebang, itu ‘pisang kluthuk’ bisa bahaya nanti’, teriak Atmo. Kholili mengurungkan niat menebang pohon ‘pisang kluthuk’, bergabung dengan Sanib dan Parno berlarian berebut “regul” (musang air) yang cukup banyak di sekitar ‘kedhung’ (jeram). Meriah juga, mengelilingi perapian, membakar aneka macam daging buruan. Sayang tidak ada minuman pendamping penghangat badan, wedang jahe atau secang. Adanya hanya air kali.
“Apa tidak mungkin, mereka para ‘grayak’ menuntut balas”, Sanib memulai perbincangan.
“Itu juga yang aku pikirkan”, kata Atmo.
“Lhabrak wae”, Rambat kumat. Kholili bersiap pacak mulut, namun kedahuluan Mardi.
“Ula marani gebuk, mbat”, sahut Mardi.
“Lobrak labrek, iki lho ‘blarak’, Kholili tangannya menggerakkan pelepah kelapa pelindung angin.
“Bagaimana Atmo?’, tanya Mamo. Atmo masih belum mendapat gagasan terbaiknya. Bebakaran aneka daging hewan liar sudah mengeluarkan aroma dan matang. Rambat kesulitan menggigit karena dua gigi tanggal, terutama saat mencicipi daging ‘regul’. Biawak hasil tangkapan Mardi sangat besar, hingga semua kebagian mencicipi. Trenggiling tangkapan Rambat hanya Sanib dan Rambat sendiri yang memakannya. Sementara yang lain tak tega, saat terbayang seekor trenggiling hidup. Dua ekor bakaran ‘regul’ tak ada yang mau menyentuhnya karena bau dagingnya amis dan langu. Rambat yang mencoba memakan karena kesulitan menggigitnya, akhirnya dilemparkan lagi ke nyala api. Hangus, dibiarkan hangus jadi arang.
“Aku sangat setuju dengan Mardi, kalau kita yang melabrak ‘ula marani gebuk’”, Mamo memulai lagi perbincangan.
“Tak ingin kembali ke Jogya atau pulang ke rumah, barangkali?’, tanya Atmo.’Aras arasen’ (rasa malas) terlihat pada diri Mamo, Sanib dan Parno begitu mendengar ‘kembali ke Jogya’. Sanib yang nampak akrab dengan Rambat memijit punggung Rambat. Parno yang duduk di samping Kholili ngobrol dengan suara lirih. Mardi duduk diam, kedua tangannya memijit kepalanya sendiri. Hanya Mamo yang menanggapi pertanyaan Atmo;
‘ Jogya tidak begitu bersahabat bagi orang orang seperti saya juga teman teman mantan Pasukan Teratai. Selepas dari Pasukan Teratai, sebagian dari kami memutuskan untuk tetap tinggal di Jogya. Malu pulang kampung. Bagaimana tidak, mempunyai kedudukan yang sangat membanggakan sebagai pasukan yang selalu dekat dengan Presiden, tiba tiba menjadi gelandangan. Tidak dendam atau sakit hati terhadap Bung Hatta atau pemerintah, itulah kebanggaan yang masih bisa dinikmati. Bergabung dengan para pejuang masih saja dicurigai sebagai mata mata atau bahkan dituduh sebagai ‘maling’. Untung, masih ada beberapa perwira tinggi TNI masih mempercayai untuk mengawal pengiriman ‘candu’ dari Gunung Kidul ke Rembang, Semarang sampai Tegal. Tambahkan pula kembali ke Jogya mengawal senjata senjata untuk kepentingan TNI. Kebijakan mendua inilah yang membuat kami ini tak merasa nyaman. Satu pihak dilindungi menjalaankan tugas negara tapi dilain pihak dikejar, terutama oleh pihak Belanda. Hehmm….sejak bertemu dengan kalian peristiwa jembatan Bogowonto’ hingga saat sekarang ini, rasanya enggan meninggalkan Muntilan, tak tahu bagaimana Sanib dan Parno’. Begitu singkat cerita Mamo sebagai pengantar tidur Mardi yang sudah kedengaran dengkurnya juga Kholili dan Rambat. Hanya Mamo sendiri, Atmo, Sanib dan Parno yang belum tidur.
“Kita istirahat dulu saja, kita lanjut esoknya”, kata Atmo.
Tidur. Angin sedikit lebih tenang. Jeram sungai Senowo tidak sedang disertai lahar dingin yang menimbulkan suara berisik pengganggu tidur. Satwa liar lebih nyaman berdiam dan mencari mangsa lebih dekat dengan gunung Merapi. Batu batu besar sangat membantu menyaring angin yang kian dingin. Beruntung, Kholili tak jadi menebang ‘pisang kluthuk’ dan membakarnya. Salah salah akan mendatangkan harimau yang tertarik dengan aroma ‘pisang kluthuk’ bakar.

Keesokan harinya.
Tumpukan sayur mayur di pasar Talun menunggu antrian untuk diangkut menuju ke pasar pasar lain hingga pasar induk Muntilan. Seperti biasa, Rambat lebih dulu sampai di pasar, membaca situasi. Aman. Baru kemudian yang lain menyusul. Tidak ada yang bawa uang sekedar untuk membeli sedikit pengganjal perut. Berjalan melalui jalan utama Dukun-Muntilan, belok kiri desa Banyubiru sejauh kurang lebih 3 km lantas belok kanan. Tujuannya adalah desa Ngadirojo. Kalau saja gerombolan ‘grayak’ masih ada yang tinggal di sana. Titik titik embun sudah menguap oleh sinar matahari. Desa Wilet masih cukup jauh, namun suara ‘cokekan’ gamelan terdengar. Barangkali ada warga desa sedang punya ‘gawe’ (hajad). Suara ‘cokekan’ gamelan semakin keras terdengar. Sudah dekat dengan desa Wilet. Nampak hiasan janur kuning berderet di pinggir jalan. Berharap bisa melihat tetabuhan gamelan lebih dekat, sekalian bergabung dengan anak anak berebut ‘bancakan’ (pesta kecil anak anak dalam setiap tradisi hajadan). Masih ratusan meter ke depan, berhambur orang berlarian, anak anak hingga orang tua, laki laki dan perempuan berteriak ‘grayak’.
“Rambat, lihat situasi”, teriak Atmo. “Menyebar”, lanjutnya. Mardi, mamo dan Sanib kea rah sisi kanan melewati pematang sawah, sedang Atmo dan Parno terus lurus mengikuti jalan. Kholili sendirian. Benar. Mereka para ‘grayak’ yang sedang menjarah orang punya ‘gawe’. Dengan karung ‘goni’ gerombolan ‘grayak’ ini dengan santainya memasuk makanan matang dan yang mentah. Sebagian mengumpulkan uang ‘kondangan’ dengan menggunakan kain. Pengantin laki laki yang baru saja selesai di”paes’ ( didandani) tergeletak di kursi pengantin, sementara pengantin perempuan disekap dijadikan sandera.
Belum ada kata terucap. Para ‘grayak’ melihat Atmo dan Parno bergerak maju, langsung menyerangnya. Satu orang roboh oleh tempakan pistol Rambat. Tambah beringas para “grayak’ melihat temannya mati. Lima orang “grayak’ mengeroyok Atmo dan Parno. Satu orang lagi roboh oleh peluru pistol Rambat. Dususul tiga orang tewas oleh senjata Atmo dan Parno. Pesta perkawinan semakin berdarah. Mamo, Mardi dan Sanib melalui dapur rumah menyerang para ‘grayak’ yang tengah memasuk masukkan barang jarahan. Empat orang ‘grayak’ terlempar hingga keluar rumah, tak bernyawa. Tinggalah satu orang di hadapan Atmo dan Parno dan satu orang lagi mendekap tubuh pengantin perempuan.
“Tak pateni cah wedok iki”, teriak ‘grayak’ yang mendekap dan menodongkan pistol kepada pengantin perempuan.
“Ampun, tolong jangan bunuh anak saya”, seorang ibu sedang memohon kepada orang yang menyandera dengan bersimpuh menyembah nyembah. Seorang yang ada dihadapan Atmo dan Parno bergerak mundur mendekati teman yang sedang menyandera.
“Nek ora minggir, tak pateni cah wedok iki”, lagi teriak orang yang menyandera.
Lepaskan senjata kalian”, teriak satunya. Atmo dengan isyarat memerintahkan meletakkan senjatnya, Mamo, Sanib, Mardi, Parno dan Rambat. Pisau kecil karena tidak tampak di tangan Atmo tidak diletakkan. Masih ada di tangan Atmo.
“Lepaskan, pengantin perempuan itu”, Atmo mengajak bernegosiasi dengan dua penyandera ini.
“Minggir”, teriak penyandera sambil melepaskan tembakan ke atas. Atmo memerintahkan untuk memberi jalan. Hanya Rambat yang belum bergeser minggir, menjadikannya penyandera itu marah dan mengarahkan pistolnya bersiap menembak Rambat. Putaran cepat melesat clurit Kholil yang dilemparkannya, menebas putus tangan penyandera. Pistol terlempar dalam genggaman tangan yang sudah putus. Mamo menerkam ‘grayak’ satunya memegang tangan dan memuntirnya. Senjata pedang lepas,sedang tangan ‘grayak’ itu terbalik persendiannya.
“Lapor pada tetuamu sana”, bentak Atmo pada kedua ‘grayak’ yang sedang menhan sakit luar bias.
“Siapa pimpinanmu?’, tanya Mamo membentak.
“Tjipto Sardjoe”, jawab ‘grayak’ yang persendian tangannya terbalik.
“Pergi sana”, bentak Atmo. Rambat kaget dengan sikap Atmo yang membebaskan kedua orang itu, bertanya dalam hati; kenapa tidak dihabisi saja. Kesal dengan sikap Atmo, Rambat menendang keras ‘grayak’ yang telah putus tangannya. Mengambil pistolnya yang tadi dilemparkan, sekaligus mengambil pistol yang masih dalam genggaman tangan terputus.
“Mandhek, gawanen iki tanganmu’, teriak Rambat sambil melemparkan potongan tangan. Pistolnya ia simpan.

Depot Es.
Minuman dingin dari bongkahan air yang membeku dipecah maupun diserut masih sangat langka. Segarnya ketika diminum membuat banyak orang ingin mencobanya. Penasaran rasanya, juga penasaran wujud es itu kaya apa. Laris manis tanjung kimpul, depot es Wien Nio tak pernah sepi dari pembeli. Dua hari libur tidak berpengaruh bagi para pelanggan juga orang orang baru yang ingin mencobanya. Yani sedikit pemalu namun cukup supel juga menghadapi para pembeli yang sesekali rada rada nakal menggodanya. Wien Nio yang meracik semua hidangan sangat trampil juga teliti saat menghitung jumlah harga waktu pembayaran. Ningsih mengerjakan segala sesuatunya di dapur, mempersiapkan bahan baku dan mencuci semua kelengkapan depot yang kotor. Bantuan Ningsih dan Yani mengisi celah kosong yang ditinggalkan papah dan mamahnya Wien Nio yang masih dalam perawatan di ‘balai pengobatan’. Kondisi terakhir mamah Wien Nio sudah siuman.
“Wien, bahan baku sudah habis’, kata Yani. Belum juga jam 3 sore, dagangan Wien Nio tinggal menyisakan beberapa potong kue.
“Iya Yan, tunggu sebentar lagi tutup’. Memang masih ada 3 pembeli yang masih duduk. Yani mengambili gelas gelas dan piring kosong sekaligus membersihkan meja diri tumpahan air es dan sisa makanan.
‘Maaf, sudah habis’, kata Yani yang terpaksa menolak pembeli. Wien Nio memberi uang kembalian pada tiga pembeli terakhir.
“Saatnya bersih bersih”, kata Wien Nio dengan rada kenes. Yani membuang sisa sisa minuman dan makanan kedalam ember sampah. Ningsih membersihkan dengan campuran jeruk nipis dan abu gosok. Wien Nio membilas, mengelapnya dan mengembalikan pad arak pecah belah.
“Ningsih, yak ampun Ningsih”, Wien Nio keheranan saat melihat Ningsih jongkok saat mencuci.
“Ada apa?’, tanya Ningsih yang belum tau apa yang membuat Wien Nio heran.
“Ada apa Wien?”, tanya Yani juga.
“Sini Yan berdiri di dekatku, perhatikan saat Ningsih mencuci”, ajak Wien Nio. Yani mendekati Wien Nio. Ningsih cuek saja karena tidak tahu apa yang jadi perhatian.
“Wuoh…”, pekik Yani sambil menutup mulutnya, berbalik mau mencubit Wien Nio sekeras kerasnya, tapi orangnya sudah masuk ke kamar. “Ningsih konyooollll saruuuuu”, teriak Wien Nio dari dalam kamar.
“Wien Nio kumat sarap ya’, Ningsih belum juga menyadari jadi bahan gurauan.
“Iya hahaha Wien Nio sarap saat melihat anu hahaha’,tawa Yani sambil jari menunjuk bagian selangkangan Ningsih saat jongkok.
“Wien Niooooo…..”, teriak Ningsih mengejar Wien Nio yang belum berhenti tertawa. Yani mengikutinya dengan tertawa juga. Wien Nio langsung berdiri dikasur dengan tangan memegang celana dalam dan mengancam Ningsih.
“Awas jangan naik tempat tidur, pakai dulu ini celana dalam”,ancamnya. Ningsih tak peduli dengan ancaman dan ditubruknya Wien Nio mengitik itiknya.
“Sudah sudah……”, teriak Wien Nio dengan nafas terengah engah.
“Makanya hari ini dagangan cepet habis, pembelinya laki laki semua”, kelakar Yani. Gantian, Yani dikeroyok Ningsih dan Wien Nio. Kamar tidur Wien Nio berantakan seperti habis tertembak peluru ‘mortir’.

Oleh: Gati Andoko

#Bersambung
Advertisement

Baca juga:

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar