Gati Andoko
4 November pukul 20.34
CO PATRIOT XI
#SuroSundangMajapahit I
Oleh: Gati Andoko
Kita tinggalkan dulu Rambat barang sejenak. Pemulihan sakitnya butuh waktu yang cukup lama meski Rambat sendiri mengelak disebut sakit namun bagaimanapun juga tidak bisa melawan tubuhnya sendiri. Rambat menyadari itu. Falsafah;” Hidup ini adalah jejer ‘goro goro’ jagat pakeliran, tawa adalah tangis, tangis adalah tawa, bahagia dan bencana adalah sama”. Masih belaku. Sakit adalah sekedar istirahat untuk keberlangsungan hidupnya.
Probolinggo atau biasa disebut Mbolinggo adalah desa yang dituju Atmo, Han Han, Kholili dan Mardi yang baru saja sembuh dari luka tembak di perutnya. Setelah mengantar Ningsih yang kangen bertemu orang tuanya di Kangkungan dan akan dijemput satu hari kedepan untuk kembali ke bukit Menoreh, berempat jalan ke desa Mbolinggo. Terbayang, Mardi segera ingin segera mandi di Blumbang Gedhe dengan Candi Sendang di pinggirnya. Berpikir juga Mardi dengan nama desa itu, Probolinggo; lingga yang bercahaya. Ada apa disana?. Tetapi itu bukan tujuan utama. Mendatangi desa Probolinggo semata mata karena ingin mencari kabar keadaan pak Suro yang menunurut informasi yang diperoleh tinggal di desa Mbolinggo. Pak Suro penjual kupat tahu yang sketsa wajahnya terpajang sebagai buronan seperti halnya Atmo, Mardi, Han Han, Kholili, Rambat dan Ningsih. Empati yang begitu besar sekaligus merasa berdosa telah melibatkan pak Suro dalam jurang ancaman. Sampailah di pertigaan desa Gulon, tak begitu jauh jalan ke utara sampailah desa Probolinggo yang pernah menjadi penyedia lahan tanaman tebu era “kultuurstelsel”.
“Kang, tepak roda truk dan mobil tentara masih sangat baru”, kata Han Han sambil menunjuk tepak roda. Berpikir sejenak.
“Kira kira baru mengarah ke Mbolinggo atau kebalikannya”, tanya Atmo. Han Han mengamati grafir tepak roda.
“Ke Mbolinggo”, jawab Han Han yakin. Gamang juga mau lanjut atau balik.
“Menyusuri sungai Jlegong, cuma sebaiknya kita hindari benturan dengan Belanda”, kata Atmo. Disusurilah sungai Jlegong-Lugong-Silugong atau Silugangga. Sungai suci, airnya untuk mensucikan orang meninggal. Memang sejak awal semata ingin tahu keberadaan pak Suro sekedar membuang kejenuhan, tetapi situasi seperti ini membuatnya was was penuh keraguan. Benar juga. Berjalan sejauh sekitar 1 km terdengar 3-5 kali tembakan. Berhenti. Atmo, Han Han, Kholili dan Mardi kembali dalam keraguan.
“Pulang saja kang”, kata Mardi sambil memegang bekas luka tembak di perutnya. Kholil dan Han Han memandang Mardi dengan iba. Atmo berdiri menyandarkan badannya pada pohon kelapa pinggir sungai. Bingung. Satu hal ingin segera tahu bagaimana pak Suro, hal lain ingin membahagiakan Mardi yang selama 10 hari dalam perawatan menjenuhkan.
“Sebentar lagi kita putuskan ya, tunggu dulu barang satu jam”, kata Atmo
“Mungkin karena terlalu lama kita berdiam, jadinya ingin melangkah lagi menjadi ragu”, tambahnya.
Suara tembakan tidak ada lagi. Raungan suara mesin truk memderu. Asap debu tanah mengepul berputar membubung keatas. Tampak dari pandangan Atmo.
“Sepertinya kita sudah ditakdirkan ketemu dengan pak Suro hehehe….tunggu sampai suara deru mobil itu hilang dari pendengaran kita”, kata Atmo sambil tertawa. Suara deru mobil hilang. Melewati pematang yang tertutup tanaman tebu yang sudah meninggi. Barulah pandangan luas setelah berdiri dipematang sawah yang belum lama ditanami, Seorang ibu mengandeng anak kecil berlarian menembus kepulan debu, disusul laki laki maupun perempuan juga berlarian. Debu debu itupun berterbangan tak beraturan dalam terik matahari tengah hari. Tak bepikir panjang, Atmo, Mardi, Han Han dan Kholili berlari ke arah keramaian itu. Sambil menutup hidung dengan bajunya menembus kepulan debu yang mulai tertiup angin. Berhenti, Sekedar mengusap mata dan wajah dari debu. Rumah model “cere gancet” terbuat dari kayu jati jelas terlihat. Tak jauh di luar depan pintu seorang gadis menangis sambil memangku tubuh orang tua deng tiga luka tembak di dadanya.
“Pak Suro……!’, seru Han Han sambil lari menghampiri disusul Atmo, Mardi dan Kholili. Berempatpun bersimpuh mengelilingi pak Suro dalam pengkuan seorang gadis. Barangkali warga sekitar ketakutan tak berani menolong pak Suro yang terluka.
“Dik…kita bawa masuk saja kerumah”, kata Atmo. Gadis itupun mengangguk dengan dagunya menunjuk rumah. Berempat membopong pak Suro masuk rumah dan menidurkannya di atas “amben” panjang. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Hanya bisa segera memberi minum pada pak Suro dengan detak jantung yang melambat.
“Adik ini anak pak Suro?, tanya Atmo. Gadis itu mengangguk sambil terus menangis sesenggukan. Han Han yang tahu sedikit banyak saraf peredaran darah cuma geleng geleng kepala, putus asa. Pak Suro seperti sedang mengatur nafas dan mencoba membuka matanya. Seolah tidak merasakan sakit atas tiga butir peluru yang bersarang di tubuhnya. Buka mata memandangi orang sedang berada di sekelilingnya.
“Yani, lupakan Sulis kakakmu”, kata pak Suro pada anaknya.
“Ini saudara saudaramu yang bapak tunggu dari kemarin kemarin, siapa namamu nak?”, tanya pak Suro.
“Saya Han Han”.
“Kholili keturunan Madura”.
“Mardi pak Mardi Suwito lengkapnya”
“Saya Atmo bapak, kami memang pengin ketemu bapak”.
“Kok cuma empat, mana gadis manis dan satunya lagi?”, desaknya.
“Sudahlah bapak, jangan banyak bicara dulu bapak”, Atmo.
“Huk huk, siapa dia dan di mana?’, desaknya sambil terbatuk.
“Rambat dan Ningsih”, jawab Mardi.
“Atmo, aku pengin pegang tanganmu, duduk mendekat sini”, pak Suro dengan suara yang lemah. Atmo mendekat timpuh dan leher kepala pak Suro ditempatkan di pahanya. Pak Suro memegang tangan Atmo dengan pandangan luas serta senyum berbinar menerangi wajahnya. Dari sela sela papan kayu rumahnya angin sejuk bertiup memenuhi rumah, berputar hingga menerpa daun pintu setengah terbuka menutup,buka-tutup berulang ulang.
Belum lama ini terjadi.
Tidak biasanya pak Suro menguluarkan pisau kecil yang sekilan panjangnya. Selama hidup anaknya bernama Sulistyani dipanggil Yani baru kali kedua melihat bapaknya memegang pisau kecil itu. Pertama saat Sulistyo anak pertama terserang penyakit demam tinggi hingga mrnggigau selama tiga minggu. Yani tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Pisau kecil dengan gagang hitam mengkilat, warangka dari pelepah pohon jambe (pinang). Sehari hari tidak diketahui dimana disimpannya. Entah kenapa begitu terdengar langkah Sulis terdengar mendekat, saat itu juga pisau kecil disimpannya dalam kantong tanpa sepengatahuan Sulistyo.
“Pak, harus dengan cara apa lagi aku harus menutupi keberadaan bapak”, kata Sulistyo tiba tiba. Pak Suro beranjak dari dingklik depan tungku langsung tiduran di kursi panjang ruang tamu tanpa menanggapi kata kata Sulistyo.
“Kalau bapak mau memberi tahu keberadaan teman teman bapak, dijamin selamat pak”, cecar Sulistyo
“Sudah berapa hari kau menanyakan it terus, jawabannya tetap sama ‘tidak tahu’! jawab pak Suro sedikit membentak. Yani hanya mendengarkan percakapan mereka dikamarnya.
“Aku ini anakmu pak”, Sulistyo mulai meninggi.
“Baru sadar kalau kamu ini anakku”, pak Suro. Sulistyo menjawab dengan membanting kursi yang dipegangnya. Sepeninggal ibunya Sulistyo berperangai aneh, terlebih semenjak kedatangan Belanda Clash I. Pak Suro sangat malu dengan tetangga tetangganya. Kedekatan Sulistyo dengan pihak Belanda menjadi jadi. Ketrampilan tinggi silatnya dimanfaatkan oleh Belanda. Membantu menjual kupat tahu sudah sama sekali tidak mau.
“Bapak ini hanya penjual kupat tahu, pen-ju-al-ku-pat tahu”, teriak Sulis. Pak Suro menanggapi dengan datar.
“Kowe kok nge’ming’ke dodolan kupat tahu’, pak Suryo menahan kemarahan dengan berusaha sabar menghela nafas panjang.
“Derajat pangkat bapak tidak punya, sebentar lagi aku yang akan memngangkat derajat keluarga”, kata Sulistyo membusungkan dadanya..
“Hohoho itu,…dimana tingginya kalau cara mendapatkannya harus mencium pantat”, pak Suro sinis. Naik pitamlah Sulistyo, membanting apa saja yang ada di dekatnya sambil terus memaki, merendahkan. Meja terbalik, kaki kaki kursi patah berserak, lampu minyak liun pecah, belingnya menancap di daun jendela yang tertutup. Pak Suro berusaha terus menyadarkan anaknya. Sulistyo yang dijanjikan diangkat sebagai HTO (Hoofd Tuin Opziener) oleh Belanda menjadi tuli akan nasehat. Janji Belanda itulah yang ia sombongkan dihadapan bapaknya. Satu satunya jalan untuk cepat memperoleh jabatan HTO, Sulistyo diperintahkan untuk menangkap orang orang yang tersebar sketsa wajahnya. Pak Suro salah satunya. Pertemuan dengan kelima laki laki dan satu gadis baru saat kejadian itu saja. Itupun belum tahu namanya.Penjelasan apapun dari pak Suro justru dianggap mengesampingkan Sulistyo sebagai anaknya. Ini yang membuat Sulistyo marah bukan kepalang terhadap anaknya sendiri. Terus mendesak agar memberi tahu dimana keberadaan mereka dengan dalih bapaknya akan dibebaskan kalau kelima laki laki dan satu perempuan itu ditangkap. Karena Pak Suro selalu menjawab ‘tidak tahu’, Sulistyo mengancam akan meangkap bapaknya sendiri.
“Tangkap, ayo tangkap bapak”. Dasar Sulistyo sudah gelap mata gelap hati justru berbalik mengancam.
“Jangan salahkan juga kalau aku harus membunuhmu”, ancam Sulistyo sambil mengeluarkan dua bilah pisau pendek. Mendengar situasi yang sangat miris, Yani keluar dari kamar dan memeluk Sulistyo.
“Sudah kang, sudah…”, bujuk Yani. Sulistyo yang kedua tangannya sudah terlanjur memegang pisau, berontak dari pelukan Yani dengan memutar kencang tubuhnya ke kiri sampai sikunya menghantam rahang Yani. Seketika Yani terlempar dan pingsan. Pak Suro melompat dan berdiri di atas kaki kaki meja terbalik denga kecepatan tinggi kakinya menendang wajah Sulistyo dan terlempar membentur pintu, jebol. Bersamaan terlemparnya Sulistyo sampai keluar rumah, berdatang sepasukan pasukan tentara Belanda tepat di diepan rumah. Kedatangan tentara Belanda justru digunakan oleh Sulistyo untuk menunjukkan kesetiannya pada Belanda dengan terus berteriak agar bapaknya keluar rumah. Darah yang keluar dari mulut dan hidungnya ditunjuk tunjukan sebagai bukti tidak canggung melawan bapaknya sendiri.
“Keluar paaaak…..’, bentak Sulistyo. Taka da jawaban dari dalam rumah. Tentara tentara Belanda yang melihatnya senyam senyum, tertawa seperti sedang menikmati pertunjukan “Tonil van Java”.
“ Keluaaaarrr atau harus kuseret kau”, lagi lagi Sulistyo menyuruh pak Suro keluar. Masih tak ada jawaban. Suasana semakin tak menentu. Tentara tentara Belanda sudah mulai berada dalam ketegangan. Pergerakan kaki kaki tentara Belanda membuat tanah panas terik matahari mengpulan debunya. Sulistyo berada dalam kegelisahan sekaligus kemarahan yang sangat tinggi, sudah tidak sadar lagi kalau sedang berhadapan dengan bapak kandungnya sendiri.
“Keluar bangsaaatttt….”. Tetap tidak ada jawaban. Sulistyo dengan langkah cepat memasuki rumah. Terhenti. Pak Suro dengan berdiri di pimtu, berjalan maju dengan langkah yang termat ringan. Wajahnyapun tidak menunjukkan kemarahan namun tidak juga senyum. Sulistyo berjalan mundur ke halaman rumah yang cukup lebar. Lima langkah depan pintu pak Suro menghentikan langkahnya, hanya berdiri. Mata pak Suro menatap kedepan tanpa memandang curiga pada apapun juga. Tentara Belanda semakin tidak sabar melihat apa yang terjadi selanjutnya.
“Te lang (terlalu lama)”, kata komandan. Hampir bersamaan tentara tentara Belanda mengangkat senjata dan mengokangnya. Suara “kleikkk” bersamaan dengan Sulistyo dalam posisi kuda kuda, kedua kaki turun setengah jongkok , kaki kiri menyilang samping belakang, sementara tangan bersilang tangan kanan didepan dengan kedua bilah pisau dalam genggamannya.”
“ Voor een moment (sebentar)”, kata komandan sekaligus dengan gerakan tangannya memerintahkan menurunkan senjata. Sulistyo yang siap dengan kuda kudanya diperintahkan untuk untuk menyarungkan dua pisaunya. Senyum lega wajah Sulistyo meredakan ketegangannya sendri. Satu tarikan belum selesai, sang komandan mencabut pistolnya dan menyerahkan pada Sulistyo.
“Schiet hem gewoon neer ( tembak saja dia )”, perintahnya. Sulistyo dengan tangan gemetar menerima langsung dan langsung menodongkan ke pak Suro.
“Schiet…”, bentak komandan.
Doorrr.
Peluru mengenai dada bagian kiri. Pak Suro tak bergeming dan melangkah maju.
Doorrr.
Mengenai dada bagian kanan. Tubuh pak Suro sedikit terpental namun tetap lanjut melangkah maju.
Doorrr.
Pak Suro terlempar dan roboh. Sang komandan merebut pistol di tangan Sulistyo dan menembakkan keatas dua kali memerintahkan bubar, kembali ke markas. Sulistyo ikut bersama pasukan Belanda. Yani yang masih pusing tersadar dari pingsannya merangkak mendekati bapaknya yang sudah bersimbah darah tertutup kepulan debu hentakan sepatu lars. Begitulah kejadian yang menimpa keluarga pak Suro sebelum kedatangan Atmo, Mardi, Han Han dan Kholili.
Angin yang bertiup dalam rumah pak Suro mewangi bunga kenanga yang tumbuh di pinggir ‘blulmbang gedhe”. “Ngger, Atmo, Mardi, Han Han, Kholili lan loro maneh sapa mau, titp Yani, Sulistyani”. Genggaman tangan pak Suro pada telapak tangan Atmo mengendur dan lepas.
#Bersambung.
4 November pukul 20.34
CO PATRIOT XI
#SuroSundangMajapahit I
Oleh: Gati Andoko
Kita tinggalkan dulu Rambat barang sejenak. Pemulihan sakitnya butuh waktu yang cukup lama meski Rambat sendiri mengelak disebut sakit namun bagaimanapun juga tidak bisa melawan tubuhnya sendiri. Rambat menyadari itu. Falsafah;” Hidup ini adalah jejer ‘goro goro’ jagat pakeliran, tawa adalah tangis, tangis adalah tawa, bahagia dan bencana adalah sama”. Masih belaku. Sakit adalah sekedar istirahat untuk keberlangsungan hidupnya.
Probolinggo atau biasa disebut Mbolinggo adalah desa yang dituju Atmo, Han Han, Kholili dan Mardi yang baru saja sembuh dari luka tembak di perutnya. Setelah mengantar Ningsih yang kangen bertemu orang tuanya di Kangkungan dan akan dijemput satu hari kedepan untuk kembali ke bukit Menoreh, berempat jalan ke desa Mbolinggo. Terbayang, Mardi segera ingin segera mandi di Blumbang Gedhe dengan Candi Sendang di pinggirnya. Berpikir juga Mardi dengan nama desa itu, Probolinggo; lingga yang bercahaya. Ada apa disana?. Tetapi itu bukan tujuan utama. Mendatangi desa Probolinggo semata mata karena ingin mencari kabar keadaan pak Suro yang menunurut informasi yang diperoleh tinggal di desa Mbolinggo. Pak Suro penjual kupat tahu yang sketsa wajahnya terpajang sebagai buronan seperti halnya Atmo, Mardi, Han Han, Kholili, Rambat dan Ningsih. Empati yang begitu besar sekaligus merasa berdosa telah melibatkan pak Suro dalam jurang ancaman. Sampailah di pertigaan desa Gulon, tak begitu jauh jalan ke utara sampailah desa Probolinggo yang pernah menjadi penyedia lahan tanaman tebu era “kultuurstelsel”.
“Kang, tepak roda truk dan mobil tentara masih sangat baru”, kata Han Han sambil menunjuk tepak roda. Berpikir sejenak.
“Kira kira baru mengarah ke Mbolinggo atau kebalikannya”, tanya Atmo. Han Han mengamati grafir tepak roda.
“Ke Mbolinggo”, jawab Han Han yakin. Gamang juga mau lanjut atau balik.
“Menyusuri sungai Jlegong, cuma sebaiknya kita hindari benturan dengan Belanda”, kata Atmo. Disusurilah sungai Jlegong-Lugong-Silugong atau Silugangga. Sungai suci, airnya untuk mensucikan orang meninggal. Memang sejak awal semata ingin tahu keberadaan pak Suro sekedar membuang kejenuhan, tetapi situasi seperti ini membuatnya was was penuh keraguan. Benar juga. Berjalan sejauh sekitar 1 km terdengar 3-5 kali tembakan. Berhenti. Atmo, Han Han, Kholili dan Mardi kembali dalam keraguan.
“Pulang saja kang”, kata Mardi sambil memegang bekas luka tembak di perutnya. Kholil dan Han Han memandang Mardi dengan iba. Atmo berdiri menyandarkan badannya pada pohon kelapa pinggir sungai. Bingung. Satu hal ingin segera tahu bagaimana pak Suro, hal lain ingin membahagiakan Mardi yang selama 10 hari dalam perawatan menjenuhkan.
“Sebentar lagi kita putuskan ya, tunggu dulu barang satu jam”, kata Atmo
“Mungkin karena terlalu lama kita berdiam, jadinya ingin melangkah lagi menjadi ragu”, tambahnya.
Suara tembakan tidak ada lagi. Raungan suara mesin truk memderu. Asap debu tanah mengepul berputar membubung keatas. Tampak dari pandangan Atmo.
“Sepertinya kita sudah ditakdirkan ketemu dengan pak Suro hehehe….tunggu sampai suara deru mobil itu hilang dari pendengaran kita”, kata Atmo sambil tertawa. Suara deru mobil hilang. Melewati pematang yang tertutup tanaman tebu yang sudah meninggi. Barulah pandangan luas setelah berdiri dipematang sawah yang belum lama ditanami, Seorang ibu mengandeng anak kecil berlarian menembus kepulan debu, disusul laki laki maupun perempuan juga berlarian. Debu debu itupun berterbangan tak beraturan dalam terik matahari tengah hari. Tak bepikir panjang, Atmo, Mardi, Han Han dan Kholili berlari ke arah keramaian itu. Sambil menutup hidung dengan bajunya menembus kepulan debu yang mulai tertiup angin. Berhenti, Sekedar mengusap mata dan wajah dari debu. Rumah model “cere gancet” terbuat dari kayu jati jelas terlihat. Tak jauh di luar depan pintu seorang gadis menangis sambil memangku tubuh orang tua deng tiga luka tembak di dadanya.
“Pak Suro……!’, seru Han Han sambil lari menghampiri disusul Atmo, Mardi dan Kholili. Berempatpun bersimpuh mengelilingi pak Suro dalam pengkuan seorang gadis. Barangkali warga sekitar ketakutan tak berani menolong pak Suro yang terluka.
“Dik…kita bawa masuk saja kerumah”, kata Atmo. Gadis itupun mengangguk dengan dagunya menunjuk rumah. Berempat membopong pak Suro masuk rumah dan menidurkannya di atas “amben” panjang. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Hanya bisa segera memberi minum pada pak Suro dengan detak jantung yang melambat.
“Adik ini anak pak Suro?, tanya Atmo. Gadis itu mengangguk sambil terus menangis sesenggukan. Han Han yang tahu sedikit banyak saraf peredaran darah cuma geleng geleng kepala, putus asa. Pak Suro seperti sedang mengatur nafas dan mencoba membuka matanya. Seolah tidak merasakan sakit atas tiga butir peluru yang bersarang di tubuhnya. Buka mata memandangi orang sedang berada di sekelilingnya.
“Yani, lupakan Sulis kakakmu”, kata pak Suro pada anaknya.
“Ini saudara saudaramu yang bapak tunggu dari kemarin kemarin, siapa namamu nak?”, tanya pak Suro.
“Saya Han Han”.
“Kholili keturunan Madura”.
“Mardi pak Mardi Suwito lengkapnya”
“Saya Atmo bapak, kami memang pengin ketemu bapak”.
“Kok cuma empat, mana gadis manis dan satunya lagi?”, desaknya.
“Sudahlah bapak, jangan banyak bicara dulu bapak”, Atmo.
“Huk huk, siapa dia dan di mana?’, desaknya sambil terbatuk.
“Rambat dan Ningsih”, jawab Mardi.
“Atmo, aku pengin pegang tanganmu, duduk mendekat sini”, pak Suro dengan suara yang lemah. Atmo mendekat timpuh dan leher kepala pak Suro ditempatkan di pahanya. Pak Suro memegang tangan Atmo dengan pandangan luas serta senyum berbinar menerangi wajahnya. Dari sela sela papan kayu rumahnya angin sejuk bertiup memenuhi rumah, berputar hingga menerpa daun pintu setengah terbuka menutup,buka-tutup berulang ulang.
Belum lama ini terjadi.
Tidak biasanya pak Suro menguluarkan pisau kecil yang sekilan panjangnya. Selama hidup anaknya bernama Sulistyani dipanggil Yani baru kali kedua melihat bapaknya memegang pisau kecil itu. Pertama saat Sulistyo anak pertama terserang penyakit demam tinggi hingga mrnggigau selama tiga minggu. Yani tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Pisau kecil dengan gagang hitam mengkilat, warangka dari pelepah pohon jambe (pinang). Sehari hari tidak diketahui dimana disimpannya. Entah kenapa begitu terdengar langkah Sulis terdengar mendekat, saat itu juga pisau kecil disimpannya dalam kantong tanpa sepengatahuan Sulistyo.
“Pak, harus dengan cara apa lagi aku harus menutupi keberadaan bapak”, kata Sulistyo tiba tiba. Pak Suro beranjak dari dingklik depan tungku langsung tiduran di kursi panjang ruang tamu tanpa menanggapi kata kata Sulistyo.
“Kalau bapak mau memberi tahu keberadaan teman teman bapak, dijamin selamat pak”, cecar Sulistyo
“Sudah berapa hari kau menanyakan it terus, jawabannya tetap sama ‘tidak tahu’! jawab pak Suro sedikit membentak. Yani hanya mendengarkan percakapan mereka dikamarnya.
“Aku ini anakmu pak”, Sulistyo mulai meninggi.
“Baru sadar kalau kamu ini anakku”, pak Suro. Sulistyo menjawab dengan membanting kursi yang dipegangnya. Sepeninggal ibunya Sulistyo berperangai aneh, terlebih semenjak kedatangan Belanda Clash I. Pak Suro sangat malu dengan tetangga tetangganya. Kedekatan Sulistyo dengan pihak Belanda menjadi jadi. Ketrampilan tinggi silatnya dimanfaatkan oleh Belanda. Membantu menjual kupat tahu sudah sama sekali tidak mau.
“Bapak ini hanya penjual kupat tahu, pen-ju-al-ku-pat tahu”, teriak Sulis. Pak Suro menanggapi dengan datar.
“Kowe kok nge’ming’ke dodolan kupat tahu’, pak Suryo menahan kemarahan dengan berusaha sabar menghela nafas panjang.
“Derajat pangkat bapak tidak punya, sebentar lagi aku yang akan memngangkat derajat keluarga”, kata Sulistyo membusungkan dadanya..
“Hohoho itu,…dimana tingginya kalau cara mendapatkannya harus mencium pantat”, pak Suro sinis. Naik pitamlah Sulistyo, membanting apa saja yang ada di dekatnya sambil terus memaki, merendahkan. Meja terbalik, kaki kaki kursi patah berserak, lampu minyak liun pecah, belingnya menancap di daun jendela yang tertutup. Pak Suro berusaha terus menyadarkan anaknya. Sulistyo yang dijanjikan diangkat sebagai HTO (Hoofd Tuin Opziener) oleh Belanda menjadi tuli akan nasehat. Janji Belanda itulah yang ia sombongkan dihadapan bapaknya. Satu satunya jalan untuk cepat memperoleh jabatan HTO, Sulistyo diperintahkan untuk menangkap orang orang yang tersebar sketsa wajahnya. Pak Suro salah satunya. Pertemuan dengan kelima laki laki dan satu gadis baru saat kejadian itu saja. Itupun belum tahu namanya.Penjelasan apapun dari pak Suro justru dianggap mengesampingkan Sulistyo sebagai anaknya. Ini yang membuat Sulistyo marah bukan kepalang terhadap anaknya sendiri. Terus mendesak agar memberi tahu dimana keberadaan mereka dengan dalih bapaknya akan dibebaskan kalau kelima laki laki dan satu perempuan itu ditangkap. Karena Pak Suro selalu menjawab ‘tidak tahu’, Sulistyo mengancam akan meangkap bapaknya sendiri.
“Tangkap, ayo tangkap bapak”. Dasar Sulistyo sudah gelap mata gelap hati justru berbalik mengancam.
“Jangan salahkan juga kalau aku harus membunuhmu”, ancam Sulistyo sambil mengeluarkan dua bilah pisau pendek. Mendengar situasi yang sangat miris, Yani keluar dari kamar dan memeluk Sulistyo.
“Sudah kang, sudah…”, bujuk Yani. Sulistyo yang kedua tangannya sudah terlanjur memegang pisau, berontak dari pelukan Yani dengan memutar kencang tubuhnya ke kiri sampai sikunya menghantam rahang Yani. Seketika Yani terlempar dan pingsan. Pak Suro melompat dan berdiri di atas kaki kaki meja terbalik denga kecepatan tinggi kakinya menendang wajah Sulistyo dan terlempar membentur pintu, jebol. Bersamaan terlemparnya Sulistyo sampai keluar rumah, berdatang sepasukan pasukan tentara Belanda tepat di diepan rumah. Kedatangan tentara Belanda justru digunakan oleh Sulistyo untuk menunjukkan kesetiannya pada Belanda dengan terus berteriak agar bapaknya keluar rumah. Darah yang keluar dari mulut dan hidungnya ditunjuk tunjukan sebagai bukti tidak canggung melawan bapaknya sendiri.
“Keluar paaaak…..’, bentak Sulistyo. Taka da jawaban dari dalam rumah. Tentara tentara Belanda yang melihatnya senyam senyum, tertawa seperti sedang menikmati pertunjukan “Tonil van Java”.
“ Keluaaaarrr atau harus kuseret kau”, lagi lagi Sulistyo menyuruh pak Suro keluar. Masih tak ada jawaban. Suasana semakin tak menentu. Tentara tentara Belanda sudah mulai berada dalam ketegangan. Pergerakan kaki kaki tentara Belanda membuat tanah panas terik matahari mengpulan debunya. Sulistyo berada dalam kegelisahan sekaligus kemarahan yang sangat tinggi, sudah tidak sadar lagi kalau sedang berhadapan dengan bapak kandungnya sendiri.
“Keluar bangsaaatttt….”. Tetap tidak ada jawaban. Sulistyo dengan langkah cepat memasuki rumah. Terhenti. Pak Suro dengan berdiri di pimtu, berjalan maju dengan langkah yang termat ringan. Wajahnyapun tidak menunjukkan kemarahan namun tidak juga senyum. Sulistyo berjalan mundur ke halaman rumah yang cukup lebar. Lima langkah depan pintu pak Suro menghentikan langkahnya, hanya berdiri. Mata pak Suro menatap kedepan tanpa memandang curiga pada apapun juga. Tentara Belanda semakin tidak sabar melihat apa yang terjadi selanjutnya.
“Te lang (terlalu lama)”, kata komandan. Hampir bersamaan tentara tentara Belanda mengangkat senjata dan mengokangnya. Suara “kleikkk” bersamaan dengan Sulistyo dalam posisi kuda kuda, kedua kaki turun setengah jongkok , kaki kiri menyilang samping belakang, sementara tangan bersilang tangan kanan didepan dengan kedua bilah pisau dalam genggamannya.”
“ Voor een moment (sebentar)”, kata komandan sekaligus dengan gerakan tangannya memerintahkan menurunkan senjata. Sulistyo yang siap dengan kuda kudanya diperintahkan untuk untuk menyarungkan dua pisaunya. Senyum lega wajah Sulistyo meredakan ketegangannya sendri. Satu tarikan belum selesai, sang komandan mencabut pistolnya dan menyerahkan pada Sulistyo.
“Schiet hem gewoon neer ( tembak saja dia )”, perintahnya. Sulistyo dengan tangan gemetar menerima langsung dan langsung menodongkan ke pak Suro.
“Schiet…”, bentak komandan.
Doorrr.
Peluru mengenai dada bagian kiri. Pak Suro tak bergeming dan melangkah maju.
Doorrr.
Mengenai dada bagian kanan. Tubuh pak Suro sedikit terpental namun tetap lanjut melangkah maju.
Doorrr.
Pak Suro terlempar dan roboh. Sang komandan merebut pistol di tangan Sulistyo dan menembakkan keatas dua kali memerintahkan bubar, kembali ke markas. Sulistyo ikut bersama pasukan Belanda. Yani yang masih pusing tersadar dari pingsannya merangkak mendekati bapaknya yang sudah bersimbah darah tertutup kepulan debu hentakan sepatu lars. Begitulah kejadian yang menimpa keluarga pak Suro sebelum kedatangan Atmo, Mardi, Han Han dan Kholili.
Angin yang bertiup dalam rumah pak Suro mewangi bunga kenanga yang tumbuh di pinggir ‘blulmbang gedhe”. “Ngger, Atmo, Mardi, Han Han, Kholili lan loro maneh sapa mau, titp Yani, Sulistyani”. Genggaman tangan pak Suro pada telapak tangan Atmo mengendur dan lepas.
#Bersambung.






