“Sikkaaakk…..!’, pisuh Rambat.
Tidak biasanya Rambat ‘misuh’ memaki lirih, barangkali karena penghormatannya pada saudara saudara China yang beberapa masih berdoa di balik tembok ‘gudang uyah’ atau justru beban kemarahan yang teramat berat, setelah mendapat laporan Han Han, Mardi, Kholili dan Ningsih sepulangnya dari rumah Wien Nio. Hanya berempat yang kembali ke ‘gudang uyah’ itupun tergesa karena banyaknya tentara berada depan rumah Wien Nio. Diceritakan kronologi kejadiannya, sepulang dari Klentheng Wien Nio bersama kedua orang tuanya melihat pintu rumahnya sedikit terbuka tak terkunci, sedang diluaran terlihat beberapa orang yang tidak dikenalnya. Tidak curiga, barangkali Wien Nio lupa mengunci pintu, juga tidak menaruh curiga dengan orang orang yang berdiri di luaran. Mamah Wien Nio membuka lebar pintu rumah yang tak terkunci menjerit dan terhenti ketika perutnya ditusuk orang dari dalam rumah, sementara orang orang yang berada di luaran mengeroyok papah Wien Nio. Papah Wien Nio roboh dengan luka sabetan pedang di punggungnya. Wien Nio tak kuasa mencoba melawan, sabetan pedang mengarah ke perutnya, beruntung hanya mengenai baju namun Wien Nio terjatuh dan kepalanya terbentur batu. Segerombolan rampok lari kearah setasiun dengan membawa uang, perhiasan , pakaian juga makanan matang yang memang disiapakan untuk pesta Imlek. Warga China seperjalanan pulang dari Klentheng berlarian ketakutan namun ada juga yang mencoba menolong membawanya ke ‘balai pengobatan’ yang didirikan oleh Pastor Van Lith th 1925. Yani menemani Wien Nio ke ‘balai pengobatan’ dan bersama menunggui papah dan mamah Wien Nio yang ditangani oleh dokter satu satunya, yakni dokter Gondo Soemekto.
“ Kudu mbales”, kata Rambat geram.
“Mbales sapa”, sahut Kholili sambil matanya melotot kearah Rambat yang sudah mulai serampangan berpikirnya. Atmo, Mardi dan Han Han yang hafal dengan tingkah Rambat dan Kholili uma menggerutu dalam hati dan bingung apa yang mau dilakukannya. Buntu!. Ningsih cenderung mengiyakan pendapat Rambat. Pak Bendhol dan kelima ‘geng rewo rewo’ mencoba memecah kebuntuan.
“Kalau harus aku jelaskan akan memeakan waktu lama, bisakah kita mendahului perjalanan mereka dan kita cegat’, kata salah satu ‘geng rewo rewo’ rewo karena kejadian sudah lewat hamper dua jam. Han Han yang masih terbawa suasana Imlek dengan beberapa pantangan dalam keyakinannya tampak sekali sedang menghadapi kebimbangan.
“Aku bisa pinjam mobil, tapi….”, kata Han Han ragu ragu.
“Aku paham Han, kamu dan Ningsih tidak usah ikut dulu, justru malah menemani Wien Nio nantinya”, kata Mardi. Han Han benar benar bingung dihadapkan dua pilihan yang sangat berat, ikut bergabung dengan teman temannya atau menghormati keyakinannya yang begitu dalam sudah merasuk dalam jiwa bangsa yang telah melahirkannya.
“Kang Atmo, kata Yani ini lebih baik kang Atmo yang bawa”, kata Ningsih sambil menyerahkan pisau kecil pada Atmo. Han Han semakin gelisah begitu teman temannya setuju dan bersiap melakukan pencegatan. Dengan berat hati Han Han bergegas mengambil mobil yang habis digunakan untuk membawa papah dan mamah Wien Nio punya tetangga di Tambakan. Ningsih, berjaga sendirian di ‘gudang uyah’ sementara. Atmo, Mardi, Kholili, Rambat dan pak Bendhol berikut teman temannya bergerak menuju jalan Muntilan-Dukun di Sleko. Berangkatlah ke utara menuju pasar Talun. Sepanjang perjalanan itu, dijelaskan oleh pak Bendhol dan teman temannya melakukan hal ini. Dari barang yang dirampok terutama ada pakaian dan makananan sangat diyakini bahwa mereka ini para ‘grayak’ yang tinggal di lereng gunung Merapi dan Merbabu. Seperti yang sudah sedikit dijelaskan, mereka inilah anak buah Soeradi Bledhek yang sejak tahun 1946 sudah melakukan aksinya di daerah Karesidenan Surakarta. Akhirnya bertambah dan bertambah dan terbagi bagi menjadi beberapa wilayah operasi yang dipimpin oleh bawahan Soeradi Bledhek yang dianggap ‘mumpuni’ (berkemampuan lebih).
“Kita sekedar berjaga dan menunjukkan agar mereka tidak mudah leluasa menjarah Muntilan”, kata pak Bendhol sambil memijit mijit pipi kirinya yang masih sakit karena gigi giginya rontok juga karena goncangan mobil akibat jalanan tidak rata. Atmo mengangguk anggukan kepala, mengingat orang ornang yang sering keluar masuk desa Ngadirojo persis sebelah utara Seminari Van Lith.
“Pastinya, sudah masuk “wukul wukul” yang lama berkeliaran untuk memata matai rumah siapa yang mau dirampok’, tambah pak Bendhol. Kembali ingatan Atmo pada orang orang yang dimungkinkan tinggal di Ngadirojo. Dugaan yang sangat masuk akal. Menurut informasi yang didengar oleh teman teman geng ‘rewo rewo’, dimungkinkan mereka para ‘grayak’ yang beroperasi di daerah Magelang- Muntilan tinggal bersama penduduk di daerah Selo, dipimpin oleh seorang “wukul wukul’ yang naik pangkat menjadi seorang tetua bernama Moeltajat. Berat! Disatu pihak mereka para ‘grayak’ dianggap sebagai ‘ratu adil’ yang melindungi warga tempat dimana mereka tinggali sekaligus membagi bagikan harta hasil rampokan dipihak lain mereka teramat kejam pada korban korbannya. Mereka tak segan segan membasuh muka dengan darah korban yang dibununhnya sekaligus diminumnya. Mendengar kalimat ‘minum darah’, Rambat merasa mual, membuka pintu mobil dan tengkurap dengan kepala keluar mobil, muntah sejadi jadinya.
“Jiancuk tenan arek iki, krungu getih wae ‘mukok’ (muntah)’, sindir Kholili.
“Matamu, aku lagi pisan iki numpak ‘oto’ (mobil)”, jawab Rambat disusul tawa diantara mereka.
“Gaeane nembak ndas Londo, lha kok krungu getih ae mabuk”, lagi lagi Kholili mengejeknya.
“Matamu maneh,hoeekkk”. Rambat terus muntah sejak melewati desa Banyubiru. Pak Bendhol yang tidak menaruh dendam sama sekali pada Rambat membantu mengurut leher Rambat bagian belakang. Mardi yang melihat untahan Rambat yang sangat banyak menyusul mual perutnya dan muntah muntah sepanjang perjalanan tersisa.
Lewat tengah malam. Sampai pasar Talun yang belum ada ada tanda tanda aktifitas. Gelap dan dingin. Mardi dan Rambat turun dari dari mobil dibantu Han Han yang keluar dari mobil lebih dulu dari pintu sopir.disusul 8 orang kemudian.
“Han, tolong amati gerak gerik orang orang yang keluar masuk desa Ngadirojo, barangkali ada hubungannya”, bisik Atmo. Han Han menepuk pundak Atmo mengiyakan.
“Kalau ndak kuat ikut aku saja, naik oto lagi”, canda Han Han. Tak mau dianggap tidak kuat Rambat langsung memaksa berdiri meski tubuhnya masih lemas dan bersandar di punggu pak Bendhol. Atmo menarik tangan Mardi memaksa berdiri. Masih dengan berat hati, Han Han meninggalkan sahabat sahabat sejatinya, berbalik kembali ke Muntilan. Rombongan bergerak ke utara sambil berunding mengatur siasat. Atmo meminjamkan sangkurnya pada Mrdi. Kholili sudah tidak terlupa dengan cluritnya. Rambat dengan pistol sementara Pak Bendhol dengan pedang andalannya juga teman yang lain dengan pistol dan belati tapi ada juga yang tangan kosong. Atmo dengan pisau milik Yani.
“Maaf kisanak,atas kelakuan teman teman kalau kata katanya kasar”, kata Atmo. Disambut gelak tawa yang memecah kegelapan sungai Senowo.
“Dokter Moestopo atasan kami dulu banyak menyimpan kata makian kasar hahaha…’, jawab salah satu dari mereka. Disambut tawa bersama.
“Sakjane awake dewe arep nyegat nang endi, bingung aku”, celetuk Rambat. Tersadar semua, mau kemana. Berhenti setelah menyeberang sungai Senowo yang cukup besar arusnya. Kholili dan Mardi bungkam. Enam orang geng ‘rewo rewo’,menyesal dengan gagasan yang terburu nafsu untuk segera bergerak dengan tujuan mencegat para perampok sebelum sampai di desa Selo markasnya, sementara tidak tahu medan sama sekali.
“Maafkan kami yang terburu nafsu ini”, kata salah satu. Atmo yang cukup memahami juga atas kebingungan ini, hanya sampai Candi Asu yang sempat dijamahnya, selepas itu hanya mendengar saja desa Tlogolele dan Setabelan, sebelah barat Candi Asu sungai Pabelan dengan jembatan bambu menuju desa Tlatar Sawangan. Cukup lama juga berpikir.
“Saya kagum dengan naluri kisanak”, kata Atmo membesarkan hati sekawanan bekas Pasukan Teratai ini. Karena satu satunya jalan termudah ke Selo harus melewati Tlatar Sawangan tidak ad acara lain untuk mencegatnya di Tlatar. Hanya saja yang jadi pertimbangan mereka para perampok sudah menyeberang sungai Pabelan atau belum, atau malah sudah memasuki desa Jrakah.
“Yang penting kita harus sampai Candi Asu dulu”,tambah Atmo sembari berpikir bagaimana mengatur setrateginya nanti. Pagi kian dingin. Kokok ayam dari kejauhan sudah terdengar. Jarak pandang tertutup kabut tebal di dua arah Merapi dan Merbabu. Desa Soka terlewati, sebentar ladi desa Sengi dengan sisia sisa perdaban tua. Kecuali Atmo, masing masing masih kebingungan dengan apa yang akan dilakukannya dan dimana, daerah yang belum pernah dijamahnya sama sekali, mendengarnya juga belum. Jalan selebar satu dokar dengan pohon pohon besar di kanan kirinya dengan kabut tebal dari dua gunung tetap saja ditembusnya.
“Kalau perhitungan meleset, tunggu sampai sore, kita yang sudah kepalang tanggung ini terpaksa tetap lanjut sampai Selo, apapun yang terjadi”, tegas Atmo. Pak Bendhol dan sekawanan geng ‘rewo rewo’ mengagumi dalam hati keteguhan dan ketegasan Atmo..
“Rambat, Mardi, Kholili beserta kisanak dan kisanak berjaga di jalan Sawangan-Selo seberang jembatan Sana, Aku, pak Bendhol dan tiga orang berjaga di siini”, kata Atmo setelah sampai depan Candi Asu. Bereka berpisah, berjaga dengan jarak tak begitu jauh seberang sungai Pabelan. Atmo, pak Bendhol dan tiga orang langsung berlindung di sekitar Candi Asu dari terpaaan angina dingin yang hamper menembus tulang tulangnya. Bergantian terjaga matanya dari rasa kantuk sangat berat ditahan. Belum ada tanda tanda kedatangan mereka para perampok. Matahari terlambat menghangati tubuh. Barulah setelah melewati puncak gunung sinar matahri memberi kehangatan mereka yang tengah terlelap tidur dan satu berjaga dekat patahan patung Dewi Nandi. Rambat yang ditugaskan untuk melapor dari hasil pengamatannya belum juga melaporkannya. Penduduk desa Sengi sudah melakukan aktifitasnya di ladang. Banyak juga yang segera lari dan berbalik arah ketika melihat orang berdiam di candi, namun tak sedikit orang yang dengan ramah menyapa dan mempersilahkan untuk mampir singgah di rumahnya. Bahkan ada yang mengajaknya ngobrol, sambil menawarkan tembakau dan ‘klobot’ kulit jagung hasil dari kebunnya. Sejatinya mereka, penduduk desa sangat ramah, berhubung semakin banyak ‘grayak’ atau rampok bersembunyi di kieasran lerneg gunung Merapi dan Merbabu, wajar takut dengan orang yang belum dikenalnya. Namun begitu dijelaskan oleh Atmo dan pak Bendhol dan ketiga kawannya, mereka penduduk desa pulang dan kembali lagi dengan membawakan bungusan bungkusan nasi jagung dan minuman dengan gelas ‘bumubng’ (gelas terbuat dari bambu). Belum ada tanda tanda meskipun sudah lewat tengah hari. Putus asa?. Sedikit. Gelisah? Pasti. Setiap kali Rambat menampaknan diri hanya memberi kode belum ada perkembangan. Matahari tinggal sepermpat lagi menghilang di ufuk barat.
“Tolong kisanak, sampaikan pada mereka yang diseberang untuk bergegas”, kata Atmo. Apa boleh buat, terpaksa harus bergerak ke desa Selo yang tentu saja aka nada korban dari penduduk desa. Dua orang geng ‘rewo rewo’ berjalan mendekati jembatan bambu sungai pabelan, memanggil teman teman yang ada di sekitar Tlatar untuk diajaknya melanjutkan perjalanan Ke desa Selo melalui desa Sengi melewat air terjun ‘Kedhung Kayang’. Baru belasan langkah kedua teman geng ‘rewo rewo’ terdengar dua kali tembakan, berbalik arah dan lari. Rambat dengan lari kencangnya menyalip dari belakang.
“Buajingan tenan, tak tembak ra mempan, wis teka kae”, teriak Rambat.
“Niatkan, semua senjata kalian menyatu dengan pisau ini, yang tidak bersenjata , pukul saja jakunnya”, teriak Atmo sambil menunjukkan pisau Yani. Bergerak serentak, lari kea rah jembatan kayu pabelan. Ternyata para perampok sudah dekat dengan jembatan. Ternyata Rambat memancing mereka untuk mengejar. Atmo dan pak Bendhol berada di depan menghadang, menunggu mereka menyeberang. Hampir dua puluh orang yang mengejar Rambat. Belum sampai melewati jembatan, pak Bendhol mengamuk dengan pedangnya, disusul Atmo yang hanya dengan pisau kecil melompat tinggi dan menhujamkan pisau. Satu, dua, tiga orang tercabik tubuhnya dan jatuh kesungai. Pedang pak Bendhol juga menjatuhkan tubuh para rampok, terlempar ke sungai juga. Di seberang sungai, Mardi, Kholili dengan dua orang melawan segerombolan rampok yang tengah menjaga barang barang hasil rampokannya. “Duorr’, suara senjata meletus mengenai dada salah satu pasukan teratai, roboh. Kholili dengan kecepatan lemparan cluritnya, tepat membabat leher si penembak. Warga yang di sekitar berlarian menghindar jauh dari pertempuran yang sangat mengerikan. Lima kawanan penunggu barang, tewas. Mardi, Kholili dan satu kawan memngejar kearah jembatan barat sungai. Terkepunglah kawanan perampok itu. Dengan tangan kosong seoran kawan geng’rewo rewo’ menerjang maju, menangkis, memukul dan melemparkan mereka yang tertangkap ke sungai. Namun naas karena sempitnya ruang gerak, akhirnya perutnya tertembus pedang musuh. Atmo mengamuk sedemikian rupa. Para rampok yang masih belasan orang tak kalah ngamuknya, dan memyerang sisi barat yang tinggal Mardi, Kholili dan satu teman. Mardi pun terdesak mundur, Kholili yang tertutup Mardi kesulitan beregerak hanya mengikuti gerak mundur Mardi terlebih satu orang di belakang Kholili trbatasi ruang geraknya, terpakasa membatu Mardi dengan meleparkan pisau belatinya kea rah musuh. Atmo dan pak Bendhol gagal memancing musuh yang terus mendesak Mardi.
“Mardi, mundur…lari…”, teriak Kholili. Mardi yang sangat terdesak berusaha bergerak mundur dan lari, tapi pijakan kaki di bambu membuat lompatannya tidak sempurna, terpelanting jatuh keluar jembatan. Beruntung masih bisa menggelantung pada bambu penyangga meski demikian masih berjarak dengan sabetan pedang. Atmo mengetahui Mardi dalam bahaya menerjang maju, tak terduga pak Bendhol melompati Atmo menerjang dengan tubuhnya sekuat kuat tenaganya. Sabetan dan tusukan pedang beberapa kali menganai tubuhnya. Pak Bendhol terus menerjang maju meski pedang terancap di dadanya, dengan tenaga tersisa kawanan perampok yang tinggal empat orang diterkamnya, hingga sisi pembatas jembatan roboh. Semua jatuh ke sungai termasuk pak Bendhol. Mardi sedianya ingin terjun begitu melihat pak Bendhol jatuh diraih tangannya oleh Atmo. Tubuh pak Bendhol yang tinggi besar hanyut terbawa arus sungai. Tahu tahu Rambat sudah ada di sungai berusaha menangkap tubuh pak Bendhol, memeluknya cukup lama dan setelah itu membiarkan tubuh pak Bendhol lenyap dalam semua pandangan mata tertuju kepadanya.
“Cepat tinggalkan tempat ini”, teriak Atmo.Mardi yang masih belim beranjak dari tempatnya diseret tangannya begitu saja oleh Atmo. Kholili dan satu orang lari kearah Rambat menaiki tebing dan merangkul Rambatdengan tubuh lemas dan pasrah. Tanpa mengihiraukan orang orang yang melihatnya, tanpa peduli barang barang rampokan yang sudah jadi rebutan warga, mereka meninggalkan jembatan Pabelan. Atmo tak sekalipun melepas tangan Mardi yang terus meneteskan air mata. Rambat yang biasa mengumpat, memaki tetap dengan tubuh pasrah dipandu Kholili dan teman geng ‘ rewo rewo’ berjalan dan terkadang harus terseret kakinya karena lemas. Yang ada dalam benak Atmo hanyalah secepatnya menjauh dari ‘jembatan neraka Pabelan’. Barulah setelah sampai di klai Senowo mereka menghentikan jalannya. Atmo melepas tangan Mardi, Rambat didudukkan bersandar pada batu.
“Kenapa kita tidak melabrak saja sekalian ke Selo?’, tanya salah satu dari mereka mantan Pasukan Teratai.
“Kita berduka, tiga taman kita tewas, bagiku itu sangat banyak meski mereka hapir 20 orang terkapar hilang nyawanya”, jawab Atmo lirih namun berat. Mendengar jawaban Atmo, seoerang dari pasukan Teratai itu menghela nafas sambil matanya meatap ke puncak gunung Merapi yang hampir tertutup malam dan tetap menunggu apa yang akan Atmo katakan. Menunggu cukup lama Atmo masih terdiam. Dari sisi usia segerombolan mantan pasukan Teratai jauh lebih tua, terlebih pak Bendhol yang usianya menginjak umur 35 tahun, maka membiarkannya dipanggilnya ‘pak’. Sementara yang lain sudah diatas 25 tahun, jauh dari usia Atmo, tetapi melihat sosok Atmo yang begitu tenang dan kata katanya yang sungguh dalam tak bisa dipungkiri rasa hormat pada Atmo begitu besar.
“Aku penasaran dengan umur kisanak ini’, kata salah seorang.
“Dua puluh satu tahun lewat dua bulan lalu’, jawab Armo singkat.
Puncak gunung Merapi sudah tertutup malam. Mardi sudah bisa menata persaannya. Rambat yang jarang sekali mengeluarkan air mata, kali ini tidak terbendung. Terutama melalui mata kiri yang sudah tidak berfungi baik, air mata Rambat cukup untuk mempercepat pak Bendhol dan kedua teman bersemayam di dasar laut selatan, nantinya. Teriring tembang ‘megat-ruh’.
MEGATRUH.
Jroning warih jasadira wus dumunung
Ingkang labuh wekdal neki
Sak liwating wayah dalu
Mugiya enggal katampi
Konjuk ngarsaning Hyang Manon
Oleh: Gati Andoko
#Bersambung






