CO PATRIOT VII
#OperasiTirto
Oleh: Gati Andoko
Suara ribuan serangga “tongeret” penghantar malam di pepohanan tetap saja tertembus oleh erangan kesakitan Kholili. Atmo,Han Han, Mardi dan Rambat yang duduk dalam kegelapan teras rumah nenek dukun bayi sudah berasa pada titik nadzir atas keselamatan jiwa Kholili.
“Nang, kancamu lagi adem panas wae, sing penting pelurune wis metu, wis ojo kuatir”, nenek dukun bayi menghiburnya.
“Oalah nang pait getir godhong rondhonoleh sing tak mamah iki mau isih keri, kui trus tak bobokne nang tatune, hueeekkk jyaann”.
Hanya Han Han yang mengiyakan penjelasan nenek dukun bayi, tahapan yang wajar bagi orang yang terluka luar menembus daging. Atmo dan Mardi merasa tidak ada yang bisa lakukan hanya tepekur menutupi telinga agar tak mendengar erangan kesakitan Kholili. Rambat yang tidak mempercayai nenek yang cuma dukun bayi hanya mengamati senjata mortir hasil rampasannya.
“Mlebu kene wae nang, simbah ngliwet iki mau, njupuk dewe nang pawon”.
Memang, selesai pertempuran Gremeng atau warga menyebutnya “bong Cino”, Atmo, Han Han, Mardi dan Rambat memisahkan diri dari rombongan yang kembali ke Sokorini dan langsung ke Gunung Sari menengok keadaan Kholili yang dititipkan di rumah nenek dukun bayi. Kholil sudah menjadi bagian dari tangan tangan bersatu. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berlima kecuali Tuhan, tentu saja. Keberhasilan pertempuran Gremeng tidaklah berarti jika Kholili harus mati. Semoga saja apa yang dikatakan nenek benar adanya.
Kalau tidak ingat Kholili, nasi sebakul, daun papaya rebus dan sambel gowok masakan nenek dukun bayi pasti habis dilahapnya. Sepiring nasi, sejumput daun papaya rebus dan secolek sambel gowok disisakan untuk Kholili. Nenek sangat senang sekali melihat cara makan dan berbagi dengan temannya.
“Aku tak teturon sik ya nang, aku ya kuatir sak awan mau, Ngalkamdulillah isa lancer sak kabehe”.
“Inggih mbah, matur sembah nuwun”, kompak menjawab.
Benar juga kata nenek, Kholili mulai berkurang erangannya dan semakin tenang.
“Kang Atmo isa nggunakke iki”. Bertanya Rambat pada Atmo cara menggunakan senjat mortir.
“Ada pelurunya? Atmo
“Telu”, jawab Rambat.
Tanpa menjawab, Atmo memegang senjata mortir dan mempelajarinya dengan teliti. Bergantian Mardi dan Han Han memegang dan menakar berat senjata itu. Atmo masih juga belum menjawab pertanyaan Rambat, justru malah memulai membicarakan apa yang akan dilakukan esoknya. Naluri militer Atmo berjalan, bahwa Belanda akan mengerahkan kekuatan untuk balas dendam, menyisir habis lereng gunung Gendhol setidaknya sisi utara, dan sangat mungkin akan memasuki desa Tirto.
Kenapa desa Tirto?
Belanda sangat jeli mempelajari sejarah perlawanan P. Diponegoro yang mengakibatkan kerugian terbesar sejarah pendudukan Hindia-Belanda. Itu yang selalu diajarkan dalam sejarah kemiliteran pada calon tentara Belanda sendiri maupun calon tentara KNIL. Ketakutan terbesar Belanda jika semangat perlawanan P. Diponegoro lahir kembali. Maka, titik titk napak tilas jejak Perlawan P. Diponegoro sangat detail dipelajari. Desa Tirto pernah menjadi basis perlawanan, hingga anak turun prajurit prajurit Diponegoro masih berdiam di sana, desa Tirto yang tak jauh dari desa Kadiluwih, candi Gunung Wukir.
Disepakati, esoknya berjaga jaga di desa Tirto.
“Pelurumu tinggal berapa Han?
“Dinamit habis, peluru tinggal tiga butir”, jawab Han Han Rambat masih menyisakan 7 butir peluru, sementara Mardi tinggal senjata laras panjang tanpa peluru.
“Yah kita tinggal mengandalkan tiga peluru mortir ini”, Atmo.
Tidur. Menunggu pagi yang tinggal satu jam lagi.
“Nang, arep nang ndi? Tanya nenek yang sudah duduk di depan tungku.
“Kebelet pipis mbah”, jawab Kholili.
“Ngalkamdulillah, sssttt ojo cepet cepet mlakune, kui lewat lawang pawon”.
Nenek dukun bayi berusaha membimbing dan memapah sekuatnya, namun Kholili menolaknya. Puji syukur dalam bisu doanya. Atmo, Mardi, Han Han dan Rambat masih lelap tidur.
“Bubar ngono ndang sarapan, kae mau bengi isih dingengehi”. Nenekpun kembali merampungkan kerjaannya, menyiapkan alu jolang untuk menumbuk ketela pohon dijadikannya gethuk. Selesai buang air kecil Kholili langsung mengambil sepiring nasi yang memang sudah disediakan tadi malam. Alu jolang sudah terisi ketela pohon dengan asap yang masih mengepul. Nenek mulai menumbuknya
“Kene, simbah dibantu ngepel ngepel gethuk semene iki, ben awakmu obah ora kaku”. Nenek memberi contoh bulat bulatan adonan ketela yang sudah pekat. Kholili tidak menolak sama sekali meskipun rasa nyeri bagian luka kadang masih terasa, lagian kerinduan bermanja dekat orang tua sudah lama tak dirasakan. Bagi Kholil, bisa membantu orang tua adalah keceriaan tersendiri. Nenekpun juga merindukan seorang anak yang sepanjang hidupnya tidak diperolehnya. Resiko sebagai dukun bayi adalah pengabdian sepanjang hidup bagi nenek yang merelakan diri tidak mempunyai anak bahkan tidak bersuami.
Atmo, Mardi,Han Han dan Rambat masih lelap tidur meski panas matahari pagi masuk melalui lobang sela gedhek bambu. Suara kokok ayam, suara alu beertalu tak membuat merka terbangun. Dari dengkur tidurnya Nampak anak anak ini jarang istirahat. Kasihan. Demikian pikir nenek. Kholili yang sedari tadi membantu nenek mengepal ngepal pandangan rasa penasaran paada senjata mortir, begitu selesai langsung mendekati, mengamati dan mencoba mengangkatnya dan mengarahkan pada mereka yang masih tertidur.
“Angkat tangan”, teriak Kholili.
Tersentak kaget, berempat bangun dan meloncat hingga terjermbab jatuh dari balai balai.
“Jingaaan, masih hidup rupanya”, teriak Han Han pula dengan nada canda.
Nenekpun ikut memperingatkan agar Kholili tidak usah ikut dulu, biar tinggal dulu di Gunung Sari. Begitulah Kholili, rasa sakitnya hanyalah sekedar untuk senantias terjaga dalam perjalanan hidupnya. Dan rasa sakit itu juga tertahan oleh kebulatan tekadnya.
“Iki nang, surjan lehku nemu nang kali Blongkeng, mbok menawa wong umbah umbah keli”, nenek memberi surjan untuk ganti baju Kholil yang robrk dan penuh darah. Sekeranjang gethuk terbungkus daun pisang pemberian nenek untuk bekal sudah ada di tangan Mardi. Mereka menyalami nenek sembari mencium tangannya.
“Haiyah… kaya Londo wae ndadak ngambung tangan hihihi….”. Nenek menarik tangannya saat mau dicium dan malah menampar satu satu. Tamparan kasih saying khas nenek.
Masih melalui jalur kemarin yang dilewati.
Kesiangan memang, terlambat dari yang direncakan. Melwati Gulon bagian selatan, menyeberang sungai Jlegong, melewati desa Nabin dan berhenti di Kali Putih. Baru mendekati batas desa Nabin dengan bantaran Kali Putih dikejutkan oleh berhamburan para pengungsi dari arah timur, termasuk diantaranya pemuda dari Kangkungan dan banya permpuan dan anak. Bergegas berlima lari menghampiri.
“Londo sudah memsuki desa Tirto”, pemuda yang sangat mengena Mardi dan Han Han memberi tahu.
Berlima membantu para pengungsi menyeberangi sungai dan meminta berhenti dulu dipinggir batas desa Nabin.
“Wien Nio”, lagi lagi Han Han terkejut yang kedua kalinya atas pertemuannya Wien Nio yang ikut rombongan pengungsi, terlebih gadis pembawa ransum yang sempat bersama sama ikut juga. "Adegan konyol lagi", batin Han Han.
Terlambat. Batin Atmo.
Hampir serratus orang pengungsi menyeberangi sungai.
“Ini mau kemana”, tanya Atmo
“Kami juga tidak tahu mau kemana”, jawab pemuda dari Kangkungan.
Ada yang tidak beres. Naluri militer Atmo bekerja saat rombongan pengungsi yang tidak banyak diketahui.
“Dari desa mana saja kalian ini? Tanya Atmo. Masing masing menyebut desa asalnya, dan dari pengakuannya ada juga orang orang luar seberang desa yang jauh dari desa Tirto. Atmo memanggil pengungsi yang mengaku dari Bligo.
“Maaf kisanak, dari mana tadi?
“Bligo”. Jawabnya pendek.
“Ach…sepertinya saya mengenal kisanak sewaktu pertempuran di Palagan Ambarawa”.
“Bukankah kisanak adalah anak buah LetKol Isdiman’, lanjutnya. Pawongan itu mencoba mengingat dan menganguk angguk sembari senyum senyum.
“Lama juga tak ketemu seorang panglima perang yang sangat gagah berani”.
“Apa kisanak tahu sekarang beliau ditugaskan dimana, aku ingin menjumpainya”, Atmo masih bertanya dan Nampak akrab sekali. Demikian pawongan yang ikut rombongan pengungsi tidak merasa berjarak. Para pengungsi yang menyaksikan perbincangan antara Atmo dan pawongan yang belum dikenalnya juga ikut arus perbincangan. Han Han yang dekat denga Wien Nio dan gadis pembawa ransum asyik dengan obrolannya. Mardi dan Rambat tak jauh dari Kholili yang kadang merasa nyeri kesakitan.
“Hahaha…benar itu, sering kali beliau selalu minta pertimbangan saya dalam mengatur setrategi perangnya’, pawongan itu menjelaskan dengan bangga.
“Iya iya saya dengar juga begitu, maaf kisanak beliau dimana sekarang, sungguh saya mau menemuinya”.
“Dia bertugas di Kartosuro’,jawab pawongan itu dengan senyum lebar.
“Mbat kemari”, teriak Atmo memanggil Rambat. Rambat lari memghampiri Atmo yang masaih dua langkah lagi sampai, Atmo merebut pistol Rambat dan menembak kepala pawongan tadi.
Duarrrr….!
Pengungsi terkejut, menjerit miris melihat penembakan itu. Seketika itu juga ada pawongan yang lari menyebeberangi sungai.
“Mardi, kejar ia!
Mardi mengejar, namun Kholili melempar cluritnya kearah pawongan yang lari. Clurit dengan melesat kecepatan tinggi, berputar dan ujung clurit mengenai leher pelarian itu. Terhenti larinya, berdiri dengan darah muncrat dari lehernya. Pawongan itupun roboh tercebur kali.
“Jangan ada lagi penyusup di sini, tolong hati hati siapa yang ada di sekitar kita”, teriak keras Atmo ditujukan pada para pengungsi. Atmo lantas memanggil pemuda dari Kangkungan yang masih terkejut dengan peristiwa ini tadi. Dengan setengah berbisik Atmo meminta pemuda dari Kangkungan agar segera mengantar para pengungsi menyelusuri kali Putih hingga desa Seloboro dan tinggal dilereng gunung Sari sebelah barat. Beberapa pemuda Kangkungan juga diminta untuk ikut ke desa Tirto.
“Siap”, tegas pemuda Kangkungan.
Akhirnya enam pemuda Kangkungan ikut Atmo dan kawan kawan, sisanya memandu para pengungsi. Lagi lagi Wien Nio dan gadis pembawa ransum memaksa untuk ikut ke desa Tirto.
#bersambung
#OperasiTirto
Oleh: Gati Andoko
Suara ribuan serangga “tongeret” penghantar malam di pepohanan tetap saja tertembus oleh erangan kesakitan Kholili. Atmo,Han Han, Mardi dan Rambat yang duduk dalam kegelapan teras rumah nenek dukun bayi sudah berasa pada titik nadzir atas keselamatan jiwa Kholili.
“Nang, kancamu lagi adem panas wae, sing penting pelurune wis metu, wis ojo kuatir”, nenek dukun bayi menghiburnya.
“Oalah nang pait getir godhong rondhonoleh sing tak mamah iki mau isih keri, kui trus tak bobokne nang tatune, hueeekkk jyaann”.
Hanya Han Han yang mengiyakan penjelasan nenek dukun bayi, tahapan yang wajar bagi orang yang terluka luar menembus daging. Atmo dan Mardi merasa tidak ada yang bisa lakukan hanya tepekur menutupi telinga agar tak mendengar erangan kesakitan Kholili. Rambat yang tidak mempercayai nenek yang cuma dukun bayi hanya mengamati senjata mortir hasil rampasannya.
“Mlebu kene wae nang, simbah ngliwet iki mau, njupuk dewe nang pawon”.
Memang, selesai pertempuran Gremeng atau warga menyebutnya “bong Cino”, Atmo, Han Han, Mardi dan Rambat memisahkan diri dari rombongan yang kembali ke Sokorini dan langsung ke Gunung Sari menengok keadaan Kholili yang dititipkan di rumah nenek dukun bayi. Kholil sudah menjadi bagian dari tangan tangan bersatu. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berlima kecuali Tuhan, tentu saja. Keberhasilan pertempuran Gremeng tidaklah berarti jika Kholili harus mati. Semoga saja apa yang dikatakan nenek benar adanya.
Kalau tidak ingat Kholili, nasi sebakul, daun papaya rebus dan sambel gowok masakan nenek dukun bayi pasti habis dilahapnya. Sepiring nasi, sejumput daun papaya rebus dan secolek sambel gowok disisakan untuk Kholili. Nenek sangat senang sekali melihat cara makan dan berbagi dengan temannya.
“Aku tak teturon sik ya nang, aku ya kuatir sak awan mau, Ngalkamdulillah isa lancer sak kabehe”.
“Inggih mbah, matur sembah nuwun”, kompak menjawab.
Benar juga kata nenek, Kholili mulai berkurang erangannya dan semakin tenang.
“Kang Atmo isa nggunakke iki”. Bertanya Rambat pada Atmo cara menggunakan senjat mortir.
“Ada pelurunya? Atmo
“Telu”, jawab Rambat.
Tanpa menjawab, Atmo memegang senjata mortir dan mempelajarinya dengan teliti. Bergantian Mardi dan Han Han memegang dan menakar berat senjata itu. Atmo masih juga belum menjawab pertanyaan Rambat, justru malah memulai membicarakan apa yang akan dilakukan esoknya. Naluri militer Atmo berjalan, bahwa Belanda akan mengerahkan kekuatan untuk balas dendam, menyisir habis lereng gunung Gendhol setidaknya sisi utara, dan sangat mungkin akan memasuki desa Tirto.
Kenapa desa Tirto?
Belanda sangat jeli mempelajari sejarah perlawanan P. Diponegoro yang mengakibatkan kerugian terbesar sejarah pendudukan Hindia-Belanda. Itu yang selalu diajarkan dalam sejarah kemiliteran pada calon tentara Belanda sendiri maupun calon tentara KNIL. Ketakutan terbesar Belanda jika semangat perlawanan P. Diponegoro lahir kembali. Maka, titik titk napak tilas jejak Perlawan P. Diponegoro sangat detail dipelajari. Desa Tirto pernah menjadi basis perlawanan, hingga anak turun prajurit prajurit Diponegoro masih berdiam di sana, desa Tirto yang tak jauh dari desa Kadiluwih, candi Gunung Wukir.
Disepakati, esoknya berjaga jaga di desa Tirto.
“Pelurumu tinggal berapa Han?
“Dinamit habis, peluru tinggal tiga butir”, jawab Han Han Rambat masih menyisakan 7 butir peluru, sementara Mardi tinggal senjata laras panjang tanpa peluru.
“Yah kita tinggal mengandalkan tiga peluru mortir ini”, Atmo.
Tidur. Menunggu pagi yang tinggal satu jam lagi.
“Nang, arep nang ndi? Tanya nenek yang sudah duduk di depan tungku.
“Kebelet pipis mbah”, jawab Kholili.
“Ngalkamdulillah, sssttt ojo cepet cepet mlakune, kui lewat lawang pawon”.
Nenek dukun bayi berusaha membimbing dan memapah sekuatnya, namun Kholili menolaknya. Puji syukur dalam bisu doanya. Atmo, Mardi, Han Han dan Rambat masih lelap tidur.
“Bubar ngono ndang sarapan, kae mau bengi isih dingengehi”. Nenekpun kembali merampungkan kerjaannya, menyiapkan alu jolang untuk menumbuk ketela pohon dijadikannya gethuk. Selesai buang air kecil Kholili langsung mengambil sepiring nasi yang memang sudah disediakan tadi malam. Alu jolang sudah terisi ketela pohon dengan asap yang masih mengepul. Nenek mulai menumbuknya
“Kene, simbah dibantu ngepel ngepel gethuk semene iki, ben awakmu obah ora kaku”. Nenek memberi contoh bulat bulatan adonan ketela yang sudah pekat. Kholili tidak menolak sama sekali meskipun rasa nyeri bagian luka kadang masih terasa, lagian kerinduan bermanja dekat orang tua sudah lama tak dirasakan. Bagi Kholil, bisa membantu orang tua adalah keceriaan tersendiri. Nenekpun juga merindukan seorang anak yang sepanjang hidupnya tidak diperolehnya. Resiko sebagai dukun bayi adalah pengabdian sepanjang hidup bagi nenek yang merelakan diri tidak mempunyai anak bahkan tidak bersuami.
Atmo, Mardi,Han Han dan Rambat masih lelap tidur meski panas matahari pagi masuk melalui lobang sela gedhek bambu. Suara kokok ayam, suara alu beertalu tak membuat merka terbangun. Dari dengkur tidurnya Nampak anak anak ini jarang istirahat. Kasihan. Demikian pikir nenek. Kholili yang sedari tadi membantu nenek mengepal ngepal pandangan rasa penasaran paada senjata mortir, begitu selesai langsung mendekati, mengamati dan mencoba mengangkatnya dan mengarahkan pada mereka yang masih tertidur.
“Angkat tangan”, teriak Kholili.
Tersentak kaget, berempat bangun dan meloncat hingga terjermbab jatuh dari balai balai.
“Jingaaan, masih hidup rupanya”, teriak Han Han pula dengan nada canda.
Nenekpun ikut memperingatkan agar Kholili tidak usah ikut dulu, biar tinggal dulu di Gunung Sari. Begitulah Kholili, rasa sakitnya hanyalah sekedar untuk senantias terjaga dalam perjalanan hidupnya. Dan rasa sakit itu juga tertahan oleh kebulatan tekadnya.
“Iki nang, surjan lehku nemu nang kali Blongkeng, mbok menawa wong umbah umbah keli”, nenek memberi surjan untuk ganti baju Kholil yang robrk dan penuh darah. Sekeranjang gethuk terbungkus daun pisang pemberian nenek untuk bekal sudah ada di tangan Mardi. Mereka menyalami nenek sembari mencium tangannya.
“Haiyah… kaya Londo wae ndadak ngambung tangan hihihi….”. Nenek menarik tangannya saat mau dicium dan malah menampar satu satu. Tamparan kasih saying khas nenek.
Masih melalui jalur kemarin yang dilewati.
Kesiangan memang, terlambat dari yang direncakan. Melwati Gulon bagian selatan, menyeberang sungai Jlegong, melewati desa Nabin dan berhenti di Kali Putih. Baru mendekati batas desa Nabin dengan bantaran Kali Putih dikejutkan oleh berhamburan para pengungsi dari arah timur, termasuk diantaranya pemuda dari Kangkungan dan banya permpuan dan anak. Bergegas berlima lari menghampiri.
“Londo sudah memsuki desa Tirto”, pemuda yang sangat mengena Mardi dan Han Han memberi tahu.
Berlima membantu para pengungsi menyeberangi sungai dan meminta berhenti dulu dipinggir batas desa Nabin.
“Wien Nio”, lagi lagi Han Han terkejut yang kedua kalinya atas pertemuannya Wien Nio yang ikut rombongan pengungsi, terlebih gadis pembawa ransum yang sempat bersama sama ikut juga. "Adegan konyol lagi", batin Han Han.
Terlambat. Batin Atmo.
Hampir serratus orang pengungsi menyeberangi sungai.
“Ini mau kemana”, tanya Atmo
“Kami juga tidak tahu mau kemana”, jawab pemuda dari Kangkungan.
Ada yang tidak beres. Naluri militer Atmo bekerja saat rombongan pengungsi yang tidak banyak diketahui.
“Dari desa mana saja kalian ini? Tanya Atmo. Masing masing menyebut desa asalnya, dan dari pengakuannya ada juga orang orang luar seberang desa yang jauh dari desa Tirto. Atmo memanggil pengungsi yang mengaku dari Bligo.
“Maaf kisanak, dari mana tadi?
“Bligo”. Jawabnya pendek.
“Ach…sepertinya saya mengenal kisanak sewaktu pertempuran di Palagan Ambarawa”.
“Bukankah kisanak adalah anak buah LetKol Isdiman’, lanjutnya. Pawongan itu mencoba mengingat dan menganguk angguk sembari senyum senyum.
“Lama juga tak ketemu seorang panglima perang yang sangat gagah berani”.
“Apa kisanak tahu sekarang beliau ditugaskan dimana, aku ingin menjumpainya”, Atmo masih bertanya dan Nampak akrab sekali. Demikian pawongan yang ikut rombongan pengungsi tidak merasa berjarak. Para pengungsi yang menyaksikan perbincangan antara Atmo dan pawongan yang belum dikenalnya juga ikut arus perbincangan. Han Han yang dekat denga Wien Nio dan gadis pembawa ransum asyik dengan obrolannya. Mardi dan Rambat tak jauh dari Kholili yang kadang merasa nyeri kesakitan.
“Hahaha…benar itu, sering kali beliau selalu minta pertimbangan saya dalam mengatur setrategi perangnya’, pawongan itu menjelaskan dengan bangga.
“Iya iya saya dengar juga begitu, maaf kisanak beliau dimana sekarang, sungguh saya mau menemuinya”.
“Dia bertugas di Kartosuro’,jawab pawongan itu dengan senyum lebar.
“Mbat kemari”, teriak Atmo memanggil Rambat. Rambat lari memghampiri Atmo yang masaih dua langkah lagi sampai, Atmo merebut pistol Rambat dan menembak kepala pawongan tadi.
Duarrrr….!
Pengungsi terkejut, menjerit miris melihat penembakan itu. Seketika itu juga ada pawongan yang lari menyebeberangi sungai.
“Mardi, kejar ia!
Mardi mengejar, namun Kholili melempar cluritnya kearah pawongan yang lari. Clurit dengan melesat kecepatan tinggi, berputar dan ujung clurit mengenai leher pelarian itu. Terhenti larinya, berdiri dengan darah muncrat dari lehernya. Pawongan itupun roboh tercebur kali.
“Jangan ada lagi penyusup di sini, tolong hati hati siapa yang ada di sekitar kita”, teriak keras Atmo ditujukan pada para pengungsi. Atmo lantas memanggil pemuda dari Kangkungan yang masih terkejut dengan peristiwa ini tadi. Dengan setengah berbisik Atmo meminta pemuda dari Kangkungan agar segera mengantar para pengungsi menyelusuri kali Putih hingga desa Seloboro dan tinggal dilereng gunung Sari sebelah barat. Beberapa pemuda Kangkungan juga diminta untuk ikut ke desa Tirto.
“Siap”, tegas pemuda Kangkungan.
Akhirnya enam pemuda Kangkungan ikut Atmo dan kawan kawan, sisanya memandu para pengungsi. Lagi lagi Wien Nio dan gadis pembawa ransum memaksa untuk ikut ke desa Tirto.
#bersambung







