CO PATRIOT VII
#OperasiTirtoLanjutnya
Oleh: Gati Andoko
Atas saran salah satu pemuda Kangkungan dan diiyakan kelima temannya, agar melalui batas desa Tersan Gede bagian selatan, artinya mengelilingi Tersan Gede lebih dulu mengingat beberapa laporan pasukan Belanda tengah menyisir perbukitan gunung Gendhol melalui desa Jumoyo. Armo menyetujuinya demikian halnya teman lainnya. Lebih jauh memang, Tidak bisa tidak harus lari hingga sampai desa Tirto lebih cepat. Wien Nio dan gadis pembawa ransum yang bernama Ningsih tak keberatan untuk diajak berlari. Jadilah 13 orang berlari menyusuri pematang sawah, memasuki gerumbulan pohon pohon besar. Para pemuda Kangkungan menguasai medan, memilih jalur yang tidak berada dalam jangakuan jarak pandang pasukan Belanda. Wien Nio meskipun agak keteteran berlari dalam medan yang cukup sulit, tak keluar keluhan sama sekali. Ningsih, gadis pembawa ransum tak pernah jauh dari Wien Nio tak kalah gesit dari para pemuda Kangkungan. Hanya Kholil yang lukanya belum kering benar dan sesekali darah keluar sedikit kesulitan bahkan beberapa kali terjatuh saat rasa nyeri itu muncul.
“Han, ada yang dilakukan untuk Kholili’, tanya Mardi sambal berlari.
“Ada, tapi butuh waktu yang agak lama’, jawab Han Han
“Uwis tah, gak usah mikirna aku, mlayu ya mlayu ae”. Kholili
“Tiaraaappp….”, teriak salah satu pemuda Kangkungan.
Dari kejauhan tampak tentara Belanda sedang mengawasi dengan menggunakan teropongnya.
“Ini sudah masuk wilayah desa Tirto, tapi sampai perkampungan masih agak jauh”, kata pemuda Kangkungan. Dalam posisi tiarap sedikit bisa mengatur nafas. Kesempatan itu digunakan Han Han untuk pertolongan darurat, berguling mendekati Kholili.
“Tahan sakit”. Han Han menotok bagian punggung Kholil. Rasa panas menyengat bagian luka membuat Kholili tercekik menahan sakit dengan menggigit tangannya sendiri. Ningsih merayap mendekati sungai kecil dan dengan lambaian tanganya mengajak semua agar melewati sungai kecil itu.
‘Melalui sungai ini akan lebih cepat sampai dan bisa sembunyi di bekas galian, setelah itu masing masing bisa sembunyi dibalik tumpukan batubata atau tobong’, kata Ningsih.Tobong yang dimaksud adalah tempat membakar batubata mentah. Akhirnya semua mengikuti arahan Ningsih, merayap dan lari dengan cara merunduk. Begitu sampai lobang galian Atmo mengatur dan membagi masing masing menempatkan dirinya. Atmo yang membawa senapan mortir menempati tempat yang agak tinggi agar leluas menenpatkan senjatanya.
“Wien Nio dan Ningsih jangan jauh jauh dari Han Han, Mardi atau Kholili, paham? Berdua mengangguk. Rambat bergeser kekanan agak jauh mendekati jalan masuk desa Tirto dengan ditemani salah satu pemuda. Sisanya mengikuti Atmo berjaga sebagai penghubung nantinya jika perlu. Jarak dengan pasukan Belanda yang tengah menawan beberapa penduduk desa Tirto tingal 100 meteran.
“Ningsih, sembunyikan senjata ini dari pada merpotkan toh taka da pelurunya”, Mardi.
Ningsih senyum dan langsung merayap mencari jerami dan rerumputan untuk menutupi senjata Han Han dan Mardi. Suara suara bentakan tentara Belanda semakin keras terdengar. Demikian rintihan penduduk desa yang disiksa melengking terdengar. Melalui sela sela tumpukan batubata yang belum dibakar Nampak jelas bagaimana tentara Belanda menendan, memukul, memopor dengan senjatanya. Puluhan warga dengan posisi jongkok tengah ditodang senjata dari berbagai lini. Terdengar pula dari dalam rumah gedhek jeritan perempuan dan gemeletak suara kayu bergerak. Baru setelah itu keluar tentara Belanda dengan celana masih melorot. Sambil membetulkan celanya tentara Belanda senyum tertawa tawa. Kholili melihat kejadian menutup wajahnya sendiri dan sontak mau berdiri namun sem[at dicegah oleh Mardi.
“Waar zjin extremisten? Bentak Tentara pada tawanan paling depan sambal memukulkan gagang senjatanya.
“Waar zjin extremisten?, diulanginya dengan nada lebih keras lagi. Namun tetap tak ada jawaban.
Dorr!
Tergeletak berlumuran darah tawanan itu. Penduduk yang melihat itu semakin ketakutan.
Dorr!
Sekali lagi, lelaki dengan badan teramat kurus ditembak tepat bagian jantung. Tewas seketika.
Han Han yang sudah teramat geram bersiap melompati tumpukan batubata dan menerjangnya tertahan oleh datangnya pemuda Kangkungan yang merayap dan menyampaikan instruksi Atmo. Dengan Bahasa tubuhnya Han Han memahaminya, demikian halnya Mardi dan Kholi. Han Han mengintruksikan agar Wien Nio dan Ningsih mendekati melalui lobang tobong yang penuh dengan abu jelaga lantas keluar dan mengarahkan warga desa segera meningglkan tempat sejauh mungkin. Kholili menyiapkan cluritnya, Han Han dengah beberapa bilah pisau sementara Mardi dengan sangkur milik Atmo, kakaknya.
Beberapa tentara Belanda sudang membawa kayu yang dililit kain berlumur minyak dan menyala.
“Waar zjin extremisten, als je het niet verteit…dit dorp worden verbrand”, teriak lantang tentara Belanda. Satu rumah dibakarnya disusul lainnya mendekati rumah.
“Dit dor worden….’, belum rampung kalimatnya.
Bluaaarrrrrr…..!
Susunan tumpukan batubata yang tertinggi dihantam mortir yang dtembakkan Atmo. Mardi, Han Han dan Kholili melompat dan menyerang dengan senjatanya. Ngamuk!
Tentara Belanda kacau denga serangan tak terduga ini, lari lintang pukang sambal melemparkan nyala api keatap rumah.
Bluaaarrrr….!
Atmo menembak lagi pada deret mobil mobil pengangkut tentara. Para pemuda Kangkungan mengkomando warga yang tertawan untuk segera ikut melawan dengan senjata apa yang didapat. Wien Nio dan Ningsih keluar dari tobong dengan penuh jelaga mengajak warga untuk segera meninggalkan tempat ini. Penduduk desa Tirto yang dihinggapi kemarahan mengamuk mengejar tentara Belanda tanpa mempedulikan keamanan mereka sendiri. Dengan senapan mesinnya Belanda memberondong warga desa yang terus merangsek kedepan. Korban berjatuhan di pihak warga desa Tirto. Secepat kilat Han Han, Mardi dan Kholili melompat berlari melalui lekuk rumah penduduk menghampiri tentara yang tengah memberondongkan senapan mesinnya. Atmopun meletakkan senjata mortirnya turun dengan parang pinjaman pemuda Kangkungan. Belandapun lari kearah mobil mobil pengangkut yang mulai putar arah meninggalkan desa Tirto. Atmo, Han Han, Kholili dan dan Mardi nyaris bersamaan mendekati Tentara diatas mobil yang sudah bergerak berbalik arah bersenjatakan senapan mesin terus menerus ditembakkan. Tak tahu dating dari mana Rambat sudah berdiri diatas mobil yang berjalan menembak tentara penembak dan tentara penyedia peluru sekaligus sopirnya. Rambat melompat dari mobil yang berjalan tanpa kemudi. Mobil itupun menabarak pohon gayam besar dan mulai mengeluarkan asap api. Kembali Rambat lari kearah mobil mengambil senapan mesin berikut rentengan peluru, langsung mengarahkan rentetan truk pengankut tentara Belanda kearah timur meninggalkan desa, namun begitu menark pelatuk senapan, tak kuat menahan justru berondongannya tak terarah, Rambat terpental jauh ke belakang. Atmo, Mardi, Han Han dan Kholili begitu tahu Rambat terjerembab langsung pura pura tidak tahu.
Belanda pergi.
Rumah rumah terbakar.
Mayat berserak.
Berduyun duyun warga yang tadinya lari mengungsi berdatangan memadamkan api dan merawat yang terluka juga mensucikan mereka yang meninggal. Air mata telah habis menjadi uap bersama asap yang masih mengepul di setiap rumah yang terbakar. Wien Nio dan Ningsih yang seluruh tubuhnya dipenuhi hitam jelaga dating bersama warga dari atas gunung Gendhol tidak menjadikannya lelucon untuk melahirkan tawa. Semuanya membisu, hanya tubuh yang bergerak menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan, mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan. Dalam kebisuan itu juga, Mardi, Han Han, Kholi teringat kejadian dalam rumah tadi yang belum juga ada orang yang menyentuhnya. Wien Nio dan Nimgsih mengikuti langkah Han Han, Mardi dan Kholili mendatangi rumah dan memasukinya. Langsung memalingkan wajah dan tubuhnya.
Seorang perempuan telanjang, tangannya masih memegang gagang pisau dapur yang menusuk perutnya. Hidupnya sudah hilang semenjak diperkosa, dan kematian dipilihnya, "bunuh diri".
#OperasiTirtoLanjutnya
Oleh: Gati Andoko
Atas saran salah satu pemuda Kangkungan dan diiyakan kelima temannya, agar melalui batas desa Tersan Gede bagian selatan, artinya mengelilingi Tersan Gede lebih dulu mengingat beberapa laporan pasukan Belanda tengah menyisir perbukitan gunung Gendhol melalui desa Jumoyo. Armo menyetujuinya demikian halnya teman lainnya. Lebih jauh memang, Tidak bisa tidak harus lari hingga sampai desa Tirto lebih cepat. Wien Nio dan gadis pembawa ransum yang bernama Ningsih tak keberatan untuk diajak berlari. Jadilah 13 orang berlari menyusuri pematang sawah, memasuki gerumbulan pohon pohon besar. Para pemuda Kangkungan menguasai medan, memilih jalur yang tidak berada dalam jangakuan jarak pandang pasukan Belanda. Wien Nio meskipun agak keteteran berlari dalam medan yang cukup sulit, tak keluar keluhan sama sekali. Ningsih, gadis pembawa ransum tak pernah jauh dari Wien Nio tak kalah gesit dari para pemuda Kangkungan. Hanya Kholil yang lukanya belum kering benar dan sesekali darah keluar sedikit kesulitan bahkan beberapa kali terjatuh saat rasa nyeri itu muncul.
“Han, ada yang dilakukan untuk Kholili’, tanya Mardi sambal berlari.
“Ada, tapi butuh waktu yang agak lama’, jawab Han Han
“Uwis tah, gak usah mikirna aku, mlayu ya mlayu ae”. Kholili
“Tiaraaappp….”, teriak salah satu pemuda Kangkungan.
Dari kejauhan tampak tentara Belanda sedang mengawasi dengan menggunakan teropongnya.
“Ini sudah masuk wilayah desa Tirto, tapi sampai perkampungan masih agak jauh”, kata pemuda Kangkungan. Dalam posisi tiarap sedikit bisa mengatur nafas. Kesempatan itu digunakan Han Han untuk pertolongan darurat, berguling mendekati Kholili.
“Tahan sakit”. Han Han menotok bagian punggung Kholil. Rasa panas menyengat bagian luka membuat Kholili tercekik menahan sakit dengan menggigit tangannya sendiri. Ningsih merayap mendekati sungai kecil dan dengan lambaian tanganya mengajak semua agar melewati sungai kecil itu.
‘Melalui sungai ini akan lebih cepat sampai dan bisa sembunyi di bekas galian, setelah itu masing masing bisa sembunyi dibalik tumpukan batubata atau tobong’, kata Ningsih.Tobong yang dimaksud adalah tempat membakar batubata mentah. Akhirnya semua mengikuti arahan Ningsih, merayap dan lari dengan cara merunduk. Begitu sampai lobang galian Atmo mengatur dan membagi masing masing menempatkan dirinya. Atmo yang membawa senapan mortir menempati tempat yang agak tinggi agar leluas menenpatkan senjatanya.
“Wien Nio dan Ningsih jangan jauh jauh dari Han Han, Mardi atau Kholili, paham? Berdua mengangguk. Rambat bergeser kekanan agak jauh mendekati jalan masuk desa Tirto dengan ditemani salah satu pemuda. Sisanya mengikuti Atmo berjaga sebagai penghubung nantinya jika perlu. Jarak dengan pasukan Belanda yang tengah menawan beberapa penduduk desa Tirto tingal 100 meteran.
“Ningsih, sembunyikan senjata ini dari pada merpotkan toh taka da pelurunya”, Mardi.
Ningsih senyum dan langsung merayap mencari jerami dan rerumputan untuk menutupi senjata Han Han dan Mardi. Suara suara bentakan tentara Belanda semakin keras terdengar. Demikian rintihan penduduk desa yang disiksa melengking terdengar. Melalui sela sela tumpukan batubata yang belum dibakar Nampak jelas bagaimana tentara Belanda menendan, memukul, memopor dengan senjatanya. Puluhan warga dengan posisi jongkok tengah ditodang senjata dari berbagai lini. Terdengar pula dari dalam rumah gedhek jeritan perempuan dan gemeletak suara kayu bergerak. Baru setelah itu keluar tentara Belanda dengan celana masih melorot. Sambil membetulkan celanya tentara Belanda senyum tertawa tawa. Kholili melihat kejadian menutup wajahnya sendiri dan sontak mau berdiri namun sem[at dicegah oleh Mardi.
“Waar zjin extremisten? Bentak Tentara pada tawanan paling depan sambal memukulkan gagang senjatanya.
“Waar zjin extremisten?, diulanginya dengan nada lebih keras lagi. Namun tetap tak ada jawaban.
Dorr!
Tergeletak berlumuran darah tawanan itu. Penduduk yang melihat itu semakin ketakutan.
Dorr!
Sekali lagi, lelaki dengan badan teramat kurus ditembak tepat bagian jantung. Tewas seketika.
Han Han yang sudah teramat geram bersiap melompati tumpukan batubata dan menerjangnya tertahan oleh datangnya pemuda Kangkungan yang merayap dan menyampaikan instruksi Atmo. Dengan Bahasa tubuhnya Han Han memahaminya, demikian halnya Mardi dan Kholi. Han Han mengintruksikan agar Wien Nio dan Ningsih mendekati melalui lobang tobong yang penuh dengan abu jelaga lantas keluar dan mengarahkan warga desa segera meningglkan tempat sejauh mungkin. Kholili menyiapkan cluritnya, Han Han dengah beberapa bilah pisau sementara Mardi dengan sangkur milik Atmo, kakaknya.
Beberapa tentara Belanda sudang membawa kayu yang dililit kain berlumur minyak dan menyala.
“Waar zjin extremisten, als je het niet verteit…dit dorp worden verbrand”, teriak lantang tentara Belanda. Satu rumah dibakarnya disusul lainnya mendekati rumah.
“Dit dor worden….’, belum rampung kalimatnya.
Bluaaarrrrrr…..!
Susunan tumpukan batubata yang tertinggi dihantam mortir yang dtembakkan Atmo. Mardi, Han Han dan Kholili melompat dan menyerang dengan senjatanya. Ngamuk!
Tentara Belanda kacau denga serangan tak terduga ini, lari lintang pukang sambal melemparkan nyala api keatap rumah.
Bluaaarrrr….!
Atmo menembak lagi pada deret mobil mobil pengangkut tentara. Para pemuda Kangkungan mengkomando warga yang tertawan untuk segera ikut melawan dengan senjata apa yang didapat. Wien Nio dan Ningsih keluar dari tobong dengan penuh jelaga mengajak warga untuk segera meninggalkan tempat ini. Penduduk desa Tirto yang dihinggapi kemarahan mengamuk mengejar tentara Belanda tanpa mempedulikan keamanan mereka sendiri. Dengan senapan mesinnya Belanda memberondong warga desa yang terus merangsek kedepan. Korban berjatuhan di pihak warga desa Tirto. Secepat kilat Han Han, Mardi dan Kholili melompat berlari melalui lekuk rumah penduduk menghampiri tentara yang tengah memberondongkan senapan mesinnya. Atmopun meletakkan senjata mortirnya turun dengan parang pinjaman pemuda Kangkungan. Belandapun lari kearah mobil mobil pengangkut yang mulai putar arah meninggalkan desa Tirto. Atmo, Han Han, Kholili dan dan Mardi nyaris bersamaan mendekati Tentara diatas mobil yang sudah bergerak berbalik arah bersenjatakan senapan mesin terus menerus ditembakkan. Tak tahu dating dari mana Rambat sudah berdiri diatas mobil yang berjalan menembak tentara penembak dan tentara penyedia peluru sekaligus sopirnya. Rambat melompat dari mobil yang berjalan tanpa kemudi. Mobil itupun menabarak pohon gayam besar dan mulai mengeluarkan asap api. Kembali Rambat lari kearah mobil mengambil senapan mesin berikut rentengan peluru, langsung mengarahkan rentetan truk pengankut tentara Belanda kearah timur meninggalkan desa, namun begitu menark pelatuk senapan, tak kuat menahan justru berondongannya tak terarah, Rambat terpental jauh ke belakang. Atmo, Mardi, Han Han dan Kholili begitu tahu Rambat terjerembab langsung pura pura tidak tahu.
Belanda pergi.
Rumah rumah terbakar.
Mayat berserak.
Berduyun duyun warga yang tadinya lari mengungsi berdatangan memadamkan api dan merawat yang terluka juga mensucikan mereka yang meninggal. Air mata telah habis menjadi uap bersama asap yang masih mengepul di setiap rumah yang terbakar. Wien Nio dan Ningsih yang seluruh tubuhnya dipenuhi hitam jelaga dating bersama warga dari atas gunung Gendhol tidak menjadikannya lelucon untuk melahirkan tawa. Semuanya membisu, hanya tubuh yang bergerak menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan, mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan. Dalam kebisuan itu juga, Mardi, Han Han, Kholi teringat kejadian dalam rumah tadi yang belum juga ada orang yang menyentuhnya. Wien Nio dan Nimgsih mengikuti langkah Han Han, Mardi dan Kholili mendatangi rumah dan memasukinya. Langsung memalingkan wajah dan tubuhnya.
Seorang perempuan telanjang, tangannya masih memegang gagang pisau dapur yang menusuk perutnya. Hidupnya sudah hilang semenjak diperkosa, dan kematian dipilihnya, "bunuh diri".






