CO PATRIOT X
#OperasiProdeo IV
Oleh: Gati Andoko
30 Desember, sore hari.
Terancam gagal. Keberadaan Atmo, Mardi,Han Han, Kholili dan Ningsih sudah dikenali. Sketsa wajahnya terpampang di mana mana dan ditetapkan sebagai buronan paling berbahaya dengan ancaman hukuman mati. Pak Suro penjual kupat tahu, sketsa wajahnya juga terpampang jelas sebagai bandit yang harus ditangkap. Tak lain, gara gara insiden semalam di warung pak Suro yang menyebabkan dua orang meninggal dan dua orang lagi meloloskan diri. Sudah dipastikan bahwa dua orang yang lolos adalah mata mata Belanda yang menyamar sebagai pejuang. Ningsih yang seharusnya bersama Wien Nio menjaga lorong “gudang uyah” terpaksa diurungkan dan meninggalkan Wien Nio sendirian. Han Han dan Mardi terpaksa harus lari tunggang langgang ketika dikejar sepasukan Belanda yang dibantu oleh beberapa pribumi berpakaian pejuang. Atmo dan Kholil lebih parah lagi, berdua terlibat dalam perkelahian seru dengan segerombolan pribumi berpakaian pejuang pula, bahkan harus adu tembak. Beruntung Atmo dan Kholil bisa meloloskan diri. Kaberadaan dua pengikut Djendral Soedirman pemuda pemuda Kangkungan juga Tirto tak diketahui. Komunikas diantaranya terputus. Tercerai berai. Kholili yang ditugasi Atmo untuk mencari Han Han dan Mardi sampai ke makam Kyai Raden Santri hingga sudut sudut tersembunyi ikota maupun pasar tidak membuahkan hasil. Di tempuran kali Lamat dengan sungai kecil sebelah utara persis jembatan kali Lamat Atmo dan Kholili sembunyi. Rimbunnya pohon pohon besar cukup aman untuk sembunyi sekaligus bisa memantau lalu lalang patrol tentara Belanda di jalan utama Nampak jelas. Kedatangan sepasukan tentara Belanda dari Jogya juga terpantau oleh Atmo dan Kholili.
“Ningsih dimana kira kira, aku lebih menghawatirkannya dari pada Han Han dan Mardi yang lebih biasa menghadapi situasi sulit? tanya Atmo.
“Aku ya ngono kang, kuatir karo arek wedok siji kae”, jawab Kholili.
“Saatnya kita bermain dengan bayangan kita sendiri’, Atmo.
“Maksude?’, tanya Kholili.
“Belum lihat kereta dari Jogya melintas kan, tepat di jembatan kereta kali Lamat pastilah pelan sampai stasiun”, jelas Atmo.
“Hah…”, Kholili tersadar dan paham apa yang dimaksud Atmo.
“Kae kae suarane hahaha…..sepure datang, ga moga sinden Sukati melok sepur iku haha…”, Kholili masih sempat bercanda juga.
“Hushhh luambemu…”.
Atmo dan Kholili melompati kali kecil lantas sedikit menanjak dan menunggu kereta yang mulai pelan jalannya. Melompatlah mereka berdua dan langsung berbaur dengan penumpang lainnya.
“Kkkkaang kkaeee Nyi Surati”, Kholili tergagap kegirangan saat meliha sosok wajah sinden Surati yang duduk berdesakan dengan penumpang lainnya. Atmo terpaksa memegang lengan Kholili dengan kencang, mencegah Kholili agar jangan jadi pusat perhatian.
“Sinden Surati akan turun di setasiun, pastilah akan jadi pusat perhatian, kita nanti lompat turun tepat depan warung Wien Nio,Paham?’, bisik Atmo. Kholili mengangguk dan meringis karena tangannya masih dicengkeram Atmo. Benar juga. Kereta api sangat pelan sekali begitu sampai “tugu wesi”. Sinden Sukati melomgok keluar jendela memperlihatkan wajahnya. Riuh sekali orang mengelu elukan nama Sukati dan tak sedikit orang mengejar mendekati kereta yang tengah jalan pelan. Tepat depan Klentheng kereta lebih memperlambat jalannya. Keriuhan berebut untuk menyambut sinden Sukati semakin kacau. Saat itulah Atmo dan Kholili turun dan menerobos keriuhan orang orang. Langsung mendekati warung Wien Nio yang ternyata ditemani dua pemuda dari Kangkungan. Wien Nio tanggap dengan situasi seperti ini langsung membuka pintu gerbang “gudang uyah” yang sengaja ditutup.
“Mas tolong jaga sebentar warungnya ya”, pinta Wien Nio kepada dua pemuda Kangkungan. Atmo dan Kholili ditemani Wien Nio masuk dan menutup kembali pintu gerbang.
“Hahh…sampai deg degan lho dada saya ini, tak piker dah ndak bisa ngumpul lagi”, keluh Wien Nio.
“Iya tapi ndak usah manja kaya koen iku”, canda Kholili.
“Haasshh embuhhh….tak lempar lho”, Wien Nio ketus.
“Kang Atmo, aku tak balik jaga warung ya, itu koh Han Han, mas Mardi dan Ningsih dibalik reruntuhan itu”, Wien Nio sambil menunjuk.
“Ati ati cah ayu nan manjaaa”, Atmo juga ikutan menggoda.
“Kang Atmoooo…..”, Wien Nio teriak keras.
“Ssssstttt……!
Karena tidak diperbolehkan keluar oleh Atmo, jadilah Han Han, Mardi dan Kholili berebut melalui lobang pintu danya untuk melihat kedatangan sinden Sukati.
“Wah wah….pengunjung pada berjajar, ibu ibu yang menggendong bayi meminta sinden Sukati menciumnya, pengin jadi bayi lagi”, teriak Han Han. Gantian Kholili melihat melalui lobang yang sama.
“Iya tah pada berebut minta salaman, gak lanang gak wedok”, Kholilipun terkagum dengan pesona sinden Sukati. Mardi menarik tubuh Kholili, gentian.
“Ayu nemen yak, lambene lenjeh banget”, komentar Mardi. Kholili ganti menarik tubuh Mardi.
“Cleguukkk….!’, Kholili menelan ludah. Atmo dan Ningsih senyam senyum melihat tingkah mereka bertiga. Han Han menarik tubuh Kholili hingga terlempar agak jauh,
“Jalannya itu lho, wuihhh… bokongnya mendut mendut”, Han Han mulai rada seronok dan memancing Mardi. Mardi yang bercita cita sebagai guru terpengaruh pancingan Han Han.
“Hwaaa…susune…. susune, su-sssu…ne”, Mardi sangat malu ketika menoleh kebelakang ternyata Atmo menjewer kuping Mardi. Atmo yang memang kakak Mardi menunjukkan sikapnya. Rasa malu Mardi tak bisa ditutupi. Han Han dan Kholili sampai berguling guling menahan tawa. Ningsih dengan gaya wajah kekanak kanakan menggoda Mardi. Mardi sendiri dengan wajah merah padam menahan malu menendang kaki Han Han dan Kholili yang masih bergulingan, sementara Ningsih yang takut mau dikejar Mardi berlindung dibalik badan Atmo dengan terus menggoda Mardi.
Keriuhan warga menyambut kedatangan sinden Sukati ditimpali suara gamelan yang mulai ditabuh. Ki Dalang Djojo Soekandar yang sudah berada dalam posisinya mengawali pertunjukan wayang dengan bunyi “Kecrek” dan “dodog kotak”. Ribuan penonton yang memadati area Klentheng tidaklah mencukupi, namun keributan tidak muncul begitu ki Dalang menyampaikan “suluk mantram”nya. Atmo, Han Han, Mardi, Kholili dan Ningsih menutup telinga rapat rapat dan tidak peduli apa yang terjadi luar.
“Mardi, tolong panggil salah satu pemuda Kangkungan atau Tirto, lebih pas lagi kalu salah satu pengikut Djendral Soedirman jika ada”, perintah Atmo.
“Baik Kang”, jawab Atmo
“Awas cukup dibalik pintu manggilnya jangan keluar, jangan ngintip susu lagi”, goda Atmo. Mardi hanya garuk garuk kepala tau kalau diejek kakaknya dan tidak beranjak pergi.
“Ayo cepat, malah…”.
Mardipun lari dekat pintu dan memanggil Wien Nio dengan ketukan pintu. Wien Nio tanggap mendengar bisikan Mardi. Salah satu pemuda Tirto mengendap masuk dan langsung bergabung.
“Berhasil tidaknya nanti, kita tetap kembali kesini, aku rasa lorong lorong yang kita lewati terbilang aman”, kata Atmo.
“Apakah tetap harus senyap?’, tanya Han Han.
“Haruslah”, jawab Mardi
“Maaf kisanak, siapa namamu?”, tanya Atmo kepada pemuda Tirto.
“Supri”, jawabnya singkat.
“Tengah malam nanti atau ngepasi “goro goro”, pancing tentara penjaga di “tugu wesi” bergerak ke timur, terserah bagamana caranya yang penting jangan ada suar senapan”, kata Atmo. Supri mengangguk, paham.
“Sebagian buat kekacauan di perempatan Tambakan selatan depan depot es Wien Nio, laig lagi jangan ada tembakan”, tambahnya.
“Sepertinya aku yang disitu hehehe…buat kekacauan”, jawabnya santai.
“Dengan terpaksa Ningsih tinggal disini, berani kan?’, tanya Atmo. Ningsih menganggu tegas.
Supri keluar dan langsung menemui teman temannya berkoordinasi secara sembunyi dan berbagi tugas sesuai yang direncanakan. Atmo, Han Han, Kholili dan Mardi dengan tanpa senjata senapan keluar melalui jendela belakang, menelusuri lorong lorong gelap juga sungai kecil sesuai pentunjuk papahnya Wien Nio. Peta buta sudah melekat dikepalanya. Sampailah dipersawahan Sleko yang berjarak sekitar 400 meter dari penjara. Menunggu tengah malam tiba.
“Mardi, Han Han, Kholili….aku percayakan tugas ini pada kalian, Rambat belum saatnya mati”, kata Atmo.
“Benar kang, cuma khawatirnya hidup tapi gendheng karena siksaan”, kata Han Han.
“Weleeehhh….Rambat gendheng gawan bayek”, Kholili.
“Ssssstttt….suatu ketika kita juga akan gendheng semua hihihi…”, Mardi.
Sayup suara gamelan wayang terdengar. Suara gemuruh tepuk tangan juga jelas terdengar. Kegembiraan warga Muntilan dan sekitarnya sungguh tak terkira. Himpitan ekonomi, desingan peluru yang mengakibatkan darah mengalir, terlupa. “Dosa besar jika menggangu kegembiraan mereka”, pikir Atmo. Tanda tanda gending “goro goro” sudah terdengar. Berjalan mengendap samapi dusun Beteng dan mendekati penjara. Mardi, Han Han dn Kholili bergantian menaiki benteng. Atmo berjaga di bawah benteng sisi luar. Suara gamelan dan gemuruh tepuk sorai penonton tertutup oeh suara suara serangga malam. Han Han dan Mardi sedang berusaha membuka paksa jendela besi baian belakang. Kholili menaiki atap genteng, memantau situasi bagian depan penjara. Satu Jeep melaju kencang dari arah selatan, langsung balik lagi dengan beberapa tentara. Kesempatan terbaik. Han hand an Mardi terjun di bagian dalam penjara, berguling, melompat melumpuhkan 4 penjaga.
“Jeep kembali lagi”, teriak Kholili.
Mardi menacari kunci penjara dan membukanya, Rambat yang terkulai telanjang tak sadarkan diri diangkat oleh Han Han. Mardi juga membuka pintu penjara lain.
“Lewat belakang”, Mardi mengarahkan para tahanan lain melalui jendela besi yang sudah dibukanya.
“Cepaaaaat”, teriak Kholili. Teriakan Kholili terdengar oleh tentara yang baru dating mengendarai Jeep. Tak bisa dielakkan. Kholili harus melompat kesanan kemari menghinadari berondongan tembakan. Kholili terus melompat lompat di atap genteng sambil melempar genteng genteng sekenanya. Bala bantuan tentara Belanda berdatangan mengendarai truk. Kholili terjun begitu saja dari atap dan melompati benteng sisi timur. Kejaran tentara Belanda berhenti. Kholili tidak tampak tertelan gelapnya malam. Sebagian pasukan Belanda masuk bagian depan penjara mendapati 4 tentara meregang nyawa dan penjara telah kosong.
“Verspreid!’,teriak komandan memerintahkan untuk menyebar. Dusun Koplak Balemulyo yang warganya sebagian besar menonton pertunjukan wayang, pintu pintu rumahnya didobrak roboh. Dusun Beteng kena imbasnya demikian juga merambah hingga Kauman. Nihil. Berbalik, mengarah ke selatan. Wayang Tancep Kayon. Warga muali berduyun pulang ke rumahnya ke segala penjuru tanpa menaruh curiga pada tentara Belanda yang nampak terburu mengejar sesuatu. Keributan kecil terjadi di perempatan “tugu wesi”, Perkelahian menegangkan terjadi di perempatan Tambakan selatan hingga utara, sementara di pusat keramaian, yakni Klentheng pemuda pemuda berbaju pejuang bikin onar. Kacau. Suara suara tembakan beruntun terdengar di segala penjuru kota. Warga yang tadinya tak menaruh curiga, bingung ketakutan berlarian tak tau tujuan. Benar benar kacau. Tentara tentara Belanda juga kebingungan, tembakan diarahkan kemana. Akhirnya pasukan Belanda merapatkan barisan di perempatan “tugu wesi”. Kholili yang sempat menuruni dan menyusuri sungai Lamat berabaur dengan warga yang tengah bingung berlariani, menuju pusat keramaian (Klentheng) yang tengah kacau juga. Wien Nio sudah tidak berada di tempat. Para niyaga sibuk menyelamatkan gamelan. Ki Dalang Djojo Soekandar diselamatkan oleh pendeta Kong Hu Chu memasuki Klentheng. Sinden Sukati hanya meninggalkan tepak bokongnya, tak tahu di mana sekarang. Kholili menyelinap sisi timur Klentheng, melompati tembok masuk “gudang uyah”.
“Kholili”, teriak Mardi yang suadah dating lebih dulu. Han Han, Wien Nio, Ningsih dan satu orang pemuda Kangkungan mengerumuni Rambat. Atmo yang tidak ada.
“Gerak cepat mencari celah agar segera keluar dari sini menuju Ngawen” kata Mardi.
“Bagaimana kang Atmo”, tanya Kholili.
“Jangan khawatir, kang Atmo sedang melabrak pemuda pemuda yang menggelandang sinden Sukati dengan senapan mesinnya”, kata Han Han. Berbaur dengan para niyaga yang mengangkat gamelan dan menaikaanya keatas dokar, Rambat yang masih belum sadar juga diangkat oleh pemuda Kangkungan bersama sama menyeberang jalan kea rah selatan melalui sela sela rumah yang cukup padat.
Tobong kosong.
Disinilah, sinden Sukati ditelanjangi bulat bulat oleh sekawanan pemuda berbaju pejuang. Tak ubahnya adegan Dewi Drupadi ditelanjangi oleh Kurawa akibat Pendawa kalah main dadu. Atmo yang sedemikian kalap ditemani oleh pemuda pemuda Kangkungan , Tirto juga satu pengikut Djendral Soedirman melabarak dan mengepung Tobong di pasar Muntilan. Yang berkeliaran berjaga diluaran dihabisi oleh pengikut Soedirman, sementara Atmo mendobrak pintu tobong dan memberondong habis pemuda pemuda antah berantah ini. Belasan orang antah berantah baik yang di luar dan di dalam tobong meregang nyawa.
“Supriii….ajak teman teman mengikutiku”, teriak Atmo pada Supri sambil mengambil kain untuk menutupi tubuh sinden Sukati, memapahnya pergi melalui los los pasar, kearah dusun Pandansari kidul pasar dan menyusuri bantaran sungai Keji.
#Bersambung
#OperasiProdeo IV
Oleh: Gati Andoko
30 Desember, sore hari.
Terancam gagal. Keberadaan Atmo, Mardi,Han Han, Kholili dan Ningsih sudah dikenali. Sketsa wajahnya terpampang di mana mana dan ditetapkan sebagai buronan paling berbahaya dengan ancaman hukuman mati. Pak Suro penjual kupat tahu, sketsa wajahnya juga terpampang jelas sebagai bandit yang harus ditangkap. Tak lain, gara gara insiden semalam di warung pak Suro yang menyebabkan dua orang meninggal dan dua orang lagi meloloskan diri. Sudah dipastikan bahwa dua orang yang lolos adalah mata mata Belanda yang menyamar sebagai pejuang. Ningsih yang seharusnya bersama Wien Nio menjaga lorong “gudang uyah” terpaksa diurungkan dan meninggalkan Wien Nio sendirian. Han Han dan Mardi terpaksa harus lari tunggang langgang ketika dikejar sepasukan Belanda yang dibantu oleh beberapa pribumi berpakaian pejuang. Atmo dan Kholil lebih parah lagi, berdua terlibat dalam perkelahian seru dengan segerombolan pribumi berpakaian pejuang pula, bahkan harus adu tembak. Beruntung Atmo dan Kholil bisa meloloskan diri. Kaberadaan dua pengikut Djendral Soedirman pemuda pemuda Kangkungan juga Tirto tak diketahui. Komunikas diantaranya terputus. Tercerai berai. Kholili yang ditugasi Atmo untuk mencari Han Han dan Mardi sampai ke makam Kyai Raden Santri hingga sudut sudut tersembunyi ikota maupun pasar tidak membuahkan hasil. Di tempuran kali Lamat dengan sungai kecil sebelah utara persis jembatan kali Lamat Atmo dan Kholili sembunyi. Rimbunnya pohon pohon besar cukup aman untuk sembunyi sekaligus bisa memantau lalu lalang patrol tentara Belanda di jalan utama Nampak jelas. Kedatangan sepasukan tentara Belanda dari Jogya juga terpantau oleh Atmo dan Kholili.
“Ningsih dimana kira kira, aku lebih menghawatirkannya dari pada Han Han dan Mardi yang lebih biasa menghadapi situasi sulit? tanya Atmo.
“Aku ya ngono kang, kuatir karo arek wedok siji kae”, jawab Kholili.
“Saatnya kita bermain dengan bayangan kita sendiri’, Atmo.
“Maksude?’, tanya Kholili.
“Belum lihat kereta dari Jogya melintas kan, tepat di jembatan kereta kali Lamat pastilah pelan sampai stasiun”, jelas Atmo.
“Hah…”, Kholili tersadar dan paham apa yang dimaksud Atmo.
“Kae kae suarane hahaha…..sepure datang, ga moga sinden Sukati melok sepur iku haha…”, Kholili masih sempat bercanda juga.
“Hushhh luambemu…”.
Atmo dan Kholili melompati kali kecil lantas sedikit menanjak dan menunggu kereta yang mulai pelan jalannya. Melompatlah mereka berdua dan langsung berbaur dengan penumpang lainnya.
“Kkkkaang kkaeee Nyi Surati”, Kholili tergagap kegirangan saat meliha sosok wajah sinden Surati yang duduk berdesakan dengan penumpang lainnya. Atmo terpaksa memegang lengan Kholili dengan kencang, mencegah Kholili agar jangan jadi pusat perhatian.
“Sinden Surati akan turun di setasiun, pastilah akan jadi pusat perhatian, kita nanti lompat turun tepat depan warung Wien Nio,Paham?’, bisik Atmo. Kholili mengangguk dan meringis karena tangannya masih dicengkeram Atmo. Benar juga. Kereta api sangat pelan sekali begitu sampai “tugu wesi”. Sinden Sukati melomgok keluar jendela memperlihatkan wajahnya. Riuh sekali orang mengelu elukan nama Sukati dan tak sedikit orang mengejar mendekati kereta yang tengah jalan pelan. Tepat depan Klentheng kereta lebih memperlambat jalannya. Keriuhan berebut untuk menyambut sinden Sukati semakin kacau. Saat itulah Atmo dan Kholili turun dan menerobos keriuhan orang orang. Langsung mendekati warung Wien Nio yang ternyata ditemani dua pemuda dari Kangkungan. Wien Nio tanggap dengan situasi seperti ini langsung membuka pintu gerbang “gudang uyah” yang sengaja ditutup.
“Mas tolong jaga sebentar warungnya ya”, pinta Wien Nio kepada dua pemuda Kangkungan. Atmo dan Kholili ditemani Wien Nio masuk dan menutup kembali pintu gerbang.
“Hahh…sampai deg degan lho dada saya ini, tak piker dah ndak bisa ngumpul lagi”, keluh Wien Nio.
“Iya tapi ndak usah manja kaya koen iku”, canda Kholili.
“Haasshh embuhhh….tak lempar lho”, Wien Nio ketus.
“Kang Atmo, aku tak balik jaga warung ya, itu koh Han Han, mas Mardi dan Ningsih dibalik reruntuhan itu”, Wien Nio sambil menunjuk.
“Ati ati cah ayu nan manjaaa”, Atmo juga ikutan menggoda.
“Kang Atmoooo…..”, Wien Nio teriak keras.
“Ssssstttt……!
Karena tidak diperbolehkan keluar oleh Atmo, jadilah Han Han, Mardi dan Kholili berebut melalui lobang pintu danya untuk melihat kedatangan sinden Sukati.
“Wah wah….pengunjung pada berjajar, ibu ibu yang menggendong bayi meminta sinden Sukati menciumnya, pengin jadi bayi lagi”, teriak Han Han. Gantian Kholili melihat melalui lobang yang sama.
“Iya tah pada berebut minta salaman, gak lanang gak wedok”, Kholilipun terkagum dengan pesona sinden Sukati. Mardi menarik tubuh Kholili, gentian.
“Ayu nemen yak, lambene lenjeh banget”, komentar Mardi. Kholili ganti menarik tubuh Mardi.
“Cleguukkk….!’, Kholili menelan ludah. Atmo dan Ningsih senyam senyum melihat tingkah mereka bertiga. Han Han menarik tubuh Kholili hingga terlempar agak jauh,
“Jalannya itu lho, wuihhh… bokongnya mendut mendut”, Han Han mulai rada seronok dan memancing Mardi. Mardi yang bercita cita sebagai guru terpengaruh pancingan Han Han.
“Hwaaa…susune…. susune, su-sssu…ne”, Mardi sangat malu ketika menoleh kebelakang ternyata Atmo menjewer kuping Mardi. Atmo yang memang kakak Mardi menunjukkan sikapnya. Rasa malu Mardi tak bisa ditutupi. Han Han dan Kholili sampai berguling guling menahan tawa. Ningsih dengan gaya wajah kekanak kanakan menggoda Mardi. Mardi sendiri dengan wajah merah padam menahan malu menendang kaki Han Han dan Kholili yang masih bergulingan, sementara Ningsih yang takut mau dikejar Mardi berlindung dibalik badan Atmo dengan terus menggoda Mardi.
Keriuhan warga menyambut kedatangan sinden Sukati ditimpali suara gamelan yang mulai ditabuh. Ki Dalang Djojo Soekandar yang sudah berada dalam posisinya mengawali pertunjukan wayang dengan bunyi “Kecrek” dan “dodog kotak”. Ribuan penonton yang memadati area Klentheng tidaklah mencukupi, namun keributan tidak muncul begitu ki Dalang menyampaikan “suluk mantram”nya. Atmo, Han Han, Mardi, Kholili dan Ningsih menutup telinga rapat rapat dan tidak peduli apa yang terjadi luar.
“Mardi, tolong panggil salah satu pemuda Kangkungan atau Tirto, lebih pas lagi kalu salah satu pengikut Djendral Soedirman jika ada”, perintah Atmo.
“Baik Kang”, jawab Atmo
“Awas cukup dibalik pintu manggilnya jangan keluar, jangan ngintip susu lagi”, goda Atmo. Mardi hanya garuk garuk kepala tau kalau diejek kakaknya dan tidak beranjak pergi.
“Ayo cepat, malah…”.
Mardipun lari dekat pintu dan memanggil Wien Nio dengan ketukan pintu. Wien Nio tanggap mendengar bisikan Mardi. Salah satu pemuda Tirto mengendap masuk dan langsung bergabung.
“Berhasil tidaknya nanti, kita tetap kembali kesini, aku rasa lorong lorong yang kita lewati terbilang aman”, kata Atmo.
“Apakah tetap harus senyap?’, tanya Han Han.
“Haruslah”, jawab Mardi
“Maaf kisanak, siapa namamu?”, tanya Atmo kepada pemuda Tirto.
“Supri”, jawabnya singkat.
“Tengah malam nanti atau ngepasi “goro goro”, pancing tentara penjaga di “tugu wesi” bergerak ke timur, terserah bagamana caranya yang penting jangan ada suar senapan”, kata Atmo. Supri mengangguk, paham.
“Sebagian buat kekacauan di perempatan Tambakan selatan depan depot es Wien Nio, laig lagi jangan ada tembakan”, tambahnya.
“Sepertinya aku yang disitu hehehe…buat kekacauan”, jawabnya santai.
“Dengan terpaksa Ningsih tinggal disini, berani kan?’, tanya Atmo. Ningsih menganggu tegas.
Supri keluar dan langsung menemui teman temannya berkoordinasi secara sembunyi dan berbagi tugas sesuai yang direncanakan. Atmo, Han Han, Kholili dan Mardi dengan tanpa senjata senapan keluar melalui jendela belakang, menelusuri lorong lorong gelap juga sungai kecil sesuai pentunjuk papahnya Wien Nio. Peta buta sudah melekat dikepalanya. Sampailah dipersawahan Sleko yang berjarak sekitar 400 meter dari penjara. Menunggu tengah malam tiba.
“Mardi, Han Han, Kholili….aku percayakan tugas ini pada kalian, Rambat belum saatnya mati”, kata Atmo.
“Benar kang, cuma khawatirnya hidup tapi gendheng karena siksaan”, kata Han Han.
“Weleeehhh….Rambat gendheng gawan bayek”, Kholili.
“Ssssstttt….suatu ketika kita juga akan gendheng semua hihihi…”, Mardi.
Sayup suara gamelan wayang terdengar. Suara gemuruh tepuk tangan juga jelas terdengar. Kegembiraan warga Muntilan dan sekitarnya sungguh tak terkira. Himpitan ekonomi, desingan peluru yang mengakibatkan darah mengalir, terlupa. “Dosa besar jika menggangu kegembiraan mereka”, pikir Atmo. Tanda tanda gending “goro goro” sudah terdengar. Berjalan mengendap samapi dusun Beteng dan mendekati penjara. Mardi, Han Han dn Kholili bergantian menaiki benteng. Atmo berjaga di bawah benteng sisi luar. Suara gamelan dan gemuruh tepuk sorai penonton tertutup oeh suara suara serangga malam. Han Han dan Mardi sedang berusaha membuka paksa jendela besi baian belakang. Kholili menaiki atap genteng, memantau situasi bagian depan penjara. Satu Jeep melaju kencang dari arah selatan, langsung balik lagi dengan beberapa tentara. Kesempatan terbaik. Han hand an Mardi terjun di bagian dalam penjara, berguling, melompat melumpuhkan 4 penjaga.
“Jeep kembali lagi”, teriak Kholili.
Mardi menacari kunci penjara dan membukanya, Rambat yang terkulai telanjang tak sadarkan diri diangkat oleh Han Han. Mardi juga membuka pintu penjara lain.
“Lewat belakang”, Mardi mengarahkan para tahanan lain melalui jendela besi yang sudah dibukanya.
“Cepaaaaat”, teriak Kholili. Teriakan Kholili terdengar oleh tentara yang baru dating mengendarai Jeep. Tak bisa dielakkan. Kholili harus melompat kesanan kemari menghinadari berondongan tembakan. Kholili terus melompat lompat di atap genteng sambil melempar genteng genteng sekenanya. Bala bantuan tentara Belanda berdatangan mengendarai truk. Kholili terjun begitu saja dari atap dan melompati benteng sisi timur. Kejaran tentara Belanda berhenti. Kholili tidak tampak tertelan gelapnya malam. Sebagian pasukan Belanda masuk bagian depan penjara mendapati 4 tentara meregang nyawa dan penjara telah kosong.
“Verspreid!’,teriak komandan memerintahkan untuk menyebar. Dusun Koplak Balemulyo yang warganya sebagian besar menonton pertunjukan wayang, pintu pintu rumahnya didobrak roboh. Dusun Beteng kena imbasnya demikian juga merambah hingga Kauman. Nihil. Berbalik, mengarah ke selatan. Wayang Tancep Kayon. Warga muali berduyun pulang ke rumahnya ke segala penjuru tanpa menaruh curiga pada tentara Belanda yang nampak terburu mengejar sesuatu. Keributan kecil terjadi di perempatan “tugu wesi”, Perkelahian menegangkan terjadi di perempatan Tambakan selatan hingga utara, sementara di pusat keramaian, yakni Klentheng pemuda pemuda berbaju pejuang bikin onar. Kacau. Suara suara tembakan beruntun terdengar di segala penjuru kota. Warga yang tadinya tak menaruh curiga, bingung ketakutan berlarian tak tau tujuan. Benar benar kacau. Tentara tentara Belanda juga kebingungan, tembakan diarahkan kemana. Akhirnya pasukan Belanda merapatkan barisan di perempatan “tugu wesi”. Kholili yang sempat menuruni dan menyusuri sungai Lamat berabaur dengan warga yang tengah bingung berlariani, menuju pusat keramaian (Klentheng) yang tengah kacau juga. Wien Nio sudah tidak berada di tempat. Para niyaga sibuk menyelamatkan gamelan. Ki Dalang Djojo Soekandar diselamatkan oleh pendeta Kong Hu Chu memasuki Klentheng. Sinden Sukati hanya meninggalkan tepak bokongnya, tak tahu di mana sekarang. Kholili menyelinap sisi timur Klentheng, melompati tembok masuk “gudang uyah”.
“Kholili”, teriak Mardi yang suadah dating lebih dulu. Han Han, Wien Nio, Ningsih dan satu orang pemuda Kangkungan mengerumuni Rambat. Atmo yang tidak ada.
“Gerak cepat mencari celah agar segera keluar dari sini menuju Ngawen” kata Mardi.
“Bagaimana kang Atmo”, tanya Kholili.
“Jangan khawatir, kang Atmo sedang melabrak pemuda pemuda yang menggelandang sinden Sukati dengan senapan mesinnya”, kata Han Han. Berbaur dengan para niyaga yang mengangkat gamelan dan menaikaanya keatas dokar, Rambat yang masih belum sadar juga diangkat oleh pemuda Kangkungan bersama sama menyeberang jalan kea rah selatan melalui sela sela rumah yang cukup padat.
Tobong kosong.
Disinilah, sinden Sukati ditelanjangi bulat bulat oleh sekawanan pemuda berbaju pejuang. Tak ubahnya adegan Dewi Drupadi ditelanjangi oleh Kurawa akibat Pendawa kalah main dadu. Atmo yang sedemikian kalap ditemani oleh pemuda pemuda Kangkungan , Tirto juga satu pengikut Djendral Soedirman melabarak dan mengepung Tobong di pasar Muntilan. Yang berkeliaran berjaga diluaran dihabisi oleh pengikut Soedirman, sementara Atmo mendobrak pintu tobong dan memberondong habis pemuda pemuda antah berantah ini. Belasan orang antah berantah baik yang di luar dan di dalam tobong meregang nyawa.
“Supriii….ajak teman teman mengikutiku”, teriak Atmo pada Supri sambil mengambil kain untuk menutupi tubuh sinden Sukati, memapahnya pergi melalui los los pasar, kearah dusun Pandansari kidul pasar dan menyusuri bantaran sungai Keji.
#Bersambung







