Makam Kyai Raden Santri.
Too Yu Siem Hap; Jalan suci itu berasal dari kesatuan hatiku. Tidak di Kllenteng Hok An Kiong, melainkan di makam Kyai Raden Santri, Han Han tengah pasrah dalam doanya. Kepasrahan tinggi itulah Han Han tidak menyadari banyak peziarah keheranan melihat seorang anak China berdoa di makam ‘aulia’ yang sangat banyak orang yang memakmurkannya. Cukup lama Han Han berdoa, tiga dupa yang dinyalakan sudah mati, tetapi bau wangi dupa masih berputar di sekeliling makam. Tak menyadari kalau Atmo, Mardi, Kholili, Rambat, Mamo, Sanib dan Parno sudah disamping dan dibelakangnya, bersila dan berdoa. Wangi dupa itu akhirnya hilang teritup angin yang digerakkan rumpun bambu sekitar makam. " Xin Nian Jin Pu; memiliki kemajuan yang lebih pada tahun baru ini". Doa terakhir yang di ucapkan Han Han.
‘Amin”,serempak kompak orang orang di samping dan di belakang Han Han. Han Han menoleh.
“Ini masih suasana Chun Jie (Imlek), kalau saja aku ndak sedang pantang berkata kotor pasti dah maki kalian ‘bai mu” (bodoh, tidak tau keadaan)”. Kata Han Han. Tak ada yang menanggapi Han Han, tetap bersila, diam dan memejamkan mata.
“Ulang sekali lagi makianmu, anakku”, kata Mardi dengan suara diberat beratkan. Han Han menubruk Mardi dan memeluknya. Semua nimbrung bertumpuk tumpuk; Mardi, Han Han, kemudian diatasnya Rambat dan Kholili. Atmo, Mamo, Sanib dan Parno menyingkir agak menjauh dengan tawa yang tertahan.
“Hei…kasihan peziarah lain”, Atmo menyuruh mereka menyudahi dolanan kanak kanaknya. Merekapun menyingkir menjauh dari makam Kyai Raden Santri yang cukup banyak orang yang datang berziarah. Han Han sangat merindukan mereka, hingga membuatnya terharu.
“Baru dua hari Han”, kata Mardi dalam pelukan Han Han. Meski dua hari tetap saja membutuhkan banyak lembar halaman untuk menulisnya. Han Han terkesima dengan cerita selama dua hari ini. Sayang tidak sedang bersama.
“Lhoh kok…”, Han Han tak berani melanjutkan, hanya tangannya menunjuk Mamo, Sanib dan Parno.
“Doamu tadilah yang menghantarkan mereka di alam kedamaian”, kata Mamo sungguh bijak. Tahu yang dimaksud Han Han adalah pak Bendhol dan dua teman. Han Han juga menceritakan apa yang diamati selama dua hari ini, gelagat orang orang luar daerah demikian juga berita yang diperoleh orang orang pasar. Gerombolan ‘grayak’ sudah masuk kota dan tinggal di desa sekitar Muntilan.
“Kalau ada orang yang punya gawe (hajad), kita bisa mudah untuk menyergapnya, tapi…”, Mamo bingung.
“Inilah yang sedang dihadapi bangsa ini, Belanda lebih jelas, itu adalah musuh yang harus kita perangi,tapi mereka yang sejatinya bangsa kita sendiri, ‘grayak’, sisa PKI muso, belum lagi para fundamentalis agama”, kata Atmo.
“Kalau menurutku, kita tidak usah ‘nggege mangsa’ (mencari cari), kita cukup berjaga siaga setiap waktu”, kata Sanib. Memang itulah satu satunya yang bisa dilakukan. Keputusan yang sangat seksama.
“Gini saja,aku dapat ‘ang pao’ banyak,kita bisa bersyukur dengan makan sekenyangnya di warung gule Gulon’, usul Han Han.
“Setuju”, kompak.
“Sekalian Kholili, tolong sampaikan sedikit oleh oleh untuk nenek dukun bayi di gunung Sari”, kata Han Han lagi yang memang sedianya akan memberi bingkisan untuk nenek sekiranya mereka ini masih di lereng Merapi. Gule Gulon, makanan teramat mewah sudah terbayang pada mereka yang sedang menuruni bukit gunung Prnig sisi timur dusun Ngasem, menyeberang tempuran kali Lamat dan Blongkeng. Menyelusuri lereng gunung Sari. Berhenti. Menunggu Kholili yang lari menyampaikan bingkisan untuk nenek dukun bayi.
Warung gule Gulon. Separuh kursi masih belum terisi pembeli. Persediaan gule masih banyak meski sudah menjelang sore. Dua orang berdiri dekat penjual, sedang ngobrol persoalan yang dianggapnya peristiwa luar biasa yang sangt membuat mereka bangga. Mereka juga bicara dengan suara keras, semua pengunjung mendengaranya.
“Sudah pesan saja, kalau sanggup habiskan saja persediaan yang masih ada”, kata Han Han.
“Benar cukup Han?’, tanya Mardi ragu cukup tidaknya uang untuk membayar, mengingat makanan ini terbilang sangat mewah. Han Han cuma memberi tanda cukup dan jangan khawatir. Jangan lihat berapa yang dipesan dan betapa lahapnya mereka. Hanya Han Han yang cukup sering makan gule Gulon ketika masih bersama kedua orang tuanya. Yang lain, hanya mendengar kelezatan gule gulon. Dua orang yang berdiri dan ngobrol dengan bapak penjual gule, keheranan dengan orang orang penampilan gembel memesan banyak porsi gule dan nampak sinis memandang rendah dan terus bicara keras keras.
‘Rejekine sampeyan kang, kampiran den mas Soeharto, ora baen baen lho, panjenengane ki priyayi ing ngaluhur, beda karo rupa rupa gembel, lagi menang ‘cliwik’ wae wis ropyan ropyan mborong gule, durung neh nek ketemu Londo, nggendring. Nek den mas Soeharto kui prajuri peng- pengan”, kata laki laki yang sedang berdiri. Rambat merasa tersindir dan merasa gelisah, namun Atmo mengingatkan dengan menginjak kaki Rambat.
“Pak saget dibungkusne tiga, mboten ngangge sekul (nasi)?’, tanya Rambat pada penjual dengan sedikit nada terpancing emosi. Dua orang berdiri memandang sinis pada Rambat dan semua teman temannya. Akhirnya berdua meninggalkan warung. Si penjual melayani pesanan Rambat tiga posri gule dibungkus dengan daun ‘tum’ mengurangi kuahnya.
“Kami sangat sering dibanding bandingkan seperti itu, direndahkan dan dianggap tak berkemampuan”, kata Mamo.
“Gule selezat ini cukup untuk menaikkan derajat kita hahaha…’, balas Sanib.
“Siapa itu den mas Soeharto?’, tanya Han Han.
“LetKol pangkatnya, sudah itu saja”, jawab Parno. Persediaan gule yang masih cukup 15 orang habis hanya menyisakan kuah tak berampas. Han Han membayar dan uang kembalian tak diambilnya.
“Mas niki bungkusane”, panggil penjual gule. Parno yang menerima bungkusan gule 3 ‘tum’, karena Rambat sudah keburu jalan cepat di depan.
‘Mbedhedhedg’.
Warga sekitar lereng Merapi Merbabu menyebut istilah ‘mbedhedheg wetenge’, perut serasa mengeras akibat sangat langka makan daging terutama kambing, begitu makan teramat banyak. Perut mengeras namun sulit buang air besar, sehingga setiap ‘glegeken” (sendawa) tak beda dengan bunyi dan bau kentut. Beginilah yang sedang mereka rasakan, terutama Rambat yang paling banyak, sementara Parno paling sedikit karena tidak suka masakan manis, lebih suka asin. Akhirnya sungai kecil, kali Setren berderet tujuh orang jongkok telanjang pantatnya, ‘mekong’ (pamer bokong). Parno sendirian menunggu diatas samping kuburan ‘Sasono Loyo” yang banyak ditumbuhi pohon pakel. Jadi ingat dirinya sewaktu kecil di Madiun bibirnya gatal gatal (dhadhaken) setetah makan buah pakel tanpa dikupas kulitnya. Kereta Api ‘sepur Kluthuk” yang melintas ke Magelang sudah berbalik kea rah Jogya, tapi mereka yang perutnya sedang ‘mbedhedheg” belum juga berajnak dari jingkoknya.
“Sudah hampir malaaammm…”, teriak Parno yang sudah menunggu sangat lama. Han Han dan Mardi bersamaan selesai duluan, terengah dan berkeringat seperti habis latihan silat dan mengeluarkan tenaga dalam yang sangat banyak, kemudian Kholili disusul Mamo.Baru kemudian Amto dan Sanib berkeringat dan merah matanya seperti sehabis melahirkan.
“Ayo tah mbaaatt….”, teriak Kholili.
“Sik, silitku ngeyel banget, ra gelem diatur”, jawab Rambat dengan teriak nyang nyaris membangunkan penghuni kubur ‘Sasono Loyo’.
“Cangkeme koen kui sing ngeyel”, teriak Kholili pula.
“Sikaaakkk….”, balas Rambat. Meski akhirnya dibuang toh tetap ada kebanggaan sedikit, mulutnya pernah mengecap makanan mewah sekaligus mahal. Rimbunnya pohon pohon ‘pakel dan pepohonan lainnya mebuat kuburan ‘sasono loyo’ lebih dahulu gelap. Rambat sambil memegang pantatnya sendiri menaiki tebing kali Setren yang tak begitu tinggi.
“Eh telung bungkus gule wis digawa?’, tanya Rambat. Parno langsung mengangkat tiga ‘tum’ gule.
“Nek koen sing nggawa, mending dibuang ae, penyakit”, kata Kholili. Rambat tidak komentar apapun sambil masih memgang mengang pantatnya. Atmo mengajak jalan melalui jalan aspal dan berhenti sejenak di jembatan Blongkeng. Satu dua orang bersepeda melintas. Dokar andhong juga maish beberapa yang lewat baik dari arah barat maupun timur. Para pejalan kaki masih cukup banyak yang melintasi jembatan Blongkeng. Jengah pandangan yang terus ke utara, berbalik ke selatan memandang gunung Sari yang Nampak sperti batu raksasa. Arus sungai Blongkeng hanya tinggal suaranya. Gelap.
“Sesuatu sedang terjadi”,kata Mamo sambil memegang punggung Atmo. Atmo membalik badan dan bersandar pada batas pengaman jembatan. Yang melintasi jembatan semakin banyak dari arah barat.
“Bagaimana Han?”, Atmo yang punya naluri sama dengan Mamo bertanya pada Han Han. Han Han hanya diam curiga dengan semakin banyaknya orang melintas dari arah barat.
“Kalau saja itu perang, meskipun bukan perang kita, tidak ada salahnya kita mendekat berbuat yang terbaik”, tgas Parno. Mardi dan Kholili semula sedikit males, tapi setelah mendengar jelas apa yang diucapkan Parno kembali bersemangat. Rambat dan Sanib mengapit Parno dan minta gentian bawa tiga bungkus gule, namun Parno menolaknya.
“Biar aku saja yang bawa, tanganku masih bersih hihihi”, canda Parno. Mempercepat langkahnya. Kemudian berlari. Berpapasan orang lari ketakutan.
“Bajingaaan ‘grayak’ meneh”, teriak Rambat yang berada di depan. Dari jembatan sudah terdengar tembakan, sering bertambah sering. Warga berlarian keluar dari pasar jambu tersebar kearah barat dan timur.
‘Benar mereka sedang menuntut balas”, kata Mamo sambil berlari.
“Bukannya pekerjaannya memang begitu”, Atmo.
“Menyebar semua’, perintah Atmo setelah mendekati pasar Jambu. Mardi dan Han Han melompat menaiki tembok rumah pecinan sebarang utara lari diatas genting. Kholili memanjat rumah pecinan seberang selatan. Mamo dan Rambat melompati pagar halaman dan berjaga di emper rumah pecinan barat pasar Jambu, sedang Parno sebelah timur dengan melompati pagar rumah lebih dulu. Atmo dan Sanib menghadang tepat di pertigaan pasar Jambu. Rombongan pengungsi semakin banyak, hingga Atmo memberi jalan larinya mereka. Begerak mundur ketengah jalan besar. Gerombolan ‘grayak’ dari dusun Koplak Balerejo berlarian pontang panting kearah pasar Jambu. Mereka terdesak oleh pasukan Belanda yang menyerbu dari arah utara. Suara tembakan semakin gencar. Datang sepasukan tentara Belanda dari utara perempatan ‘tugu wesi’ dan bergerak ke timur. Puluhan “grayak’ menyerang Atmo dan Sanib. Rambat dan Mamo begitu mengetahui pergerakan tentara Belanda membantu Atmo dan Sanib yang terancam pertempuran segi tiga. Pasukan Belanda di dusun Koplak mendesak mundur ke selatan gerombolan ‘ grayak’. Pasukan Belanda yang bergerak dari ‘tugu wesi’ kebingungan melihat pertempuran antara gerombolan ‘grayak’ dengan Atmo dan kawan kawan. Puluhan “grayak’ tewas memenuhi pertigaan pasar Jambu. Jeritan anak anak dan perempuan dari arah dusun Kiolak kea rah selatan.
“Stop met schieten (hentikan tembakan)’,suara teriakan tentara Belanda. Pasukan yang dari barat tidak mendengar perintah hentikan tembakan, justru malah mengarahkan senjatanya pada Atmo, Mamo, Rambat dan Sanib. Terhenti saat melihat seorang anak Belanda laki laki berlari kearah Atmo, namun baru tiga langkah depan Atmo, anak itu mati di tembak. Satu persatu tampak jelas lima orang ‘grayak’ menyandera 5 anak anak dan satu ibu Belanda yang menggendong bayi. Semua dibawah ancaman senjata.
“Stop met schieten”, perintah komandan lebih keras ke seluruh pasukan yang dari arah Koplak maupun yang dari ‘tugu wesi’. Atmo, Mamo, Rambat dan Sanib diam berdiri di tengah jalan.
“Beginilah, khas para ‘grayak’, bisik Mamo.
“Harus bagaimana”, bisik Sanib juga.
“Berharap masih ada manusia watak manusia”, jawab Atmo pasrah.
“Tak mungkin melawan Belanda segini banyak”, kata Sanib lagi.
“Paling paling ya mung mati”, kata Rambat tak bermaksud bercanda karena memang begitu adanya.
“Parno nang ngendi, nggawa bungkusan gule je”, kata Rambat lagi. Sanib dan Mamo belum kenal lebih dalam tabiat Rambat. Geregetan.
“Kang, aku saying banget karo Ningsih, titip”, bisik Rambat pada Atmo.
“Kita sama sama mau diberondong peluru kok malah titip”, jawab Atmo ngasal. Para ‘grayak’ bergerak ke timur. Komandan Belanda dengan pistol ditangannya bergeser mengikutinya. Anak anak dan seorang ibu menggendong bayi nagis teriak teriak. Para ‘grayak’ ini sudah tidak sekedar gertak saja. Seorang anak perempuan yang meronta ronta dan berteriak ditembak kakinya dan dilemparkan arah Atmo. Atmo menangkapnya. Meski tertembak kakinya, anak Belanda itu tak lagi meronta meskipun masih menangis lirih. Para ‘grayak” mendekap semua mulut sandera.
“Stop met schieten”,teriak lebih keras lagi sang komandan yang melihat ‘grayak’ ini semakin sadis. Salah satu tentara yang mau mengambil anak yang di gendong Atmo, roboh ditembak salah satu ‘grayak’.
“Aku oleh nembak ora kang”, bisik Rambat pada Atmo.
“Mbat”, jawab Atmo singkat yang dipahami Rambat, ‘tidak boleh’.
“Aku mumg arep nembak sing njabut untuk ku”, bisik Rambat ngeyel. Saking gergetannya Atmo yang pake sepatu lars menginjak kaki Rambat keras.
“Wuaduh!’, teriak Rambat keras sekali dan mengagetkan semua orang. Gaduh, seketika itu Han Han, Mardi dan Kholili terjun dari atap genting berhasil melepaskan senjata para ‘grayak’, sementara Parno mencekik seorang ‘grayak’ yang mendekap ibu dan bayinya. Semua tentara Belanda sudah siap dengan senjata demikian juga komandan sudah mengarahkan senjatanya. Karena Parno tak bersenjata apapun masih kesulitan melawannya. Berhasil melepas ibu dan dan anaknya namun lengan kiri Parno yang masih memegang tiga bungkus gule tertembak. Terlemparlah bungkusan gule. Empat orang anak yang sudah lepas dan ibu dengan bayinya kebingungan mau kemana. Bisanya hanya teriak teriak ketakutan. Parno dengan luka tembak berusaha memeluk anak anak dan menyuruh duduk ibu dengan bayinya. Atmo, Mamo, Sanib dan Rambat ragu untuk bergerak. Tentara Belanda sudah melepaskan tembakan kearah para ‘grayak’ yang sedang bertempur dengan Kholili, Mardi dan Han Han, tidak tepat sasaran. Komandan berkali kali meneriakkan menghentikan tembakan sudah tak didengarnya. Parno yang mau mengendong menyelamatkan anak anak tertembak dadanya, roboh oleh senjata Belanda. Hampir bersamaan dengan robohnya lima kawanan ‘grayak’ di tangan Mardi, Kholili dan Han han. Komandan melepaskan tembakan keatas tiga kali. Berhentilah tembakan. Mardi dan Kholili menenangkan anak anak dan ibu dengan bayinya. Han Han menempatkan kepala Parno di pangkuannya dan berusaha menotok aliran darah. Senyap, hanya isak tangis anak anak. Komandan tentara Belanda teriak histeris memaki tak karuan. Menendang, menampar memukul tentara bagian baris depan.
“Klootzak”,berkali kali diteriakkan. Ditembakkan lagi keatas sampai habis pelurunya. Mardi dan Kholili membimbing anak anak, seorang ibu Belanda berikut bayinya menyerahkan pada komandan yang berdiri lemas. Atmo, Mamo, Sanib dan Rambat masih terdiam pasrah tak bergerak. Mardi dan Kholili mendekati Parno yang sedang ditangani Han Han sebisanya. Luka tembak jarak dekat membuat darah yang keluar sedikit melalui luka di dadanya melainkan melalui mulut dan hidung. Totokan Han Han sia sia. Parno hanya menggerakkan tangannya ke arah bungkusan gule yang telah tumpah. Bertiga membopong tubuh Parno yang wangi buah pakel yang tumbuh sekitar kuburan ‘sasono loyo’, tepi kali Setren. Sang komandan melepas topi tentaranya sebagai wujut penghormatan. Disusul satu persatu semua tentara melepas topinya. Mardi, Han Han dan Kholi yang membopong Parno berdiri sejajar dengann Rambat, Sanib, Atmo yang mengendong anak Belanda dengan luka tembak di kaki dan Mamo. Bukan menyerah tapi pasrah. Beberapa tentara menjemput anak anak juga ibu dan bayinya menjauh dari komandan. Sang komandan mencoba berdiri tegap memasukkan senjatanya, memakai topi dan merapikan bajunya. Sigap, dengan langkah tegap berjalan hingga dua langkah depan Atmo yang wajahnya tak kena cahaya lampu jalan, Sementara wajah sang komandan Nampak jelas raut muka yang terguncang perasaannya. Dengan tegap pula sang komandan memberi hormat dengan tangannya. Atmo yang tangan kiri masih mengendong anak, tangan kanannya menjawab hormat pada sang komandan. Atmopun menyerahkan anak pada sang komandan. Belum juga beranjak pergi sang komandan, kehilangan kata kata.
“Ik wacht op de echte oorlog ( Aku tunggu saat perang sesungguhnya)’, kata Atmo dengan nada berat dan dalam.
“Dank U”,jawab sang komandan dan memberi hormat lagi pada Armo. Atmo membalasnya. Pasukan tentara yang sigap di jalanan bergeser memberi ruang Atmo dan kawan kawanya yang berjalan ke arah barat, berbelok kekiri sesampainya ‘tugu wesi’.
Parno kalah.
Berjalan mungkur. Namun sejatinya Parno sedang memukul musuh melangkah mundur. Mungkurnya Parno adalah menyerahkan kehidupannya kepada orang yang lebih berhak hidup
.
#PANGKUR
.
Lampah mungkur badanira
Badanira hangrungkeb hanyawiji
Tebih nepsu kumalungkung
Tebih nepsu angkara
Nora selak hangabekti ing aluhur
Sun dherek mergi tindaknya
Hanggayuh karsaning Gusti
Oleh: Gati Andoko
#OperasiKerbauTanah VI






