CO PATRIOT X  #OperasiProdeo II

CO PATRIOT X #OperasiProdeo II

CO PATRIOT X
#OperasiProdeo II

Oleh: Gati Andoko

Kejadiannya begitu cepat. Aktifitas jual beli tidak terganggu. Kholili yang tak sebegitu jauh dari tempat kejadian setengah tidak percaya. Suara letusan senapan adalah kebiasaan yang selalu terdengar sehari harinya. Sangat biasa. Namun begitu mendengar salah satu yang ditangkap merujuk ciri ciri Rambat terperangah juga Kholili. Minta maaf sebesar besarnya pada orang ketujuh yang siap dipotong rambutnya dimohon pindah ke tukang cukur sebelahnya. Rambat lebih penting dari sekedar pekerjaannya sebagai tukang cukur, Berangkat segera Kholil ke tempat kejadian, Atmo dan Mardi sudah ada disana. Menyusul kemudian Han Han dengan masih membawa dagangannya sebongkok baju bekas. Tak ada pembicaraan apapun. Masing masing bicara dalam pikirannya sendiri sendiri. Tentu saja ada rasa penyesalan mendalam. Han Han meletakkan barang dagangannya, mendekati kotak dadu yang tak sempat jadi perhatian Atmo, Mardi dan Kholili. Kotak dadu dibuka. Dadu warna dengan warna merah, dadu hewan dengan gambar buaya sementara ditengahnya dadu angka, dadu dengan bulatan merah ditengah empat bulatan merah juga, Dadu lima. Diambil dan dirematnya ketiga dadu lantas dilempar jauh hingga jatuh di kali Keji.

Hujan demikian derasnya.
Benteng Stelsel leter U sebagian masih tegak berdiri, membetengi bangunan kokoh ditengah menghadap ke seletatan. Buah asam berjatuhan dari pohon yang tumbuh ujung barat daya benteng mulai hanyut terbawa air hujan ke jalanan. Pohon cemara berjajar kanan kiri jalan pintu masuk bangunan rumah ujung batangnya bertampuk karena tiupan angin kencang serta butiran hujan yang besar pula. Gelegar suara halilintar dan killatan cahaya petir menyambar, menjilat ujung pepohonan beserta gemuruh derasnya hujan tidak bisa menyembunyikan suara teriakan kesakitan Rambat yang tengah disiksa.
Posisi berdiri. Rambat diikat kaki,paha, pinggang, dada, leher dan kepala pada sebuah tiang. Tak bisa gerak hanya mulutnya dibiarkannya terbuka. Air hujan yang terhimpit rapat genting menetes jatuh tepat di ubun ubun kepala Rambat. Hanya Rambat yang diperlakukan seperti ini,sementara bandar cliwik, para dolop dan penjudi lainnya yang ikut ditangkap sudah dilepas dan diturunkan di perempatan Tugu Wesi. Belum ada ondervraging (interogasi) pada diri Rambat. Tetap dibiarkannya berdiri dan terikat sekujur tubuh dengan tetesan air jatuh tepat diubun ubun tiap detiknya. Setengah jam pertama kesakitan bagian kepala yang mau pecah dengan ubun ubun serasa berlubang, hingga tetes tetes air itu memasuki saraf peredaran darah sampai ujung kaki. Tiga jam lebih Rambat merasakan siksaan seperti ini seiring mulai redanya hujan dan otot leher yang semakin beku suara erangan kesakitan Rambat nyaris lenyap. Menyisakan nafas yang terputus putus, kedua mata yang merah terbelalak, kedua telinga mengeluarkan darah, tak terhitung berapa kali tak sadar kencing dan berak di celana. Lemas namun masih sadar. Dua orang tentara melepas ikatan tali ikatan di sekujur tubuh Rambat lantas menyeretya dan memasukkan dalam kubangan air. Rambat yang terkulai lemas tak berdaya membiarkan baju pakaiannya dirobek robek denga bayonet hingga telanjang bulat. Masih belum cukup. Diseretnya Rambat menuju kamar mandi dan diguyur air dengan menggunakan ember. Barulah kemudian didudukkan di kursi diikat dalam keadaan telanjang. Mata Rambat yang beberapa lama tak bisa mengatup mulai bisa bergerak begitu cahaya tajam lampu menyinari matanya. Kantung mata yang membiru, kembali bisa menutup pupil matanya dengan masih mengeluarkan air. Dengan pandangan yang masih rabun Rambat melihat samar enam tentara mengelilinginya dan dua tentara duduk di kursi tepat di diepanya seberang meja. Seorang tentara Belanda memasukkan sebatang rokok menyala pada mulut Rambat. Dengan batuk tersengal Rambat tetap mempertahankan rokok di mulutnya dan menghisap dalam dalam asap rokok, enggan menghembuskannya. Yah, kenikmatan terakhir kali yang dirasakan tingal sepanjang nyala rokok putih. Itu yang ada dalam benak Rambat.
“Hoe heet je (siapa namamu)?’, bertanya tentara yang ada di depannya. Rambat diam dan tetap mengisap dalalm asap rokok dan menelannya. Sudah diduga. Siksaan apa lagi yang akan ditimpakannya.
“Antwoord (jawab)”, perintah tentara dengan suara berat. Sementara tentara yang di sebelahnya menterjemahkannya. Rambat lagi lagi diam.
“Idiot basis (ekstirmis goblok)”, gerutu tentara itu dan ancang ancang dengan amarahnya.
“Waar heb je dit wapen vandaan (dari mana kau dapatkan pistol ini?’, tanya tentara di depannya sambil menunjukkan pistol kepunyaan Rambat. Tentara penterjemah menjelaskan maksud pertanyaan itu. Rambat cumai menyeringai sambil memainkan rokok yang bara api sudah mengenai gabus (filter rokok). Sembari menggelembungkan kedua pipinya, Rambat melemparkan punting rokok dengan hembusan kuat kuat, Rokok terlempar melompati kedua tentara di depannya.
“Alam memberinya kepadaku”, jawab Rambat dengan dingin. Sontak kaget tentara penterjemah dan mengulang jawaban Rambat dalam Bahasa Belanda;’ De natuur gaf aan mij”. Tentara disampingnya langsung menjambak rambut Rambat hingga mendongak keatas. Sementara yang lain mengambil “tang” dan mencabut paksa gigi taring Rambat bagian kiri. Rambat yang sudah menduga bahwa siksaan akan terus berlangsung, menahan rasa sakit dan berusaha mengumur darah yang ada dimulutnya dan menyemburkannya ke atas tubuhnya. Tentara yang mengitari bergerak mundur, menjauh dari semburan darah. Kembali tentara yang mengiterogasi dengan menunjukkna uang gulden.
“Waar heb je dit geld vandaan?’, bentaknya. Rambat tetap berkumur denga darah yang keluar dari gusinya, namun kali ini disemburkan pada tenttara yang menanyainya. Dijambaknya lagi disertai tekanan keras, persis sebelah gigi taring yang telah dicabut dijepit menggunakan “tang” dengan tekanan keras, gigi geraham Rambat lepas berikut daging gusinya. Seketika pening kepala sebelah dan pandangan mata kirinya muai rabun. Rambat kembali tak berdaya, diseret dan dimasukkan dalam bilik gelap kerangkeng penjara yang terkunci.

29 Desmber 1948.
BEKENDMAKING (maklumat) Akhir Tahun.
Dengan diiringi dua ajudan, seorang polisi pamong praja menyusur sudut sudut kota, pertokoan pecinan dan memasuki los los pasar mengumumkan maklumat yang diusulkan pihak Belanda dan disetujui oleh Pamong Praja Kawedanan Muntilan, bahwasanya untuk menyambut akhir tahun 1948 dan tahun baru 1949 mulai tanggal 30 hingga tanggal 1 Januari dini hari, Klentheng Hok An Kiong menjadi pusat keramaian dan pertunjukan, sementara jalanan membujur dari Tugu Wesi sampai dengan pasar dan membujur jalan Sayangan sampai peerempatan Sleko dijadikan “pasar tiban”. Sepanjang jalan Tambakan perempatan selatan sampai perempatan utara khusus untuk arena permainan dewasa ; “ledhek” (tayub) dan arena judi. Sambutan luar biasa gembira masyarakat Muntilan dan sekitarnya, secara “gepok tular” terdengar sampai luar Kawedanan Muntilan. Tambahkan pula bahwa tanggal 30 Desember di depan Klentheng Ki Dalang Djojo Soekandar akan digelar pakeliran semalam suntuk dengan sinden Sukati yang sudah lama ditunggu kehadirannya. Propaganda Belanda untuk tetap menjaga kedamaian warga Muntilan sungguh diyakini. Pemuda pemuda berbaju pejuang dari dunia antah berantah segera mengarak keliling bendera merah putih biru serta bendera merah putih sembari mengeluarkan yel yel pekik Merdeka dan mengajak untuk tetap mempercayai kehadiran Belanda. Wargapun menyambut dengan gegap gempita mulai dari anak anak, dewasa dan orang tua. Rasanya, ingin hari Kamis tanggal 30 Desember yang tinggal semalam saja ada pada hari ini. Berduyun warga setelah mendengar mkalumat itu mendatangi Klentheng Hok An Kiong sekedar memilih tempat untuk mendasarkan dagangannya atau sekedar berangan angan kegembiraan apa yang akan diperolehnya nanti.

Segegap gempita apapun kota Muntilan, gelaran wayang KI Dalang Djojo Soekandar dan sinden Sukati sudah tidak menarik lagi bagi Mardi, Han Han dan Kholili, demikian juga Atmo. Tertangkapnya Rambat membuat mereka tidak pernah bisa memejamkan mata alias tidur. Pikirannya selalu terjaga, berfikir untuk menyelamatkan Rambat yang menurut rumor akan dihukum mati tanggal 31 Desember sore hari.
“Kemarin, aku lebih suka mendengar Rambat mati tertembak dari pada tertangkap, dipenjara beberapa hari yang ujungnya dihukum mati”, kata Atmo sambil melampiaskan kemarahan, mengayunkan sangkurnya ke pohon bambu samping makam Kyai Raden Santri. Pohon bambu itupun sekali tebas masih tegak berdiri, baru kemudian tumbang karena tertiup angin. Mardi, Han Han dan Kholili hanya terdiam melihat kemarahan Atmo. Atmo sangat hafal strategi tentara dalam mengorek keterangan, memaksa untuk membuka rahasia yang dibutuhkan. Pastilah Rambat teramat sangat menderita.
“Kenapa tidak kita serang saja penjara atau kita cegat konvoi saat menuju tempat eksekusi?”, usul Mardi. Han Han dan Kholili mengangguk ragu sementara Atmo menggeleng namun juga tak bisa mengingkari keraguannya.
“Itu juga yang sedang aku piker sedari tadi, tapi…..”,Atmo masih ragu dengan apa yang ingin direncanakan.
“Bagaimana kalua operasi kita dengan cara senyap?’, usul Han Han.
“Caranya?’, Kholili.
“Intinya, kita bebaskan Rambat dengan menyelinap ke penjara tanpa harus kontak senjata secara linear karena pasti akan membawa ….”, belum selesai Han Han menjelaskan tiba tiba dari bawah terdengar dua orang perempuan memanggli manggil mereka berempat. Wien Nio dan Ningsih menaiki gunung Pring.
“Hughh, ga moga gak nambah perkara”, Kholili meragukan kedatangan Wien Nio dan Ningsih, demikian juga bertiga Nampak sedikit acuh. Maka begitu Wien Nio dan Ningsih sampai puncak wajah berempat Nampak biasa biasa dan cenderung cuek. Wien Nio dan Ningsih tanggap dengan keacuhan mereka dan tak basa basi.
“Bentar saja kok, aku dan Ningsih Cuma nganter “bacang” bikinan mamah dan tiga lembar kertas ini dari papah”, Wien Nio menyerahkankan pada Armo lima “bacang” dan tiga lembar kertas yang dilipat. Atmopun menerima.
“Itu bukan “bakcang” tapi “bacang”, isinya bukan daging babi”, jelas Wien Nio dengan sedikit senyum. Atmo langsung membagi “bacang” dan membuka tiga lembaran kertas bertuliskan huruf China.
“Han, bagianmu”, Atmo menyadari tak bisa membaca huruf China danmemberikan tiga lembaran kertas kepada Han Han. Han Han begitu membuka langsung wajahnya berbinar binary seperti sedang menerima apa yang ia idamkan.
“Wien Nio, Ningsih jangan pulang dulu”, cegah Han Han saat mereka berdua mulai beranjak tanpa pamit.
“Eh iya, tadi ada salah seorang pamong praja yang dating ke depot, bisik bisik sama papah kalau Rambat mau dihukum mati tanggal 31 Desember sore hari, lantas papah corat coret sperti itu”, papar Wien Nio. Atmo, Mardi dan Kholili wajahnya memerah, sedang Han Han masih berbinar.
“Ini yang belum sempat aku pikir tadi tentang operasi secara senyap”, Han Han mencoba menjelaskan isi tulisan papahnya Wien Nio. Berenam melingkar melihat lembaran kertas dengan huruf China ditulis menggunakan kuas dengan tinta hitam,dibuka Han Han sambil menjelaskannya.
“Bermainlah dengan bayanganmu sendiri, ini yang pertama lantas yang lembar kedua ehmmm… jangan jauhi maut tapi dekatilah dan ajaklah teman yang kau percaya, nha ini penting banget yang ketiga”, Han Han memperlihatkan lembar ketiga yang isinya gambar peta bangunan penjara. Saat itu juga diskusi inten diantara mereka berenam mengapresiasi dan menafsirkan pesan yang ditulis papahnya Wien Nio. Memakan waktu yang cukup lama juga mereka berunding membahas secara detail rencana yang akan dijalankan untuk membebaskan Rambat.
“Kang Atmo, sepertinya Rambat sedang tidak kesakitan karena pikirannya lagi menuju puncak gunung Pring ini”, canda Mardi sambil wajahnya menunjuk Ningsih. Wajah Ningsih menyembunyikan malu begitu semua perhatian ke arahnya. Sementara yang lain termasuk Wien Nio tertawa penuh canda.
“Aduh, ini lho koh Ningsih malah nyubit aku”, Wien Nio.
“Wien Nio, cara menyampaikan kesakitanmu pada Han Han sungguh manja, iya kan Han”, Kholili melempar canda pada Wien Nio juga Han Han. Ledakan tawa pun tak terelakkan.
“Ningsih, kira kira bisa tidak kita minta teman teman pemuda dari Kangkungan dan Tirto untuk membantu kita, yang pasti mereka siap tanpa senjata apapun nantinya”, Atmo mengembalikan pada rencana.
“Itu juga yang mau aku usulkan kang, sangat bisa”, jawab Ningsih tangkas. Disepakati saat itu juga,Wien Nio pulang diantar Han Han dan Mardi, sementara Ningsih diantar Atmo dan Kholili menuju Kangkungan dan Tirto. Ketemu di warung “kupat tahu” depan juragan arang.
“Iya, nanti kan aku dan Ningsih buka warung tepat di lorong “gudang uyah”, sekaligus menutup jalan itu, tentu saja ada beberapa teman laki laki yang menjaganya”, sela Wien Nio.
“Aduh Wie Nio, cara ngomongmu itu lho sangat manja, iya kan Han”, kembali Kholili mengajak canda.
“Ah embuh, pesen papah setelah dipahami lembar kertas surat itu dibakar, jawab Wien Nio ketus. Han Han yang juga kesindir nyengir sambil mengelebatkan tangannya kepada Kholili mengajak “Tui Cu”. Mardi yang duduk diantara Han Han dan Kholil dari pada kena tamparan bahkan pukulan mengikuti permainan. Atmo menggandeng tangan Ningsih dan Wien Nio menjauhi mereka yang sedang “Tui Cu”, duduk sambil asyik makan “bacang” isi daging ayam.
“Ningsih, ambil saja tiga lembar kertas itu dan bakar”,suruh Atmo. Tiga lembar kertas-pun dibakar.

#Bersambung


Advertisement

Baca juga:

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar