CO PATRIOT X  #OperasiProdeo I

CO PATRIOT X #OperasiProdeo I

CO PATRIOT X
#OperasiProdeo I

Oleh: Gati Andoko

Muntilan, 27 Desember 1948.
Desakan PBB dan kutukan dari berbagai negara terhadap tindakan yang dilakukan terhadap kedaulatan Indonesia, membuat Belanda mengendurkan tindakan represif dan menurunkan frekuensinya dalam berburu mengancurkan basis basis perlawanan para pejuang.
Para pengungsi telah kembali rumahnya.
Kumandang pasar Muntilan sudah menunjukkan gairahnya. Sawah ladang yang sempat terbengkelai mulai digarapnya. Sejumlah tukang kayu yang datang dari luar kota menjadi tenaga kerja yang sangat berniali upah tinggi dalam membangun rumah rumah yang hancur dampak pertempuran yang tak cukup dikerjakan dengan gotong royong antar tetangga, lagian musim hujan sedang deras derasnya. Kantor Kawedanan dibuka, pegawai kantor memulai membenahi administrasi yang berantakan. Belajar mengajar di sekolah kembali semarak anak anak dengan segala keceriaannya. Sekolah Seminari Muntilan untuk sementara dipindah ke Jalan Code Jogyakarta. Para santri kembali mengaji di pondok pondok Pesantren yang cukup lama kehilangan dzikirnya.
Toko toko sepanjang Pecinan dibuka.
Ningsih, si gadis pembawa ransum dari Kangkungan klayu (ikut) Wien Nio ke Muntilan yang orang tuanya membuka Depot Es di pojok perempatan Tambakan. Tepat sebelah utara pasar Muntilan. Han Han yang tidak lagi bekerja pada boss toko emas BARES menjajakan pakaian bekas di bagian luar pasar. Atmo sepulang dari pengembaraan batin di Jurang Jero tetap menjadi buruh angkut. Mardi kehilangan pekerjaan sebagai penjaga loket kethoprak yang tobongnya hancur, mengikuti jejak Atmo sebagai buruh angkut pula.. Kholili dengan bekas luka tembak yang sudah kering kembali jadi tukang cukur. Rambat yang selalu tidak jelas apa yang dikerjakan wara wiri kesana kemari sekeliling pasar, jalanan Pecinan dan lorong lorong kampung.

Ramai namun aneh.
Pasar kedatangan orang orang dari luar kita yang tak diketahui asalnya, membuka dasaran tikar judi “cliwik” yang menempati ujung pasar bawah pohon. Cukup banyal. Demikian judi adu jago dan “keplek” balapan terbang burung merpati sebagai arena judi para “cukong” dari luar kota. Penjual jamu kuat dengan berbagai atraksi acrobat dan sulap mengundang penonton berjubel. Tak luput juga, hadirnya para penjual barang loak hasil curian begitu banyak jumlahnya. Aneh. Kumandang pasar sudah tak sesyahdu tembang Maskumabang lantunan pengamen tua, mbah Sapari. Lebih aneh lagi, justru layak curiga adalah kedatangan oaring orang berseragam pejuang petetang peteteng di jalanan sepanjang pecinan hingga memeasuki pasar dan tak segan meminta sumbangan dengan dalih perjuangan sambil menggoda gadis gadis yang mereka jumpai.
Rambat membaca situasi ini.
Ketidakjesannya Rambat tidak berlaku bagi Rambat sendiri. Gerak gerik aneh dari kaum pendatang yang tak jelas asal muasalnya ini terpatri dalam ingatan Rambat. Namun Rambat juga tetap kosekuen dengan apa yang telah disepakati bersama teman temannya.
“Kita redam dulu, semoga Belanda kali ini mentaati aturan aturan yang telah dibuatnya sendiri”, kata Atmo ketika Rambat menceritakan situasi yang berbeda dan terkesan aneh.
“Yang perlu kita tekankan juga, kita berperang tetapi warga terkena dampak penderitaan akibat perang ini juga, tambah Mardi.
“lapo rek…seesuk mau lagi enek arek siji sing cukur,wis tah jok golek perkara ae”, keluh Kholili.
“Mending anu aja mbat, mbok sana joget joget dadapean depot es Wien Nio”, canda Han Han.
“Mangsudmu”, tanya Rambat yang tidak paham sedang diguyoni Han Han.
“Ningsih itu hitam manis lho”, Han Han
“Mbok kira aku ki “ledhek munyuk”pa? Pertanyaan balik Rambat disambut tawa teman temannya.
“Padune kowe dewe yang mung arep nyedaki Wien Nio, ya ora? Balas Rambat juga disambut tawa.
“Artinya, tidak ada persaingan lagi untuk mendapatkan sinden Sukati, aku satu satunya haha…”,tukas Mardi
“Lhah Kholili? Rambat.
“Kholili kan masih terkenang dengan sesama tahanan di penjara waktu itu, lelaki nan kemayu”, jawab Mardi sembari tertawa terbahak bahak diantara mereka kecuali Kholili denga pisuhan khasnya.
“Jyaancuuukkk, uwis tah jok dielingna maneh”, Kholili
“Sudah sudah…kalian ini sudah membual temberang pula”, Atmo mencoba menengahi guyonan mereka.
Memang, sepertinya Rambat mulai menacari cari perhatian Ningsih yang supel bergaul, daya tariknya membuat ramai pengunjung depot es milik orang tua Wien Nio. Dengan alasan mengamati situasi tempat adu jago dan tomprang merpati di ujung Tambakan utara mata Rambat selalu menyempatkan melirik bagian dalam depot es, kali kali disapa Ningsih. Sayang. Keramahan Ningsih terhadap pembeli yang terus berdatangan dan berlama lama menikmati es campur yang disajikan membuat solah tingkah Rambat yang bolak balik depan depot tak diperhatikannya. Ini yang membuat Rambat gundah hati, cemburu meski belum memiliki.
“Asyuu”, pisuh Rambat dalam hati.
Kegundahan hati Rambat berimbas pada merpati merpati liar berterbangan di pasar,dilempar dengan kerikil karena dianggapanya merpati merpati itu mengolok oloknya.
“Kui lagi krikil, bisa bisa tak tembak engko kowe”, Rambat mengancam merpati yang terus saja berterbangan sembari “nelek” (mengeluarkan kotoran) dikepala Rambat.

Esok harinya.
Kesiangan. Kholili tak menghiraukan Mardi dan Atmo yang tengah sibuk mengangkut barang barang belanjaan milik pembeli kedalam dhokar.Han Han juga tak disapanya meski sempat berpapasan dakam hiruk pikunya pasar. Diamnya Kholili karena ingin segera sampai los tukang cukur dengan harapan hari ini setidak ada lebih 3 orang yang potong rambut sekedar untuk kebutuhan makan dan membeli sabun bebek (pengganti krim potong rambut). Dengan tas kulit berisi perlengkapan alat potong rambut, Kholili melewati los pakaian, los penjual klonthong belok kanan melewati los sayuran, lantas belok kanan lagi melalui deretan penjual makanan yang bau asapnya mengundang lapar, belok kiri melewati los penjual alat alat pertanian. Sampailah los tukang cukur. Sesama tukang cukur sudah memulai aktifitasnya bahkan ada yang ngantri. Alangkah kagetnya Kholili begitu melangkah ke kapling potong rambutnya, Rambat sudah duduk dikursi.
“Cepet,….ndang cukur rambutku”,suruh Rambat dengan tergesa.
“Haaa….gak krungu”, jawab Kholili pura pura tak mendengar.
“Cukur syuuuu…..wis ndang”, Rambat mengeluarkan alat alat cukur dan menata sendiri, Kholili hanya senyum keheranan.
“Ndang cepet ki….! desak Rambat.
“Kosik tah, iku pengilone rung dipasang”, Kholili memncoba memperlambat karena tak habis pikir Rambat yang biasa lusuh kemproh tiba tiba minta rambutnya dipotong. Ada apa dengan Rambat.
“Rasah nganggo pengilon”, jawab Rambat ketus.
“Wedi tah weruh rupane dewe”, Kholili terus menggodanya.
“Wis tak ganti tukang cukur liyane”, Rambat beranjak berdiri namun langsung dicegah oleh Kholili.
“Mutung rek ngono wae”. Kholil segera dengan tangan kiri memegang sisir yang terbuat dari tanduk kerbau, tangan kanan memegang alat potong rambut yang disebut “clipper kodok” (alat potong rambut manual). Tangkas sekali Kholili menggunakan “clipper kodok”, tak kalah dengan tukang cukur yang lebih tua darinya. Ketangkasannya dalam menggunakan “clipper kodok” sebanding dengan ketangkasannya memainkan “clurit).
“Lambene gak sisan dicukur tah”, canda Kholili.
“Uwis iki?’, tanya Rambat.
“Kosik tah”, jawab Kholili sedikit menggerutu melihat Rambat yang Nampak buru buru. Kholili mengganti “clipper kodok” dengan gunting untuk merapikan. Tinggal bagian akhir, Dengan kuas yang telah dioleskan sabun bebek basah, bagian kepala Rambat penuh busa. Digunakanlah pisau cukur untuk menghilangkan cambang sekaligus mengikuti bagian balik telianga kanan kir dan kepala bagian bawah. Selesai. Layaknya tukang cukur lainnya, selesai potong dilanjut dengan pijat kepala. Meski kepala Rambat sekeras batu, tangan Kholil yang terlatih “ilmu totok saraf” membuat Rambat mendengkur tidur. Karena sudah ada yang antri seorang anak kecil dengan diantar ibunya, Kholili membangunkan Rambat. Rambatpun tergagap bangun dan tangan langsung merogoh kantongnya untuk mengambil uang.
“Uwis tah koyok sapa ae”, Kholili menolaknya.
“Tak tukokne mangan wae ya, pengin apa?’, Rambat.
“Tenan iku? Khloli basa basi.
“Ya tenan, kaya sapa wae”, jelas Rambat.
“Aku kangen Emma’, pengin sate Madura”, jawab Kholili sambil pandangannya menerawang, mengingat Emma’nya.
“Wow gamping kui, mengko awan tak mrene neh, nggawa sate cak Rowi”, jelas Rambat sambil ngeloyor pergi.
“Monggo ”, Kholili mempersilahkan ibu yang mengantar anaknya yang cukup lama menumggu.

Rambat dengan potongan rambut barunya, bergegas dengan jalan cepat melewati los los pasar kemudian memperlambat langkahnya hingga berhenti sejenak jika melewati kaca sekedar untuk bercermin. Dipercepat lagi langkangkah agar segera sampai tujuan, yang tak lain adalah depot es milik orang tua Wien Nio. Jelas yang dituju semata mata ingin melihat kelebatnya Ningsih yang sedang menyajikan segelas es atau makanan lainnya. Kali ini Rambat akan mengerahkan seluruh keberanian untuk menemui Ningsih dengan cara menjadi pembeli yang memang membeli jajanan namun sejatinya hanyalah ingin menatap Ningsih lebih dekat. Hanya sekedar menata saja bagi Ramabat sudah merupakan puncak “goro goro” dalam jagat pakeliran:”…tumetesing tirto kamandananu handadekna donya rep saknalika”.
Anyel!
Meskipun masih pagi depot es sudah terisi penuh bangku bangkunya. Tampak juga beberapa tentara Belanda duduk diantara pembeli lainnya sesekali mengoda Ningsih dengan mencolek tubuhnya. Geram juga hati Rambat. Dari pada kegeramannya pada tentara Belanda menjadi jadi, Rambat memutuskan untuk berkeliling melihat situasi.
“Rambat!’, suara perempuan memanggil namanya. Rambat menengok ternyata Wien Nio sambil membawa bungkusan. Kenapa bukan Ningsih yang memanggilnya.? Berharap!
“Tolong kasihkan koh Han Han ya, xie xie”.
Rambat menerima bungkusan itu tanpa sepatah kata terucap, hanya ngedumel dalam hati; harusnya Ningsih bukan Wien Nio. Hanya berjarak sekitar 50 meter menuju tempat los pasar loak tempat Han Han berjualan. Ada keributan disana dan Nampak Han Han sedang bersitegang dengan gerombolan berbaju pejuang. Rambat lari meenembus kerumunan keributan. Benar. Han Han dipaksa untuk memberi uang dengan dalih perjuangan. Rambat langsung mencabut pistolnya dan mengarahkannya pada gerombolan itu. Han Han teramat kaget dengan kedatangan Rambat yang semerta menodongkan senjata.
“Sudah sudah…saya kasih uang, maafkan teman saya”, Han Han sambil menurunkan tangan Rambat. Gerombolan itu ngeloyor pergi dan terus minta sumbangan ke pedagang lainnya.
“Duh hampir saja”, keluh Han Han dihadapan Rambat. Rambat yang masih dihinggapi perasaan anyel bertambah anyel begitu melihat sikap Han Han sedemikan itu. Padahal maksud Han Han sepeti yang disepakati kemarin; menjaga ketenangan.
“Iki seka Wien Nio”, Rambat menyerahkan bungkusan.
“Apa ini?’, Han Han menerima dan meraba bungkusan. Baru mau mengucapkan terima kasih, Rambat sudah tidak ada tertutup oleh lalu lalang pengunjung pasar. Ada yang aneh pada diri Rambat!

Ujung barat pasar dibawah pohon beringin dan pohon asem tengah ramai orang orang berjudi
cliwik”. Sekedar membuang rasa kesel dan anyel Rambat nimbrung dalam permainan judi “cliwik” ini. Sekali pasang dadu 5, menang. Semangatlah Rambat, keping demi keping uang ORI yang sedianya untuk membelikan sate Madura untuk Kholili dipasangkannya. Amblas. Tinggalh 5 lembar uang Gulden hasil menggoghi kantong celana tenatara Belanda yang habis ditembaknya.
“Nganggo duit iki oleh ora?
Bandar cliwik dengan sejumlah “dolop dolop”nya kaget luar biiasa. Bukan sekedar bentuk uang Gulden yang diperlihatkan Rambat, melainkan nilai nominal uang itu. Jika kalah, modal uang bandar cliwik habis dan utang tertanggung. Rambat sendiri sebenarnya tidak tahu berapa nilai nominal uang gulden jika ditukar dengan uang ORI. Para dolop bandar agak menjauh dan salah satunya pergi entah kemana. Permainan dilanjutkan. Bagi Rambat tidak tahu nilai nominal dan tidak menganggap uang itu ada nilainya. Bandar dan dolop dolop lainnya berada dalam ketegangan yang luar biasa. Bandar mengocok dadu dua kali. Kotak dadu diletakkan.. Lima uang Gulden kembali dipasan pada dadu lima. Bandar yang hafal dengan pergerakan bolak baliknya dadu semakin pucat dan keringat butiran gajah mulai menetes diwajah dan tubuhnya. Lama sekali kotak dadu belum juga dibuka.
“Buka”, Rambat mendesak agar kotak dadu dibuka.
Para dolop berjalan menyamping bersilangan dibelakang sang bandar. Bandar cliwik gemetaran tangannya. Para pemain yang lain tak kalah tegangnya dan mulai menarik uangnya dan semua memasang dadu lima. Pengunjung yang sekedar melihat ketegangan ini berdatangan disusul bandar bandar sebelahnya menarik dasarannya ikut nimbrung melihatnya.
“Tak bukak dewe lho”, Rambat sedikit memaksa. Karena belum juga dibuka, Rambat mengeluarkan pistolnya. Dengan gemetaran sekaligus takut, sang bandar memegang kotak dadu, membuka pelan pelan. Dan……!
Duarrr duarrr duarrrr!
Tembakan peringatan oleh tentara Belanda tiba tiba. Pengunjung bubar berlarian menjauh dari tentara Belanda yang tak disadari ada di dekatnya. Bandar urung membuka kotak dadu. Rambat yang sudah memegang pistol mengarahkan ke tentara yang mendekatinya, namun tiga Tentara Belanda menelikung dari belakang. Pistol dari tangan Rambat lepas dan kedua tangan Rambat diborgol lantas dilempar dalam truk. Bandar bandar cliwik, dolop dolop dan penjudi lain yang tertangkap dilemparkan begitu saja ke dalam truk seperti halnya Rambat. Beruntun Truk diikuti Jeep pergi meninggalkan arena perjudian.

Ujung barat pasar Muntilan, sepi seketika dengan menyisakan tikar tikar robek terinjak, dengan kotak dadu yang masih tertutup.

#Bersambung.



Advertisement

Baca juga:

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar