CO PATRIOT VIII
#KelapaYangTerbelah
Oleh: Gati Andoko
Seperti saudara saudara laki laki laimmya, “Suwito” menjadi nama belakang yang selalu melekat pada nama panggilanya. Entah apa yang ada dalam benak yang memberi nama. Atmo Suwito, lengkapnya. Hanya Atmo yang disebutnya, seperti halnya Mardi Suwito hanya dikenal sebagai Mardi. Kebingungan yang membuatnya tersenyum setiap mencoba mencari rahasia sebuah nama.
Sengaja, Atmo memisahkan diri dari adiknya sendiri yakni Mardi demikian juga Han Han, Rambat dan Kholili beberapa hari saja. Adakalanya menyendiri. Peristiwa demi peristiwa sejak tanggal 19-23 Desmber 1948 sangat menguras tenaga, pikiran sekaligus detak jantung yang sudah demikian tak beraturan. Kematian Sarwi, Romo Sandjaja, mbah Sapari juga orang orang yang tidak bisa ia selamatkan. Menyendiri, itulah pilihan terbaik.
Dalam kesendiriannya itulah Atmo menyapa alam semesta di mana ia berpijak dan menyentuh apa saja yang bisa disentuh dengan anggota tubuhnya, dengan pandangan matanya dan dengan getar getar jiwanya, Jurang jero ia kunjungi sekedar menyapa gunung Merapi lengkap dengan satwa dan tetumbuhan di sana. Satwa jantan dan betina bertaut asmara dibuai angin berputar mengitari pepohonan hingga senjakala. Kalau sudah begini memgimjakan kaki ke tanahpun enggan. Bagamana tidak? Bidadari yang turun dari dari bukit Suralaya terbang mengajaknya bermain memasuki kedalamanajurang dan mendaki gunung Merapi dengan kendit putih membungkus tubuhnya. Sunnguh, buah maja tidak lagi pahit.
Atmo tidaklah demikian, terlelap begitu saja.
Aku bukanlah seorang Rhsi Karshyan yang berdiam di puncak gunung Wilis menjauh dari dunia nyata. Jelas, aku juga bukan Begawan “asayasaya” yang berburu ketenangan batin untuk dirinya sendiri. Kalau toh boleh sebagai tauladan ,yah tak lain adalah Bima yang memasuki hingga telinga yang lebih dalam dari telinga sang Dewaruci lantas keluar mengimjakkan kaki ketanah penuh kotorana. Tapi aku rasa itu berlebihan. Aku Cuma seorang Atmo dari kalangan kaum “ pidak pedarakan” yang sedang mengadu nasib di tengah dunia yang semakin riuh. Itulah barangkali yang dirasakan dan dipikirkan Atmo.
Jurang Jero ditinggalkan.
Tetap dengan sangkur di pinggangnya,turun sudah tidak memgikuti kata hati terlebih apa yang dipikirkannya. Hanya kaki ini yang ia ikuti kemana akan melangkah. Dusun Pule dijejaknya tahu tahu sudah ada di desa Plowengan, tiba tiba kaki agak serong arah barat daya hingga sampai mBolinggo melewati Tlatar dan kakipun berhenti setelah basah oleh air bening sungai Blongkeng yang seberangnya desa Kaweron. Meminum dan membasuh mukanya. Namanya juga nasib juga resiko yang harus dihadapinya sering dating diluar dirinya. Segarnya air saat membasahi wajahnya begitu nikmat saat memejamkan mata dan akan berubah setelah membuka mata. Atmo sudah dikepung oleh orang orang lengkap dengan senjata dan menodong kearahnya. Mereka ini orang orang pribumi dengan emblem pasukan Hiztbullah yang melekat tak beraturan, ada yang di kopyah, saku baju, lengan baju atas atau pada bendera yang ia bawa.
“Letakkan senjata”, perintah yang barangkali komandannya. Namun Atmo tetap terus mencuci mukanya.
“Letakkan senjata kataku”, lagi lagi perintah untuk meletakkan senjata dengan lebih menekan. Salah satu dari mereka yang masih ada di seberang barat sungai melompati bebatuan membisiki telinga komandan.
“Hei kisanak, kenapa juga tidak perdengarkan pada komandanmu, bahwa aku sering keluar masuk Pasturan dan melayani Romo juga Bruder yang ada di Bruderan”, kata Atmo kepada orang yang baru saja membisiki komandan.
“Letakkan senjatamu atau ku tembak”, lanjutnya
“Kita sering berjumpa di Masjid Kauman sama sama mengadakan sholat berjamaah, lhoh kok sepertinya takut padaku”, Atmo dengan tak menghiraukan perintah komandan.
“Letakkan”, bentak komandan.
“Kalian yang bersenjatakan senapan, semua yang mengepungku juga bersenjatakan senapan, apalah artinya pedangku ini”, Atmo
Mereka hanya saling pandang.
“Jaga jarak saja dari jangkauan pedangku ini, kalian akan selamat”, Atmo
“Jangan sombong kau kafir penjilat pantat antek Belanda”, komandan.
“Maaf aku sedang tidak mau mendengar orang yang menakar keimanan seseorang, aku cuma sedang mengikuti kemana kakiku melangkah’, Atmo
“Dasar kafir, begitu bebal tak sadar yang kau pakai dan kau makan dari orang orang kafir pula”, komandan.
“Yang kau todongkan kepadaku senapan buatan Uni Soviet, kalian tahu bagaimanan negri Uni Soviet,adakah negara Islam membuat senjata seperti itu sekarang ini, barangkali ada saat nant, tambah lagi bagaimana kalian mendapatkan senjata itu, membeli dengan uang halalmu?”, Atmo
Semakin panas kuping sang komandan dan bersiap memopor kepala Atmo dengan gagang senjata.
“Sudah aku bilang tadi, jaga jarak, kalau mau tembak tembak saja, bunuh aku seperti saat kau bunuh Romo Sandjaja, mudahkan, membunuh orang yang sudah menyerahkan dirinya untuk dibunuh”, Atmo
“Tembak saja tembak”, yel yel anak buahnya.
“Dengar itu, tak ada salahnya seorang imam mendengarka para makmumnya”, Atmo.
Cuh cuh cuh najis….semua yang mengepung meludahi Atmo. Atmo masih bisa menyembunyikan kemarahan.
“Trima kasih, air surge kalian, dan harumnya Ughhh… laksana wangi kasturi, sekali lagi trima kasih”, Atmo
“Hei kisanak yang sering berpapasan denganku di Masjid Kauman, masih ingatkah khotbah Jumat dua minggu yang lalu? Atmo.
“Sudah tembak saja, tembak…darah seorang kafir halal hukumnya”, lagi lagi yel yel semakin tak sabar.
“Ayo tembaakk”, teriak Atmo hingga menggetarkan tubuh orang orang yang mengepungnya. Tanpa sadar Atmo sedikit terpancing suasana dan mencoba menurunkan amarahnya.
“Kalau kalian merasa malu telah membunuh orang yang ikhlas menyerahkan dirinya untuk dibunuh, bagaiman kalau kita duel saja’, tantang Atmo dengan rendah.
“Percuma, pedangmu tak kan melukaiku kalau Allah Subhanau Wata”alaa tidak meridzoinya, komandan.
“Ouw…artinya kalau pedang ini bisa melukai bahkan membinasakanmu adalh ridzo Allah juga, begitu? Atmo.
“Bukan, itu Iblis”, komandan
“Hahahaha……baiklah tidak apa, mau ladeni tantanganku, aku pakai pedangku dan kau pakai senapanmu darn hati hati, jaga jarak dari jangkauan pedangku, jangan ragu juga kalian semua jangan ragu menembakku’, Atmo.
“Baik, perhatian... jangam ada yang menembak satupun, aku hadapai orang kafir nan sombong ini”, komandan.
“Sebentar, dari mana kau belajar Islam?tanya komandan lagi. Komandan mendekatkan tangan pada pistol dipinggangnya dengan menjaga jarak kurang lebih lima meter dari Atmo. Atmo yang kakinya masih terendam setumit kaki hanya memandang pergerakan tubuh sang komandan yang jelas jauh dari jarak jangkauan pedangnya. Satu kata terakhir dari Atmo menjawab pertanyaan sang komandan.
“SOMALANGU!
Huruf terakhir terucap, sang komandan mencabut senjatanya, namun terpana dengan gerakan pedang yang diayunkan Atmo dan "Jleeggg" kepala sang komandan itu terbelah. Pengikutnya seketika lari ke segala arah.
Innalillahi Wa Inna Illaihi Roji”un.
Laa ilaa ha Illa Anta, Subhaanaka Inni kuntu minadzoolimiin.
Hanya itu yang diucapkan Atmo, seraya menceburkan tubuhnya ke sungai yang agak dalam.
Empat dasa warsa kemudian.
Seorang laki laki uasia skitar 70an berpeci mengendarai Colt pick up berhenti tepat seberang jalan depan sekolah di jalan Muntilan - Dukun dekat dengan tempat nongkrong waktu jam istirahat sekolah. Seorang teman dengan suara yang pelan nyeletuk:'....dialah pemilik tanan yang akhirnya untuk sekolah kita, dihibahkan kepada Yayasan Katholik, setelah terbunuhnya Romo Sandjaja beberapa tahun kemudian". Konon, dialah yang ikut membunuh Romo Sandjaja dan Frater Herman A. Bouwens, yang ketemu Atmo atau bukan, tidak tahu.
#KelapaYangTerbelah
Oleh: Gati Andoko
Seperti saudara saudara laki laki laimmya, “Suwito” menjadi nama belakang yang selalu melekat pada nama panggilanya. Entah apa yang ada dalam benak yang memberi nama. Atmo Suwito, lengkapnya. Hanya Atmo yang disebutnya, seperti halnya Mardi Suwito hanya dikenal sebagai Mardi. Kebingungan yang membuatnya tersenyum setiap mencoba mencari rahasia sebuah nama.
Sengaja, Atmo memisahkan diri dari adiknya sendiri yakni Mardi demikian juga Han Han, Rambat dan Kholili beberapa hari saja. Adakalanya menyendiri. Peristiwa demi peristiwa sejak tanggal 19-23 Desmber 1948 sangat menguras tenaga, pikiran sekaligus detak jantung yang sudah demikian tak beraturan. Kematian Sarwi, Romo Sandjaja, mbah Sapari juga orang orang yang tidak bisa ia selamatkan. Menyendiri, itulah pilihan terbaik.
Dalam kesendiriannya itulah Atmo menyapa alam semesta di mana ia berpijak dan menyentuh apa saja yang bisa disentuh dengan anggota tubuhnya, dengan pandangan matanya dan dengan getar getar jiwanya, Jurang jero ia kunjungi sekedar menyapa gunung Merapi lengkap dengan satwa dan tetumbuhan di sana. Satwa jantan dan betina bertaut asmara dibuai angin berputar mengitari pepohonan hingga senjakala. Kalau sudah begini memgimjakan kaki ke tanahpun enggan. Bagamana tidak? Bidadari yang turun dari dari bukit Suralaya terbang mengajaknya bermain memasuki kedalamanajurang dan mendaki gunung Merapi dengan kendit putih membungkus tubuhnya. Sunnguh, buah maja tidak lagi pahit.
Atmo tidaklah demikian, terlelap begitu saja.
Aku bukanlah seorang Rhsi Karshyan yang berdiam di puncak gunung Wilis menjauh dari dunia nyata. Jelas, aku juga bukan Begawan “asayasaya” yang berburu ketenangan batin untuk dirinya sendiri. Kalau toh boleh sebagai tauladan ,yah tak lain adalah Bima yang memasuki hingga telinga yang lebih dalam dari telinga sang Dewaruci lantas keluar mengimjakkan kaki ketanah penuh kotorana. Tapi aku rasa itu berlebihan. Aku Cuma seorang Atmo dari kalangan kaum “ pidak pedarakan” yang sedang mengadu nasib di tengah dunia yang semakin riuh. Itulah barangkali yang dirasakan dan dipikirkan Atmo.
Jurang Jero ditinggalkan.
Tetap dengan sangkur di pinggangnya,turun sudah tidak memgikuti kata hati terlebih apa yang dipikirkannya. Hanya kaki ini yang ia ikuti kemana akan melangkah. Dusun Pule dijejaknya tahu tahu sudah ada di desa Plowengan, tiba tiba kaki agak serong arah barat daya hingga sampai mBolinggo melewati Tlatar dan kakipun berhenti setelah basah oleh air bening sungai Blongkeng yang seberangnya desa Kaweron. Meminum dan membasuh mukanya. Namanya juga nasib juga resiko yang harus dihadapinya sering dating diluar dirinya. Segarnya air saat membasahi wajahnya begitu nikmat saat memejamkan mata dan akan berubah setelah membuka mata. Atmo sudah dikepung oleh orang orang lengkap dengan senjata dan menodong kearahnya. Mereka ini orang orang pribumi dengan emblem pasukan Hiztbullah yang melekat tak beraturan, ada yang di kopyah, saku baju, lengan baju atas atau pada bendera yang ia bawa.
“Letakkan senjata”, perintah yang barangkali komandannya. Namun Atmo tetap terus mencuci mukanya.
“Letakkan senjata kataku”, lagi lagi perintah untuk meletakkan senjata dengan lebih menekan. Salah satu dari mereka yang masih ada di seberang barat sungai melompati bebatuan membisiki telinga komandan.
“Hei kisanak, kenapa juga tidak perdengarkan pada komandanmu, bahwa aku sering keluar masuk Pasturan dan melayani Romo juga Bruder yang ada di Bruderan”, kata Atmo kepada orang yang baru saja membisiki komandan.
“Letakkan senjatamu atau ku tembak”, lanjutnya
“Kita sering berjumpa di Masjid Kauman sama sama mengadakan sholat berjamaah, lhoh kok sepertinya takut padaku”, Atmo dengan tak menghiraukan perintah komandan.
“Letakkan”, bentak komandan.
“Kalian yang bersenjatakan senapan, semua yang mengepungku juga bersenjatakan senapan, apalah artinya pedangku ini”, Atmo
Mereka hanya saling pandang.
“Jaga jarak saja dari jangkauan pedangku ini, kalian akan selamat”, Atmo
“Jangan sombong kau kafir penjilat pantat antek Belanda”, komandan.
“Maaf aku sedang tidak mau mendengar orang yang menakar keimanan seseorang, aku cuma sedang mengikuti kemana kakiku melangkah’, Atmo
“Dasar kafir, begitu bebal tak sadar yang kau pakai dan kau makan dari orang orang kafir pula”, komandan.
“Yang kau todongkan kepadaku senapan buatan Uni Soviet, kalian tahu bagaimanan negri Uni Soviet,adakah negara Islam membuat senjata seperti itu sekarang ini, barangkali ada saat nant, tambah lagi bagaimana kalian mendapatkan senjata itu, membeli dengan uang halalmu?”, Atmo
Semakin panas kuping sang komandan dan bersiap memopor kepala Atmo dengan gagang senjata.
“Sudah aku bilang tadi, jaga jarak, kalau mau tembak tembak saja, bunuh aku seperti saat kau bunuh Romo Sandjaja, mudahkan, membunuh orang yang sudah menyerahkan dirinya untuk dibunuh”, Atmo
“Tembak saja tembak”, yel yel anak buahnya.
“Dengar itu, tak ada salahnya seorang imam mendengarka para makmumnya”, Atmo.
Cuh cuh cuh najis….semua yang mengepung meludahi Atmo. Atmo masih bisa menyembunyikan kemarahan.
“Trima kasih, air surge kalian, dan harumnya Ughhh… laksana wangi kasturi, sekali lagi trima kasih”, Atmo
“Hei kisanak yang sering berpapasan denganku di Masjid Kauman, masih ingatkah khotbah Jumat dua minggu yang lalu? Atmo.
“Sudah tembak saja, tembak…darah seorang kafir halal hukumnya”, lagi lagi yel yel semakin tak sabar.
“Ayo tembaakk”, teriak Atmo hingga menggetarkan tubuh orang orang yang mengepungnya. Tanpa sadar Atmo sedikit terpancing suasana dan mencoba menurunkan amarahnya.
“Kalau kalian merasa malu telah membunuh orang yang ikhlas menyerahkan dirinya untuk dibunuh, bagaiman kalau kita duel saja’, tantang Atmo dengan rendah.
“Percuma, pedangmu tak kan melukaiku kalau Allah Subhanau Wata”alaa tidak meridzoinya, komandan.
“Ouw…artinya kalau pedang ini bisa melukai bahkan membinasakanmu adalh ridzo Allah juga, begitu? Atmo.
“Bukan, itu Iblis”, komandan
“Hahahaha……baiklah tidak apa, mau ladeni tantanganku, aku pakai pedangku dan kau pakai senapanmu darn hati hati, jaga jarak dari jangkauan pedangku, jangan ragu juga kalian semua jangan ragu menembakku’, Atmo.
“Baik, perhatian... jangam ada yang menembak satupun, aku hadapai orang kafir nan sombong ini”, komandan.
“Sebentar, dari mana kau belajar Islam?tanya komandan lagi. Komandan mendekatkan tangan pada pistol dipinggangnya dengan menjaga jarak kurang lebih lima meter dari Atmo. Atmo yang kakinya masih terendam setumit kaki hanya memandang pergerakan tubuh sang komandan yang jelas jauh dari jarak jangkauan pedangnya. Satu kata terakhir dari Atmo menjawab pertanyaan sang komandan.
“SOMALANGU!
Huruf terakhir terucap, sang komandan mencabut senjatanya, namun terpana dengan gerakan pedang yang diayunkan Atmo dan "Jleeggg" kepala sang komandan itu terbelah. Pengikutnya seketika lari ke segala arah.
Innalillahi Wa Inna Illaihi Roji”un.
Laa ilaa ha Illa Anta, Subhaanaka Inni kuntu minadzoolimiin.
Hanya itu yang diucapkan Atmo, seraya menceburkan tubuhnya ke sungai yang agak dalam.
Empat dasa warsa kemudian.
Seorang laki laki uasia skitar 70an berpeci mengendarai Colt pick up berhenti tepat seberang jalan depan sekolah di jalan Muntilan - Dukun dekat dengan tempat nongkrong waktu jam istirahat sekolah. Seorang teman dengan suara yang pelan nyeletuk:'....dialah pemilik tanan yang akhirnya untuk sekolah kita, dihibahkan kepada Yayasan Katholik, setelah terbunuhnya Romo Sandjaja beberapa tahun kemudian". Konon, dialah yang ikut membunuh Romo Sandjaja dan Frater Herman A. Bouwens, yang ketemu Atmo atau bukan, tidak tahu.






