Julukan Rambat Wedok memang tepat dialamatkan pada Ningsih. Tak bisa diam sabar menunggu. Gelisah tak karuan semenjak ditinggal sendirian di ‘gudang uyah’. Han Han belum juga kembali.
Keluar dari ‘gudang uyah’, Ningsih langsung ke rumah Wien Nio,senyap tak ada tanda tanda orang di dalam. Mencari Han Han di sepanjang jalan Tambakan yang barangkali sudah kembali. Nihil. Mau masuk pasar juga belum ada geliat jual beli. Ke setasiun, tinggal menyisakan dua warung buka remang remang. Males dikira perempuan yang sedang menjajakan daging mentahnya. Pulang ke rumah Kangkungan? Malu dengan dirinya sendiri. Jadilah Ningsih berjalan sendirian di malam menjelang pagi, tak tahu tujuan, mengisi kesepian sekaligus buang sebal. Melempar batu kearah warung remang setasiun, lari kearah Tambakan utara lantas ke timur himgga perempatan Sayangan. Kembali melempar batu lampu pos polisi yang sudah tidak terjaga. Balik lagi perempatan Sayangan belok kanan arah Muntilan-Dukun, dengan harapan bisa berpapasan dengan Han Han. Tidak berpapasan juga dengan Han Han, belok kanan melewati ‘kerkof’ dan jalanan utara Seminari Van Lith hingga ke kanan lagi melewati dusun PePe dan berhenti di dusun Jagalan. Mengamati sekitar yang sudah banyak orang jalan kaki dengan gendongan atau ‘pikulan’ barang jualan. Hari sudah pagi. Suara debur sungai Lamat sangat mengundang perhatian Ningsih. Air yang sangat bening mengalir deras menaiki bebatuan besar dan meluncur kebawah membuat jeram dengan buih buih putih menyembul naik. Cipratan butir air menyebar liar kesegala arah tinggi dan rendah. Ningsihpun serasa terpanggil dan menuruni tebing sungai Lamat. Kaki yang terasa panas kelelahan menjadi dingin sejuk seketika. Kedua tangganya mengambil air dan membasuhkan kemuka dan membasahi rambut hitam lebatnya. Rasa sebal semalaman hilang tersapu oleh kesegaran air sungai Lamat pagi hari. Dengan mengambil sisi pinggir sungai yang dangkal, Ningsih melangkahkan kakinya seolah mencari mata air hulu sungai Lamat. Mengalun juga senandung tembang ‘gambuh’ kesukaannya. Tak terasa sudah sampai belakang ‘balai pengobatan’. Teringat Wien Nio dan Yani yang sedang menunggui papah dan mamahnya Wien Nio. Muncul kenekadan untuk menemui Wien Nio dan Yani. Menaiki tebing , memanjat bebatuan menuju pintu belakang yang sering digunakan untuk membuang sampah. Pintu terkunci dari dalam. Mau menaiki tembok, terlalu tinggi lagian bagian atas tembok tertancap banyak pecahan beling. Satu satunya untuk bisa masuk, hanya penunggu petugas ‘balai pengobatan’ membuka pintu. Beruntung tak seberapa lama menunggu petugas ‘balai pengobatan’ membuang sampah pada bak yang berada di luar tembok. Petugas itu kaget saat melihat sosok gadis berdiri bersansar di tembok dengan baju yang basah.
“Heh sedang apa disini?’, tanya petugas sedikit membentak karena kaget.
“Saya Ningsih, mau menengok mamah dan papah sahabat saya”, jawab Ningsih memelas.
“Ini bukan jam kunjung, lagian kenapa lewat sini?’, tanya petugas lagi.
“Anu pak, sssoalnya dari depan ditutup”, jawab Ningsih sedikit gelagapan.
“Ya memang ditutup, orang masih sepagi ini”, kata petugas yang akhirnya merasa kasihan dengan Ningsih yang menggigil kedinginan. Ningsih diajaknya masuk dan disuruh menunggu di ruang jaga tukang bersih bersih kebun untuk menghindari kecurigaan. Tak sampai menunggu lama juga petugas itu bersama Yani dan Wien Nio. Melihat Ningsih yang sedang duduk, Wien Nio dan Yani lari menghampiri .
“Jangan sampai mengundang perhatian, sudah di situ saja ngobrolnya “, kata petugas yang langsung melanjutkan tugas tugasnya.
“Ningsih, bagaimana ada di sini?’, tanya Wien Nio dengan kepala diperban. Yani memeluk kepala Ningsigsih.
“Aku ditinggal sendirian di ‘gudang uyah’, papah dan mamah bagaimana?’. Ningsih justru balaik bertanya.
“Papah sudah siuman, sedang mamah masih belum sadarkan diri’, jawab Wien Nio. Ningsihpun bercerita apa adanya, semua dari awal ditinggal sendirian sampai sekarang ini. Wien Nio dan Yani senyum senyum mentertawakan kenekadan Ningsih.
“Dasar Rambat wedok, pasti tadi pake ngrayu ngrayu petugas ya’. Wien Nio menacairkan suasana. Yani menutup mulut menahan tawa.
“Kok malah bercanda, aku ini sedih kangen dengan kalian dan teman teman’, kata Ningsih ketus.
“Laki laki mana yang ndak dag dig dug melihatmu dengan pakaian basah seperti ini, lekuk tubuhmu itu lho, merangsang”, Wien Nio terus mencandai Ningsih.
“Sudahlah Wien, kasihan Ningsih”, bela Yani.
“Itu kalau ada laki laki Belanda yang melihat pasti langsung ‘enthungnya ndi lor ndi kidul’ wueekkk”, canda Wien Nio lebih parah. Ningsih bersiap membalas candaan Wien Nio dan bersiap mengili ngilik, namun Wien Nio sigap menutupi dada dengan kedua tangannya.
“Curang”, kata Ningsih ketus. Yani yang masih lugu terbengong dengan arah pembicaraan antara Ningsih dan Wien Nio
“Kok ‘enthung’ apa maksudnya?’, tanya Yani lugu.
“Duh Yani masa tidak tahu, belajar saja lebih banyak kehidupan ini berikut ‘tetek bengek’nya’, saran Wien Nio
“Lhoh itu kan yang sedang aku rasakan, dingin, jadi ya ttte-tek-ku bengek. Eh kok aku meledek diriku sendiri ya, Aiii…”, jerit Ningsih menyadari kekonyolannya. Tawa mereka terhenti setelah petugas ‘balai pengobatan’ dating mengingatkan agar tidak bikin gaduh.
Ningsih dan Yani diserahi kunci rumah Wien Nio untuk mandi dang anti baju, sekaligus diminta baju ganti Wien Nio yang diantarnya malam nanti, Wien Nio tetap tinggal di ‘balai pengobatan’. Dengan tetap menghindari orang orang Belanda Ningsih dan Yani keluar dari ‘balai pengobatan’ melalui pintu utama yang telah dibuka untuk umum. Baru saja keluar dari pintu utama dan halaman ‘balai pengobatan’, mata Ningsih menatap curiga pada sosok laki laki yang sedang berjalan jalan dijalanan depan ‘balai pengobatan’.
“Yan, laki laki itu”, bisik Ningsih. Yani yang tidak paham maksud Ninsih hanya menghentikan jalannya dan terbengong.
“Jangan berhenti ayo terus jalan”, bisik Ningsih lagi. Ningsih mengajak Yani untuk terus mengikuti laki laki yang terus jalan keselatan. Dengan tetap menghindar dari pandangan orang orang Belanda baik yang berpakaian tentara maupun sipil. Cukup banyak orang orang Belanda di sekitaran ‘balai pengobatan’. Yani masih tidak tahu apa maunya Ningsih dan terpaksa mengikuti. Laki laki yang dicurigai Ningsih sudah sampai ‘tugu wesi’ dan berjalan ke arah timur .
“Kenapa tidak ke rumah Wien Nio, sekalian mencari Han Han’, rajuk Yani.
“Ssssttt ikuti saja terus laki laki itu”, bisik Ningsih. Jaga jarak sekitar serratus meter Ningsih dan Yani mengikuti terus laki laki hingga perempatan Nosari berbelok ke kiri arah dusun Wonolelo.
“Aku pernah kerja di tempat Wien Nio, aku hafal baju yang dipakai oleh laki laki itu adalah baju kepunyaan papahnya Wien Nio”, kata Ningsih pula. Barulah Yani paham. Laki laki itu hilang dari pandangan setelah memasuki jalanan kampung Wonolelo. Namun demikian Ningsih terus mengajak Yani mencari. Benar benar kehilangan jejak. Jalan kampung Wonolelo terpaksa dimasuki ke arah utara, belok ke barat menysur jalan setapak yang kiri kanannya persawahan dengan tanaman padi yang mulai menguning. Tak tahunya Ningsih dan Yani sudah di pertigaan dudsun PePe, yang dilewati Ningsih pagi tadi. Tepat belakang Seminari Van Lith. Sekelebat bajunya saja laki laki tadi tidak tampak.
“Nek dolan ojo ngalor ngalor nduk”, pesan seorang Nenek yang sedang menggendong kayu bakar.
“Eh,… inggih mbah’, jawab Yani kaget.
“Wonten napa mbah?’, tanya Ningsih.
“Ojo mrono”, jawab Nenek singkat dan terus saja jalan kea rah timur. Ningsih dan Yani terbengong, bertanya tanya ada apa gerangan di daerah utara. Dasar Ningsih, Rambat Wedok kalau diingatkan justru penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi.
“Kenapa tidak ke rumah Wien Nio dulu, barangkali ketemu Han Han, bisa kita ajak kesitu”, rajuk Yani. Ngeyel. Ningsih memegang tangan Yani mengajaknya terus kea rah utara.
“Sudahlah Ningsih, tidak usah seperti ini pake diseret segala”, kata Yani.
“Makanya ikuti, jangan manja”, kata Ningsih sedikit gemes dengan tingkah Yani yang masih lugu. Ningsih tetap tidak melepaskan Tangan Yani. Tidak tahu datangnya dari mana, laki laki yang dicurigai Ningsih memakai baju milik papah Wien Nio mengangkat tubuh Yani dan memanggulnya, sementara kakinya menendang Ningsih hingga jatuh.
“Ningsih, tolong Ningsih….!’. Yani menjerit sejadi jadinya memanggil Ningsih. Tubuh kecilnya meronta ronta namun tetap tak kuasa dengan kekuatan laki laki yang terus memanggul Yani di pundakanya lari ke utara. Ningsih mengejarnya. Sekitar 1 km laki laki yang membawa Yani berbelok kiri lewat pematang sawah dan kemudian masuk rumah ‘limasan’ yang cukup besar.
“Sarapan”, teriak laki laki itu begitu memasuki rumah yang sudah ada tiga orang; satu bertelanjang dada, satu memakai sarung dan satunya sedang mengelap elap pistolnya.
“Nek iki jyaannn, nangka ‘nyadam’,(setengah matang)”, jawab yang memakai sarung. Yani dilemparkan begitu saja pada laki laki yang memakai sarung, dipeluknya erat erat tubuh mungil Yani. Teriakan Yani tak berpengaruh. Tetangga juga jauh jauh. Ningsih nekat masuk rumah yang masih dibuka.
“Lepaskan temanku”, bentak Ningsih.
“Aiii….rejeki nomplok, teka dewe”,kata yang bertelanjang dada. Laki laki yang sedang ngelap elap pistol meletakkan pistolnya dan mendekati Ningsih.
“Aku milih sing galak”, katanya. Ningsih menatap semua laki laki yang ada dalam rumah satu satu. Yani yang dibekap mulutnya tak bisa bergerak. Tiba tiba laki laki yang bertelanjang dada menutup pintu dan menguncinya.
“Mending sing galak iki digarap dhisik bareng bareng, nek sing siji gampang urusane”, tambahnya. Ningsih ngamuk apa yang ada disekitar dilempar lemparnya. Apalah daya, laki laki bertelanjang dada itu dengan mudah menangkap tangan Ningsih menarik dan memeluknya. Mulut Ningsih dibekapnya dan ditidurkan sambil ditindih tubuhnya, Yani yang melihat Ningsih berada dalam titik kritis, melemaskan tubuhnya dari laki laki bersarung, tangan bergerak pelan pelan, memegang jempol tangan laki laki itu. Sementara laki laki yang sedang mendekap Yani tengah menahan air liur karena melihat temannya yang mau mengerjai Ningsih, tidak sadar kalau Yani mulai beraksi. Jerit melengking tinggi laki laki yang mendekap Yani melebihi jeritan Ningsih. Jempol tangan kirinya patah. Dekapannya terlepas. Dengan siku tangan kanannya Yani menghantam tepat jakun laki laki itu. Suara cekik nafas terhenti seketika, Yani meraih sapu ijuk bergagang bambu dipatahkannya dan dilemparkan kearah laki laki yang tadi membawanya lari. Bagian ulu hati tertembus gagang sapu. Laki laki pemilik pistol segera meraih pistol yang tadi sempat diletakkan namun kedahuluan Yani yang melompat menendang tangannya hingga pistol terlempar dan jakun laki laki itu sudah dalam cengeraman tangan Yani. Tangan Yani sedikit menderorong, memperkuat cengkeramannya kuat kuat dan menariknya. Terkapar. Tinggal satu orang yang menindih tubuh Ningsih, Melihat ketiga temannya tewas mengenaskan,gemetaran melepas tubuh Ningsih, berdiri, bergeser badannya menempel papan rumah kayu. Ningsih yang masih ketakutan hanya duduk mendekap kedua lututnya.
“Tunjukkan kelaki lakianmu”, tantang Yani sambil memegang sapu lidi. Laki laki itu melirik ke arah pedang yang tergeletak. Ningsih meskipun masih gemetaran membaca mata laki laki yang sempat menindihnya, meraih pedang, melepas dari sarungnya dan siapmengayukan ke tubuh laki laki itu.
“Ningsiih”, teriak Yani. Ningsing mengurungkan niatnya untuk menebas.
“Jangan jadikan kematian begitu mudah”, kata Yani sambil melepas tali ikatan sapu lidi dan mengambil segenggam di tangan kiri dan ratu lidi yang sudah dipatahkan ujungnya. Laki laki itu seperti sudah menyerah dan hanya menyandarkan tubuhnya pada papan rumah. Ningsih yang tidak tau apa yang mau dilakukan Yani berdiam dengan pedang ditangannya. Ningsih juga membatin, sepertinya Yani selama ini menyembunyikan kemampuannya. Malu! Yani melompat di tempat memutar tubuhnya melesatkan sapu lidi di tangan kanannya, tepat mengenai mata kiri laki laki itu. Patahan lidi itu menancap sangat dalam. Cukup sudah. Yani membuang segenggam lidi di tangan kirinya dan mengajak Ninsih pergi. Ningsih yang masih tidak terima, mendekat dan membabatkan pedang tepat di selangkanganan laki laki itu. Yani dan Ningsih segera meninggalkan rumah , berjalan melewati pematang sawah dan menuruni tebing, menyeberangi sungai. Membasuh tangan, muka dan membasahi rambutnya. Jalan lagi menjuju rumah Wien Nio.
“Tolong, jangan bilang pada siapaun apa yang telah aku lakukan tadi, janji ya”, kata Yani yang memohon Ningsih agar tidak bercerita pada siapapun. Ningsih mengangguk.
Pasar.
Han Han duduk ditengah keramaian pasar.Tertidur.Capek, mencari Ningsih dari malam sampai menjelang siang. Bingung? Tentu saja. Sedih? Kesedihan sudah teramat biasa. Kebahagiaan sedang berpihak belum pada dirinya. Tapi, ini juga yang sedang dirasakan alam jiwanya, tidak menghidar dari kesedihan melainkan menerima kesedihan itu sendiri. Semegah apapun rumahnya, jika tidur tidak pernah nyenyak, adalah sia sia. Yah, Han Han sedang tidur nyenyak sekali, meski di tengah lalu-lalang silang kaki depan dan belakang tak ubaahnya suara petikan ‘guzheng’ mengiringi bidadari yang sedang menari di atas bunga teratai. Kalau saja bisa masuk menyelami mimpi, pastilah kita bersama dalam keceriaan dan keindahan mimpi Han Han.
“Mamah”, teriak Han Han. Beruntung pasar sudah sepi. Sepertinya Han Han sedang terbangun dari mimpi. Mengusap wajah dengan kedua tangannya. Tengok kanan kiri tidak ada orang. Beranjak berdiri Han Han dari ruang sempit los penjual alat alat pertanian. Keluar pasar melalui pintu gerbang utama, yang sedikit berjinjit fondasi rumah Wien Nio sudah kelihatan. Sepertinya ada orang di dalam rumah. Setengah berlari menuju depan rumah, dan mencoba mengintip melalui rongga bilah bilah papan depot.
“Wie Nio”, panggil Han Han sambil mengetuk pintu. Pintu dibuka.
“Aachh…sialan kamu Ningsih”, gerutu Han Han begitu melihat orang yang membukakan pintu adalah Ningsih. Han Han memasuki rumah dan masih mngerutu, ngedumel dalam hati. Ningsih senyam senyum melihat wajah Han Han yang sedang ngedumel dalam hati.
“Wien Nio sedang mandi?’, tanya Han Han.
“Bukan, itu Yani, Wien Nio masih di ‘balai pengobatan’, jawab Ningsish. Ningsih minta maaf pada Han Han atas kelakuannya. Han Han-pun tidak marah sama sekali yang penting tidak terjadi sesuatu yang buruk.
“Oh hampir itu”, kata Ningsih.
“Ningsih”, teriak Yani dari kamar Mandi.
“Maksudnya kamu hampir selesai mandi”, teriak Ningsih yang hampir ketrucut menyinggung kejadian buruk. “Han Han mau pipis”, tambahnya. Han Han kaget dan menonyol jidat Ningsih dengan omongan ngawurnya. Tak seberapa lama Yani keluar dari kamar mandi, menggunakan pakaian milik Wien Nio berwarna merah bata. Cantik sekali.
“Ah melihat gadi cantik seperti Yani ini jadi kebelet pipis beneran”, canda Han Han dan langsung menuju kamar kecil.
“Hoiiii…punya Mardi”, teriak Ningsih. Yani mencubit lengan Ningsih.
“Namanya juga mengagumi itu hak siapa saja, iya kan Yan, Rambat juga mengagumi kambing betina juga ndak papa”,balas Han Han dari dalam kamar kecil. Han Han keluar dan Ningsih gantian mandi. Suara ‘gebyar gebyur’ Ningsih mandi terdengar , disusul senandung tembang ‘gambuh’ dari mulut Ningsih.
“Ini Han Han kebelet pipis lagi, sudah didepan pintu’, canda Yani meneriaki Ningsih.
“Au”, jerit Ningsih. Yani tertawa demikian juga Han Han. Belum selesai tertawanya tiba tiba Wien Nio masuk dan bergegas ke kamar mandi. Han Han dan Yani tak sempat mencegahnya. Pintu dibuka. Tidak dikunci. Jerit melengking keluar dari mulut Ningsih.
“Ningsih, kok ndak dikunci, kebelet aku”, kata Wien Nio terperangah melihat Ningsih telanjang bulat sedang kedua tangan menutupi matanya. Malu. Sontak, Wien Nio masuk dan jongkok, pipis, lupa belum mencopot celananya. Han Han dan Yani yang memang tidak melihat kejadian itu melanjutkan obrolannya. Terdengar suara dari kamar mandi tawa ngakak Ningsih dan Wien Nio.
#Bersambung.
Oleh: Gati Andoko
14 November pukul 21.48
CO PATRIOT XII
#OperasiKerbauTanah IV
Keluar dari ‘gudang uyah’, Ningsih langsung ke rumah Wien Nio,senyap tak ada tanda tanda orang di dalam. Mencari Han Han di sepanjang jalan Tambakan yang barangkali sudah kembali. Nihil. Mau masuk pasar juga belum ada geliat jual beli. Ke setasiun, tinggal menyisakan dua warung buka remang remang. Males dikira perempuan yang sedang menjajakan daging mentahnya. Pulang ke rumah Kangkungan? Malu dengan dirinya sendiri. Jadilah Ningsih berjalan sendirian di malam menjelang pagi, tak tahu tujuan, mengisi kesepian sekaligus buang sebal. Melempar batu kearah warung remang setasiun, lari kearah Tambakan utara lantas ke timur himgga perempatan Sayangan. Kembali melempar batu lampu pos polisi yang sudah tidak terjaga. Balik lagi perempatan Sayangan belok kanan arah Muntilan-Dukun, dengan harapan bisa berpapasan dengan Han Han. Tidak berpapasan juga dengan Han Han, belok kanan melewati ‘kerkof’ dan jalanan utara Seminari Van Lith hingga ke kanan lagi melewati dusun PePe dan berhenti di dusun Jagalan. Mengamati sekitar yang sudah banyak orang jalan kaki dengan gendongan atau ‘pikulan’ barang jualan. Hari sudah pagi. Suara debur sungai Lamat sangat mengundang perhatian Ningsih. Air yang sangat bening mengalir deras menaiki bebatuan besar dan meluncur kebawah membuat jeram dengan buih buih putih menyembul naik. Cipratan butir air menyebar liar kesegala arah tinggi dan rendah. Ningsihpun serasa terpanggil dan menuruni tebing sungai Lamat. Kaki yang terasa panas kelelahan menjadi dingin sejuk seketika. Kedua tangganya mengambil air dan membasuhkan kemuka dan membasahi rambut hitam lebatnya. Rasa sebal semalaman hilang tersapu oleh kesegaran air sungai Lamat pagi hari. Dengan mengambil sisi pinggir sungai yang dangkal, Ningsih melangkahkan kakinya seolah mencari mata air hulu sungai Lamat. Mengalun juga senandung tembang ‘gambuh’ kesukaannya. Tak terasa sudah sampai belakang ‘balai pengobatan’. Teringat Wien Nio dan Yani yang sedang menunggui papah dan mamahnya Wien Nio. Muncul kenekadan untuk menemui Wien Nio dan Yani. Menaiki tebing , memanjat bebatuan menuju pintu belakang yang sering digunakan untuk membuang sampah. Pintu terkunci dari dalam. Mau menaiki tembok, terlalu tinggi lagian bagian atas tembok tertancap banyak pecahan beling. Satu satunya untuk bisa masuk, hanya penunggu petugas ‘balai pengobatan’ membuka pintu. Beruntung tak seberapa lama menunggu petugas ‘balai pengobatan’ membuang sampah pada bak yang berada di luar tembok. Petugas itu kaget saat melihat sosok gadis berdiri bersansar di tembok dengan baju yang basah.
“Heh sedang apa disini?’, tanya petugas sedikit membentak karena kaget.
“Saya Ningsih, mau menengok mamah dan papah sahabat saya”, jawab Ningsih memelas.
“Ini bukan jam kunjung, lagian kenapa lewat sini?’, tanya petugas lagi.
“Anu pak, sssoalnya dari depan ditutup”, jawab Ningsih sedikit gelagapan.
“Ya memang ditutup, orang masih sepagi ini”, kata petugas yang akhirnya merasa kasihan dengan Ningsih yang menggigil kedinginan. Ningsih diajaknya masuk dan disuruh menunggu di ruang jaga tukang bersih bersih kebun untuk menghindari kecurigaan. Tak sampai menunggu lama juga petugas itu bersama Yani dan Wien Nio. Melihat Ningsih yang sedang duduk, Wien Nio dan Yani lari menghampiri .
“Jangan sampai mengundang perhatian, sudah di situ saja ngobrolnya “, kata petugas yang langsung melanjutkan tugas tugasnya.
“Ningsih, bagaimana ada di sini?’, tanya Wien Nio dengan kepala diperban. Yani memeluk kepala Ningsigsih.
“Aku ditinggal sendirian di ‘gudang uyah’, papah dan mamah bagaimana?’. Ningsih justru balaik bertanya.
“Papah sudah siuman, sedang mamah masih belum sadarkan diri’, jawab Wien Nio. Ningsihpun bercerita apa adanya, semua dari awal ditinggal sendirian sampai sekarang ini. Wien Nio dan Yani senyum senyum mentertawakan kenekadan Ningsih.
“Dasar Rambat wedok, pasti tadi pake ngrayu ngrayu petugas ya’. Wien Nio menacairkan suasana. Yani menutup mulut menahan tawa.
“Kok malah bercanda, aku ini sedih kangen dengan kalian dan teman teman’, kata Ningsih ketus.
“Laki laki mana yang ndak dag dig dug melihatmu dengan pakaian basah seperti ini, lekuk tubuhmu itu lho, merangsang”, Wien Nio terus mencandai Ningsih.
“Sudahlah Wien, kasihan Ningsih”, bela Yani.
“Itu kalau ada laki laki Belanda yang melihat pasti langsung ‘enthungnya ndi lor ndi kidul’ wueekkk”, canda Wien Nio lebih parah. Ningsih bersiap membalas candaan Wien Nio dan bersiap mengili ngilik, namun Wien Nio sigap menutupi dada dengan kedua tangannya.
“Curang”, kata Ningsih ketus. Yani yang masih lugu terbengong dengan arah pembicaraan antara Ningsih dan Wien Nio
“Kok ‘enthung’ apa maksudnya?’, tanya Yani lugu.
“Duh Yani masa tidak tahu, belajar saja lebih banyak kehidupan ini berikut ‘tetek bengek’nya’, saran Wien Nio
“Lhoh itu kan yang sedang aku rasakan, dingin, jadi ya ttte-tek-ku bengek. Eh kok aku meledek diriku sendiri ya, Aiii…”, jerit Ningsih menyadari kekonyolannya. Tawa mereka terhenti setelah petugas ‘balai pengobatan’ dating mengingatkan agar tidak bikin gaduh.
Ningsih dan Yani diserahi kunci rumah Wien Nio untuk mandi dang anti baju, sekaligus diminta baju ganti Wien Nio yang diantarnya malam nanti, Wien Nio tetap tinggal di ‘balai pengobatan’. Dengan tetap menghindari orang orang Belanda Ningsih dan Yani keluar dari ‘balai pengobatan’ melalui pintu utama yang telah dibuka untuk umum. Baru saja keluar dari pintu utama dan halaman ‘balai pengobatan’, mata Ningsih menatap curiga pada sosok laki laki yang sedang berjalan jalan dijalanan depan ‘balai pengobatan’.
“Yan, laki laki itu”, bisik Ningsih. Yani yang tidak paham maksud Ninsih hanya menghentikan jalannya dan terbengong.
“Jangan berhenti ayo terus jalan”, bisik Ningsih lagi. Ningsih mengajak Yani untuk terus mengikuti laki laki yang terus jalan keselatan. Dengan tetap menghindar dari pandangan orang orang Belanda baik yang berpakaian tentara maupun sipil. Cukup banyak orang orang Belanda di sekitaran ‘balai pengobatan’. Yani masih tidak tahu apa maunya Ningsih dan terpaksa mengikuti. Laki laki yang dicurigai Ningsih sudah sampai ‘tugu wesi’ dan berjalan ke arah timur .
“Kenapa tidak ke rumah Wien Nio, sekalian mencari Han Han’, rajuk Yani.
“Ssssttt ikuti saja terus laki laki itu”, bisik Ningsih. Jaga jarak sekitar serratus meter Ningsih dan Yani mengikuti terus laki laki hingga perempatan Nosari berbelok ke kiri arah dusun Wonolelo.
“Aku pernah kerja di tempat Wien Nio, aku hafal baju yang dipakai oleh laki laki itu adalah baju kepunyaan papahnya Wien Nio”, kata Ningsih pula. Barulah Yani paham. Laki laki itu hilang dari pandangan setelah memasuki jalanan kampung Wonolelo. Namun demikian Ningsih terus mengajak Yani mencari. Benar benar kehilangan jejak. Jalan kampung Wonolelo terpaksa dimasuki ke arah utara, belok ke barat menysur jalan setapak yang kiri kanannya persawahan dengan tanaman padi yang mulai menguning. Tak tahunya Ningsih dan Yani sudah di pertigaan dudsun PePe, yang dilewati Ningsih pagi tadi. Tepat belakang Seminari Van Lith. Sekelebat bajunya saja laki laki tadi tidak tampak.
“Nek dolan ojo ngalor ngalor nduk”, pesan seorang Nenek yang sedang menggendong kayu bakar.
“Eh,… inggih mbah’, jawab Yani kaget.
“Wonten napa mbah?’, tanya Ningsih.
“Ojo mrono”, jawab Nenek singkat dan terus saja jalan kea rah timur. Ningsih dan Yani terbengong, bertanya tanya ada apa gerangan di daerah utara. Dasar Ningsih, Rambat Wedok kalau diingatkan justru penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi.
“Kenapa tidak ke rumah Wien Nio dulu, barangkali ketemu Han Han, bisa kita ajak kesitu”, rajuk Yani. Ngeyel. Ningsih memegang tangan Yani mengajaknya terus kea rah utara.
“Sudahlah Ningsih, tidak usah seperti ini pake diseret segala”, kata Yani.
“Makanya ikuti, jangan manja”, kata Ningsih sedikit gemes dengan tingkah Yani yang masih lugu. Ningsih tetap tidak melepaskan Tangan Yani. Tidak tahu datangnya dari mana, laki laki yang dicurigai Ningsih memakai baju milik papah Wien Nio mengangkat tubuh Yani dan memanggulnya, sementara kakinya menendang Ningsih hingga jatuh.
“Ningsih, tolong Ningsih….!’. Yani menjerit sejadi jadinya memanggil Ningsih. Tubuh kecilnya meronta ronta namun tetap tak kuasa dengan kekuatan laki laki yang terus memanggul Yani di pundakanya lari ke utara. Ningsih mengejarnya. Sekitar 1 km laki laki yang membawa Yani berbelok kiri lewat pematang sawah dan kemudian masuk rumah ‘limasan’ yang cukup besar.
“Sarapan”, teriak laki laki itu begitu memasuki rumah yang sudah ada tiga orang; satu bertelanjang dada, satu memakai sarung dan satunya sedang mengelap elap pistolnya.
“Nek iki jyaannn, nangka ‘nyadam’,(setengah matang)”, jawab yang memakai sarung. Yani dilemparkan begitu saja pada laki laki yang memakai sarung, dipeluknya erat erat tubuh mungil Yani. Teriakan Yani tak berpengaruh. Tetangga juga jauh jauh. Ningsih nekat masuk rumah yang masih dibuka.
“Lepaskan temanku”, bentak Ningsih.
“Aiii….rejeki nomplok, teka dewe”,kata yang bertelanjang dada. Laki laki yang sedang ngelap elap pistol meletakkan pistolnya dan mendekati Ningsih.
“Aku milih sing galak”, katanya. Ningsih menatap semua laki laki yang ada dalam rumah satu satu. Yani yang dibekap mulutnya tak bisa bergerak. Tiba tiba laki laki yang bertelanjang dada menutup pintu dan menguncinya.
“Mending sing galak iki digarap dhisik bareng bareng, nek sing siji gampang urusane”, tambahnya. Ningsih ngamuk apa yang ada disekitar dilempar lemparnya. Apalah daya, laki laki bertelanjang dada itu dengan mudah menangkap tangan Ningsih menarik dan memeluknya. Mulut Ningsih dibekapnya dan ditidurkan sambil ditindih tubuhnya, Yani yang melihat Ningsih berada dalam titik kritis, melemaskan tubuhnya dari laki laki bersarung, tangan bergerak pelan pelan, memegang jempol tangan laki laki itu. Sementara laki laki yang sedang mendekap Yani tengah menahan air liur karena melihat temannya yang mau mengerjai Ningsih, tidak sadar kalau Yani mulai beraksi. Jerit melengking tinggi laki laki yang mendekap Yani melebihi jeritan Ningsih. Jempol tangan kirinya patah. Dekapannya terlepas. Dengan siku tangan kanannya Yani menghantam tepat jakun laki laki itu. Suara cekik nafas terhenti seketika, Yani meraih sapu ijuk bergagang bambu dipatahkannya dan dilemparkan kearah laki laki yang tadi membawanya lari. Bagian ulu hati tertembus gagang sapu. Laki laki pemilik pistol segera meraih pistol yang tadi sempat diletakkan namun kedahuluan Yani yang melompat menendang tangannya hingga pistol terlempar dan jakun laki laki itu sudah dalam cengeraman tangan Yani. Tangan Yani sedikit menderorong, memperkuat cengkeramannya kuat kuat dan menariknya. Terkapar. Tinggal satu orang yang menindih tubuh Ningsih, Melihat ketiga temannya tewas mengenaskan,gemetaran melepas tubuh Ningsih, berdiri, bergeser badannya menempel papan rumah kayu. Ningsih yang masih ketakutan hanya duduk mendekap kedua lututnya.
“Tunjukkan kelaki lakianmu”, tantang Yani sambil memegang sapu lidi. Laki laki itu melirik ke arah pedang yang tergeletak. Ningsih meskipun masih gemetaran membaca mata laki laki yang sempat menindihnya, meraih pedang, melepas dari sarungnya dan siapmengayukan ke tubuh laki laki itu.
“Ningsiih”, teriak Yani. Ningsing mengurungkan niatnya untuk menebas.
“Jangan jadikan kematian begitu mudah”, kata Yani sambil melepas tali ikatan sapu lidi dan mengambil segenggam di tangan kiri dan ratu lidi yang sudah dipatahkan ujungnya. Laki laki itu seperti sudah menyerah dan hanya menyandarkan tubuhnya pada papan rumah. Ningsih yang tidak tau apa yang mau dilakukan Yani berdiam dengan pedang ditangannya. Ningsih juga membatin, sepertinya Yani selama ini menyembunyikan kemampuannya. Malu! Yani melompat di tempat memutar tubuhnya melesatkan sapu lidi di tangan kanannya, tepat mengenai mata kiri laki laki itu. Patahan lidi itu menancap sangat dalam. Cukup sudah. Yani membuang segenggam lidi di tangan kirinya dan mengajak Ninsih pergi. Ningsih yang masih tidak terima, mendekat dan membabatkan pedang tepat di selangkanganan laki laki itu. Yani dan Ningsih segera meninggalkan rumah , berjalan melewati pematang sawah dan menuruni tebing, menyeberangi sungai. Membasuh tangan, muka dan membasahi rambutnya. Jalan lagi menjuju rumah Wien Nio.
“Tolong, jangan bilang pada siapaun apa yang telah aku lakukan tadi, janji ya”, kata Yani yang memohon Ningsih agar tidak bercerita pada siapapun. Ningsih mengangguk.
Pasar.
Han Han duduk ditengah keramaian pasar.Tertidur.Capek, mencari Ningsih dari malam sampai menjelang siang. Bingung? Tentu saja. Sedih? Kesedihan sudah teramat biasa. Kebahagiaan sedang berpihak belum pada dirinya. Tapi, ini juga yang sedang dirasakan alam jiwanya, tidak menghidar dari kesedihan melainkan menerima kesedihan itu sendiri. Semegah apapun rumahnya, jika tidur tidak pernah nyenyak, adalah sia sia. Yah, Han Han sedang tidur nyenyak sekali, meski di tengah lalu-lalang silang kaki depan dan belakang tak ubaahnya suara petikan ‘guzheng’ mengiringi bidadari yang sedang menari di atas bunga teratai. Kalau saja bisa masuk menyelami mimpi, pastilah kita bersama dalam keceriaan dan keindahan mimpi Han Han.
“Mamah”, teriak Han Han. Beruntung pasar sudah sepi. Sepertinya Han Han sedang terbangun dari mimpi. Mengusap wajah dengan kedua tangannya. Tengok kanan kiri tidak ada orang. Beranjak berdiri Han Han dari ruang sempit los penjual alat alat pertanian. Keluar pasar melalui pintu gerbang utama, yang sedikit berjinjit fondasi rumah Wien Nio sudah kelihatan. Sepertinya ada orang di dalam rumah. Setengah berlari menuju depan rumah, dan mencoba mengintip melalui rongga bilah bilah papan depot.
“Wie Nio”, panggil Han Han sambil mengetuk pintu. Pintu dibuka.
“Aachh…sialan kamu Ningsih”, gerutu Han Han begitu melihat orang yang membukakan pintu adalah Ningsih. Han Han memasuki rumah dan masih mngerutu, ngedumel dalam hati. Ningsih senyam senyum melihat wajah Han Han yang sedang ngedumel dalam hati.
“Wien Nio sedang mandi?’, tanya Han Han.
“Bukan, itu Yani, Wien Nio masih di ‘balai pengobatan’, jawab Ningsish. Ningsih minta maaf pada Han Han atas kelakuannya. Han Han-pun tidak marah sama sekali yang penting tidak terjadi sesuatu yang buruk.
“Oh hampir itu”, kata Ningsih.
“Ningsih”, teriak Yani dari kamar Mandi.
“Maksudnya kamu hampir selesai mandi”, teriak Ningsih yang hampir ketrucut menyinggung kejadian buruk. “Han Han mau pipis”, tambahnya. Han Han kaget dan menonyol jidat Ningsih dengan omongan ngawurnya. Tak seberapa lama Yani keluar dari kamar mandi, menggunakan pakaian milik Wien Nio berwarna merah bata. Cantik sekali.
“Ah melihat gadi cantik seperti Yani ini jadi kebelet pipis beneran”, canda Han Han dan langsung menuju kamar kecil.
“Hoiiii…punya Mardi”, teriak Ningsih. Yani mencubit lengan Ningsih.
“Namanya juga mengagumi itu hak siapa saja, iya kan Yan, Rambat juga mengagumi kambing betina juga ndak papa”,balas Han Han dari dalam kamar kecil. Han Han keluar dan Ningsih gantian mandi. Suara ‘gebyar gebyur’ Ningsih mandi terdengar , disusul senandung tembang ‘gambuh’ dari mulut Ningsih.
“Ini Han Han kebelet pipis lagi, sudah didepan pintu’, canda Yani meneriaki Ningsih.
“Au”, jerit Ningsih. Yani tertawa demikian juga Han Han. Belum selesai tertawanya tiba tiba Wien Nio masuk dan bergegas ke kamar mandi. Han Han dan Yani tak sempat mencegahnya. Pintu dibuka. Tidak dikunci. Jerit melengking keluar dari mulut Ningsih.
“Ningsih, kok ndak dikunci, kebelet aku”, kata Wien Nio terperangah melihat Ningsih telanjang bulat sedang kedua tangan menutupi matanya. Malu. Sontak, Wien Nio masuk dan jongkok, pipis, lupa belum mencopot celananya. Han Han dan Yani yang memang tidak melihat kejadian itu melanjutkan obrolannya. Terdengar suara dari kamar mandi tawa ngakak Ningsih dan Wien Nio.
#Bersambung.
Oleh: Gati Andoko
CO PATRIOT XII
#OperasiKerbauTanah IV






