CO PATRIOT X  #OperasiProdeo V

CO PATRIOT X #OperasiProdeo V

CO PATRIOT X
#OperasiProdeo V

Oleh: Gati Andoko

“Mripatku endi hugghh..hkk mripatku ilang siji hakakk mripatku nang endi……..”, teriak Rambat begitu sadar. Mau bangun dari tidurnya namun badan terasa berat dan sakit sekujur tubuh. Kondisi Rambat sangat mengenaskan. Wajah sudah tak berbentuk, mata kiri memutih dan masih mengeluarkan darah, Lutut kaki kanannya dalam keadaan darurat disangga dengan kulit kayu waru dan diikat dengan pelepah lompong kering, demikian pergelangan tangan kiri persendiannya lepas.
“Mripatku endiiiiii….”, teriak keras Rambat mencari mata kirinya. Ningsih yang duduk disamping Rambat tak bisa berbuat apa, menyentuhpun tiadak berani, takut menyakiti. Hanya bisa menangis. Wien Nio langsung pulang kerumah setibanya di Ngawen rumah pak Dukuh. Han Han, Mardi dan Kholili tidak tega melihat keadaan Rambat menjauh duduk di tepi kolam ikan milik pak Dukuh. Satu pengikut Djendral Soedirman berangkat ke Ngemplak Plosok Gede melaporkan keadaan. Hanya pemuda pemuda dari Kangkungan dan Tirto yang sesekali menemani Ningsih yang tak beranjak dari sisi Rambat. Untunglah bapak dan ibu Dukuh sangat telaten menangani Rambat. Rombongan Atmo belum dating juga.
“Mripatku endiiiii…..”, teriak Rambat sangat keras.
“Aku Ningsih kang, disampingmu”,kata Ningsih sesenggukan dan masih tak berani menyentuh. Bu Dukuh yang sudah menyiapkan sarapan sedari tadi belum ada yang menyantapnya.
“Nak, sarapan dulu”. Kesekian kalinya ditawarkan. Pemuda pemuda Kangkungan dan Tirto merasa tak enak hati dengan bu Dukuh yang sangat ramah dan sabar, mengawali mengambil nasi, sambel jenggot dan daun singkong rebus.
“Ningsih, sarapan dulu”,pinta salah satu pemuda. Ningsih tak menjawab dan tetap memperhatikan Rambat yang mulutnya bergerak menyebut nama.
“Apa Kang?”, tanya Ningsih. Rambat hanya menggerakkan mulut menyebut nama tanpa suara. Mardi! Segera Ningsih memanggil Mardi yang masih duduk duduk bersama Han Han dan Kholili. Bertiga mendekati Rambat.
“Mbat, ini aku Mardi”. Mulut Rambat bergerak meminta Mardi untuk mendekatkan telinganya. Mardipun mendekatkan telinganya nyaris nempel di mulut Rambat. Rambat sedang mengatakan sesuatu.
“Iya mbat”, kata Mardi dengan wajah merah sebam menahan kantuk dan tangis. Mardi lari begitu saja mengagetkan orang orang disekitarnya.
“Mardi…”, teriak Han dan Kholili bersamaan dan langsung mengejar Mardi yang telah
“ambyur” dalam kolam ikan. Han hand an Kholili ikut “ambyur” dalam kolam mengangkat tubuh Mardi yang masih menyisakan teriakan sangat keras. Mardi menyelam di kolam hanya ingin berteriak. Atmo dengan menenteng senapan mesin dan merangkul sinden Sukati dari kejauhan melihat Mardi, Han Han dan Kholili bergegas diikuti Supri, pengikut Soedirman dan pemuda laiinya.
“Ningsih, tolong bantu”, Atmo. Ningsih memapah sinden Sukati yang hanya tertutup selembar kain. Bu Dukuh membantu menyiapkan tempat tertutup. Sinden Sukati dengan tangan memegang erat kain duduk, diam dengan tatapan mata kosong. Atmo mendatangi Mardi yang dipapah Han Han dan Kholili. Dipeluknya Mardi dan mengusap usap rambutnya.
“Nangis bae ora ngapa ngapa, uwis suwe dene slirane ora nangis, wis nangis”, kata Atmo sambil terus memeluk dan mengusap kepala Mardi. Mardi menangis sekencang kencangnya.
“Han, ambilkan air sana”, Atmo. Han Han mengambil segelas air putih hangat dan diserahkan pada Atmo.
“Nhaa…kiye ngumbe disit yak”, Atmo mendekatkan gelas pada mulut Mardi. Mardipun meminumnya. Kholili anak laki laki keturunan Madura yang sangat pantang menangis tetap saja air mata keluar. Han Han juga terbawa suasana.
“Rambat minta aku agar menembaknya, dia tidak mau merepotkan kita semua”, Mardi dengan isak tangisnya.
“Mardii….i Mardi adike inyong, kaya ora ngerti Rambat bae, dheweke wis kaya Jurang Gawah “, Atmopun berhasil menghiburnya. Han Han, Kholili begitu ingat tokoh pewayangan Jurang Gawah tertawa, Mardipun yang hafal cerita pewayangan tertawa menyertai tangisnya.
“Hei kalian bertiga, masa tidak lihat apa, yang aku rangkul aku papah itu sinden Sukati”, canda Atmo lagi. Mardi sambil mengusapa air matanya gelagapan. Demikian Han Han dan Kholili ikut gelagapan juga.
“Kelihatannya masih ketakutan sekali, dari tadi tidak bicara sedikitpun, yuk kita temui dia”, ajak Atmo. Baru berdiri, kedatangan seorang laki laki berbadan cukup tegap mengaku dari dusun Mutihan. Memberi tahu bahwa Tentara Belanda sedang bersiap bergerak keselatan melalui jalan Klangon, Tugu Wesi dan lewat Jambu arah Watu Congol.
“Siagaa….”, teriak Atmo.
“Terima kasih sekali kisanak, telah memberi tahu kami”, kata Atmo kepada seorang dari dusun Mutihan.
“Sama sama kisanak, silahkan mampir digubug kami, tinggal turun dari puncak Gungun Pring sisi selatan”, jawabnya.
Semua sibuk. Sinden Sukati masih belum beranjak dari duduknya denagan tatapan kosong. Pemuda pemuda membuat tandu sederhana untuk Rambat. Senjata senjata hasil rampasan para pecundang bangsa dibagi bagi. Bapak dan ibu Dukuh Ngawen sangat cekatan membantu segala sesuatunya, menghilangkan jejak agar tak dicurigai pihak Belanda. Ningsih mengajak sinden Sukati untuk segera pergi, lagi lagi tetap diam.
“Ini bagaimana”, teriak Ningsih penuh kekhawatiran. Tak ada yang menjawab. Han Han, Mardi dan Kholil membopong Rambat dengan sangat hati hati meletakkan di atas tandu yang disiapkan para pemuda. Atmo wara wiri mengatur kesiapan semuanya.
“Ini Bagamanaaa”, teriak Ningsing yang kebingungan dengan keadaan sinden Sukati. Pak dan bu Dukuh tidak berhasil membujukanya.
“Kita harus segera menyeberangi kali Blongkeng, segera”, teria Atmo. Para pemuda sudah mengangkat tandu siap jalan. Supri menghitung hitung jumlah rampasan granat. Pengikut Sang Djendral bergerak lebih duklu membuka jalan.
“Ini Bagamanaaa”, Ningsih nangis kebingungan dengan keberadaan sinden Sukati meski sudah digoyang goyangkan badannya tetap saja diam. Bergantian membujuk namun tetap saja tak berhasil. Dari kejauhan lelakai dari Mutihan berteriak sambil melambaikan tangannya.
“Belanda sudah kelihataaaannnn!’.
Keaadan semakin genting. Atmo terpaksa turun tangan menangani sinden Sukati.
“Jeng, harus berangkat sekarang”, kata Atmo. Masih juga belum bicara dan tatapan matanya tetap kosong, tangan Sukati meraih lengan kanan Atmo. Sekilas melihat peristiwa ini Mardi, Kholili dan Han han yang tegang dari tadi misuh dalam hati, ASYUUU!
Dengan langkah cepat. Reruntuhan candi Ngawen dilewati, ke timur jalan setapak sangat menyulitkan keempat pemuda yang memanggul tandu. Terpaksa tanaman padi sawah setinggi perut diterjangnya. Suara suar tembakan sudah terdengar ketika memasuki gerumbul dan menuruni pereng sungai. Atmo yang kesulitan juga menenteng senpan mesin dan rentengan peluru ditambah Sukati yang tak mau melepaskan lengan Atmo.
“Supriii…bagi granat”, teriak Atmo.
“Dahulukan Rambaaaatt…”. Teriak Han Han.
Sungai Blongkeng sudah menyatu dengan kali Lamat cukup dalam.
Suara tembakan semakin gencar, tambahkan pula jeritan jeritan orang dikejar juga jeritan erangan nyawa. Han Han, Mardi, Kholili dan Supri bergantian melempar granat. Pengikut Djendral Soedirman sebagai pembuka jalan membantu pemuda pemuda yang memikul tandu agar segera menyeberang. Atmo dengan menempatkan Sukati dibelakang badannya memberondong dengan senapan mesinnya. Semua sudah menuruni jurang dan menyeberangi sunga menaiki pereng seberangnya.
“Kaang cepat menyeberang”, teriak Mardi. Dari seberang sungai nampak pengungsi yang berlarian menerjang sawah berjatuhan semakin banyak. Tentara Belanda sudah di bibir suangai. Atmo dan sinden Sukati terjebak dan hanya menempelkan tubuhnya pada pereng sungai. Pengunsi yang menyebarangi sungai diberondong begitu saja. Kali Blongkeng memerah. Han Han, Kholili terlebih Mardi yang khawatir dengan situasi Atmo sekuat daya mengalihkan Belanda agar tidak menyeberangi sungai. Balasan serangan dari seberang sungai tak bisa menggoyahkan pasukan Belanda untuk terus menyerang.
“Jangan menyeberaang….”, teriak Supri mengingatkan Han Han, kholili dan Mardi yang akan nekat menyeberangi sungai kembali. Mardi terkapar jatuh tertembak perutnya merayap berlindung. Han Han terpental lengan tangan kirinya tertembus peluru. Kholili melompat sembunyi di balik batu dengan sisa satu buah granat dan siap dilemparnya. Atmo yang tebebani Sukati bersiap mati “sampyuh” menunggu Belanda menuruni tebing. Dari seberang suangai sudah tidak ada tembakan lagi dan tidak ada kelebat orangpun.
“We moeten achtervolgen”.
Derap kaki tentara Belanda membuat longsoran kecil tebing sungai. Satu satu tentara Belanda menuruni tebing namun Atmo dan Sukati belum ada dalam jarak pandangnya. Lima tentara Belanda menyeberangi sungai. Salah satu tentara pandangan berbalik, terbelalak kaget melihat Atmo menodongkan senapan mesin kearahnya. “Mati Sampyuh’, lagi lagi Atmo membatin. Diberondonongnya kelima tentara yang menyeberangi sungai. Kholili dengan granat terakhirnya melemparkan kearah tentara yang menuruni tebing.
“Duivel”, teriak Komandan Belanda. Belum sempat membalas tembakan, ratusan parajurit Djendral Soedirman memberondongnya dari seberang suangai sisi selatan. Disusul bantuan tambahan pemuda pemuda Kangkungan dan Tirto dengan jumlah ratusan menmbaki Belanda dari sisi utara.
“Ga terug”. Perintah mundur. Sekadar membalas tembakan tak berarti, tentara Belanda bergerak mundur.
Kali Blongkeng bau anyir darah, belum lagi persawahan desa Ngawen bergelimang tubuh manusia menyatu dengan lumpur tanah.

Ngemplak Plosok Gede Ngluwar.
Atmo tak mau jauh dari Mardi yang sedang ditangani perawat anak buah dokter Soewondo. Kholili terus menghibur Han Han dengan candaannya yang juga dalam perawatan lengan tangannya. Kejiwaan Rambat mulai membaik meskipun badanya belum bersahabat untuk bergerak. Ningsih masih setia menemaninya.
Sinden Sukati?
Tenang. Sudah tidak lagi menggelayut pada lengan Atmo. Itu yang penting. Diluar rumah joglo terdengar yang sepertinya orang penting berbicara dengan pemuda pemuda Kangkungan dan Tirto.
(OS/Off Sound)
“Hebat, Kangkungan dan Tirto, kalian sungguh tidak memalukan nenek moyangmu pajuang gigih bersama Pangeran Diponegoro”.
“Trima kasih pak”, jawab pemuda.
“Bagaimana dengan patung patung berserak peninggalan Mataram kuna, masih?’.
“Banyak dibawa Belanda pak”, jawab pemuda yang lain.
“Sayang sekali”.
Suara dari luar rumah joglo itupun semakin menjauh. Atmo, Han Han, Kholili dan Ningsih hanya mendengarkan saja karena sedang tidak meninggalkan perhatiannya pada Mardi, Han Han terutama Rambat. Kedatangan ajudan orang penting tadi juga tak begitu dihiraukannya.
“Maaf kisanak, saya cuma menyampaikan salam dari Bapak Kolonel Simatupang”, katanya
“Atas saran beliau juga, sebaiknya kisanak semua tinggal dulu di bukit Menoreh, biar yang sakit bisa tertangani dengan seksama”, tambahnya.

Tahun Baru telah tiba, 1 Januari 1949. Tak ada perayaan apapun karena memang tak mengenalnya. Biasanya hanya orang orang Belanda saja yang merayakannya. Jangankan tahun baru. Di tahun baru ini juga Atmo, Mardi< han Han, Kholili, Rambat dan Ningsih dengan “getek” menyeberangi suangai Progo di hulu selokan Mataram.Pemuda pemuda Kangkungan dan Tirto juga sebagian besar prajurit Djendral Soedirman ikut “nguntabke” (menghantar) hingga tepian sungai Progo (Ancol). Tak ketinggalan, sinden Sukati ikut menghantar dengan pandangan terus tertuju pada sosok Atmo. Ya Atmo. Orang yang telah melindungi kehormatan dan hidupnya. “Lantunan tembang tembangku kupersembahkan untukmu, Atmo”.



Advertisement

Baca juga:

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar