CO PATRIOT VI
#lanjutan III
Oleh: Gati Andoko
“Ya ampun nang, kenapa kui…kene mlebu kene”, seorang nenek yang tinggal di lereng gunung Sari terkaget kaget melihat orang dipapah berdarah darah. Mardi dan Han Han yang tengah memapah Kholili mencoba minta pertimbangan Atmo dengan hanya mengarahkan pandangan. Atmo dengan gerakan kepalanya menyetujuinya.
“Getih kok peting dlewer kene”, nenek itu masih bertanya Tanya.
“Ketembak mbah mboten merga babaran”, sela Rambat. Atmo menendang kaki Rambat agar tidak bercanda.
“Kok ngerti nang nek aku ki dukun bayi”.
Mardi, Han Han, Atmo dan Rambat hanya saling pandang menganga kaget namun menahan tawa. Nenek menyuruh agar Kholili ditengkurapkan.
“Tinggalkan aku, susul arek arek”, kata Kholili dengan peluru yang masih bersarang di punggungnya.
“Bener nang, percaya wae karo simbah, wong ngetokne bayi wae bisa masa peluru wae ora bisa", kata nenek meyakinkan. Berempat masih saja ragu ragu belum beranjak.
“Iki simbah isih nyimpen kimpul, godhog gawanen nggo sangu”, paksa nenek sambil menyerahkan kimpul rebus dalam keranjang bambu. Rada berat Atmo, Mardi, Han Han dan Rambat meninggalkan Kholili. Barangkali ini yang terbaik.
Berjalan ke timur.
Melewati desa Gulon selatan, menyeberangi sungai Jlegong yang tak begitu besar. Mardi dan Han Han menghentikan jalannya, melepas bajunya yang penuh bercak darah Kholili. Mencuci dan langsung memerasnya beberapa kali kemudian dipakainya. Atmo melemparkan sepotong kimpul rebus kepada Rambat yang duduk di batu.
“Han, Mardi ambil sendiri”.
Ada yang hilang.
Tak seperti biasanya setiap makan apapun yang dimakan begitu lahap. Rambat yang boleh dibilang paling rakus tak begitu menikmatinya, mengunyah pelan pelan. Mardi masih saja memegang sepotong kimpul rebus, belum juga memakannya, pandangan tertuju pada sebongkah batu separuh tenggelam dalam air.sungai Jlegong. Tak mengedipkan mata sekalipun. Air matapun jatuh ke pinggir suangai.
“Uwis, Kholili bakalan slamet, percaya bae”, Atmo berusaha menghibur. Mardi sedikit menoleh kearah Atmo.
“Aku Cuma berfikir, kalau batu yang separuh tenggelam itu aku ambil untuk batu nisan kang Sarwi, mbah Sapar, anak anak tadi juga simbah putri yang tubuhnya hancur sewalang walang, sepertinya adem, apalagi mbah Sapar tetap melantunkan tembang Asmarandana”.
“Yuk berangkat”. Mardi tegas berdiri sambil menggigit kimpul rebus dan dikunyah sangat lahap. Gemericik sungai Jlegong ditinggalkannya, jalan kearah Timur melewati desa Nabin dan menyeberang kali Putih yang cukup besar.
“Kita berpisah di sini, Mardi dan Han Han langsung saja menuju candi Gunung Wukir, aku dan Rambat menyusuri kali ini, semoga teman teman yang ikut berjuang tidak jengah menunggu kita, yuk mbat”, Atmo sambil membagi dinamit.
“Dilit kang, tak ngising”,Rambat.
Mardi dan Han Han berjalan melewati jalan setapak lereng gunung Gendhol.,berseberangan dengan hamparan luas “ler-leran” sawah yang belum ditanami. Sepi, tak ada orang mengerjakan sawah. Hanya satu dua orang terlihat, itupun jauh seberang desa. Memasuki perkampungan, barulah dijumpai ibu ibu yang sibuk bekerja di sekitar rumah. Belasan pemuda dengan parang yang biasa untuk bertani berkumpul seperti merencanakan sesuatu.
“Maass…. mriki, mrikiiii”, teriak salah satu pemuda dengan melambaikan tanganya. Han Han dan Mardi memenuhi ajakannya, jalan menuju kerumunan pemuda. Mereka adalah pemuda pemuda dari daerah Kangkungan yang tengah siap siap membokong pergerakan pasukan Belanda. “Tumbu entuk tutup’, begitulah kira kira. Ibu ibu dan kaum perempuan desa sedari pagi sibuk menyiapkan ransum, nasi bungkus.
“Sebenarnya, kami akan gabung dengan para pejuang yang sejak subuh tadi sudah di balik Gremeng”, berkata salah satu pemuda. Yah, benar ini yang namanya “tumbu entuk tutup, batin Mardi dan Han Han sekali lagi.
Han Han dan Mardi bersama belasan pemuda Kangkungan, dan tiga gadis desa menggendong tenggok berisi makanan langsung menuju candi Gunung Wukir.
Sampai.
Maklum, kalau mereka serombongan yang datang dari Sokorini pagi tadi pagi nampak jengah menunggu, dan tidur di sekitar candi. Namun dengan bergabungnya belasan pemuda Kangkungan dan tiga gadis yang siap dengan ransum nasi bungkus. Keceriaan dan semangat kembali. Satu sama lain bersalaman saling mengenalkan diri tanpa komando dari siapapun. Tiga gadis pembawa ransum tak luput dari kerubutan para pemuda yang dating dari Sokorini. Han Han dan Mardi membatin, semoga saja Atmo dan Rambat tak berbeda dengan apa yang terjadi di sini.
“Lhoh, Wien Nio”, bergegas Han Han mengahmpiri seorang gadis keturunan Tionghoa di tengah kerumunan pemuda yang datang dari Sokorini. Han Han sangat mengenal betul gadis itu dan heran kenapa sampai di sini.
“Kok bisa disini, mama papah mamahmu? Tanya Han Han.
“Iya koh, ndak tau juga, kayaknya mamah dan papah ikut mengungsi di daerah Dukun, kami terpisah”, jawab gadis yang biasa dipanggil Wien Nio.
Masih akrab perbincangan antara Han Han dan Wien Nio, Mardi berdiri diatas batu candi yang sudah terlepas. Menjelaskan strategi yang mau dijalankan..
“Kita pancing perhatian tentara Belanda kearah Gremeng (kuburan China), sebisa mungkin mereka jalan menuju, namun jangan sampai menaiki bukit”, jelas Mardi.
“Jangan menyerang sebelum saudara saudara kita yang sudah siaga di desa Ngremame seberang utara jalan., kita siaga dibalik bukit”, lanjutnya.
Merekapun bergerak menaiki bukit dan sembunyi tepat di balik pekuburan Chna (Gremeng). Udara pagi hari sudah berganti dengan siang, beruntung rimpunan pohon pohon besar di gunung Gendhol mampu menyerap teriknya panas matahari. Bolak balik mobil Jeep tentara belanda dari barat ke timur, timur ke barat tampak dari puncak bukit yang hanya berjarak kira kira 500 m. Lagi lagi tugas menghambat pergerakan Belanda terhambat agar Magelang tidak diserang habis habisan. Syukur bisa menghentikan saat itu juga.
Lama.
Lama menunggu kedatangan tentara Belanda dari arah Jogya yang sekiranya cukup sigfikan untuk dihambat bahkan diserang. Mardi dan Han Han mengarahkan pandangan jauh keseberang jalan bagian utara, berharap ada sekelebat Atmo, Rambat atau pejuang lainnya. Setidak ada rasa aman jika ada gerakan meski meskipun cuma sekelebat atau ada tanda bahwa mereka siaga di sana. Namun masih belum juga ada tanda tanda. Bolak baliknya Jeep tentara semakin sering. Kecemasan sekaligus kebosanan sudah mulai dirasakan oleh mereka yang terus bersembunyi menunggu perintah, terutama Mardi dan Han Han.
‘Mardi, kita yakin saja Atmo, Rambat dan lain lain sudah ada di sana”, Han Han
“Aku turun ke tempat makam mamah”, tanpa dapat persetujuan Mardi, Han Han langsung memerosotkan tubuhnya menuruni bukit dan menuju makam mamahnya. Mardi hanya kebingungan tidak bisa mencegahnya sementara Nampak Jeep Belanda berheti dekat jalan masuk arah Gremeng berisi tiga tentara dengan satu senjata mortir. Belum juga kebingungan Mardi terpecahkan, Wien Nio teman Han Han lari menghampiri Han Han, terlanjur, tak bias dicegah. Bingungnya Mardi menjadi jadi begitu sadar senjata dan dinamit Han Han tertinggal. Terpaksa Mardi menyuruh salah satu gadis pembawa ransum dengan tenggoknya yang sudah kosong untuk diisi dinamit. Mardi juga menyuruh salah satu pemuda dari Kangkungan untuk menyalakan rokok klembak menyannya.
“Mbak, serahkan pada Han Han, dan jangan kembali sebelum ada aba aba dari saya, jaga api rokok ini tetep nyala’.
Gadis dari Kangkungan tanggap dengan perintah Mardi, seolah gadis pembersih makam dengan tenggok untuk mengumpulkan sampah. Tangan kanannya terus mengayun ayunkan rokok agar terus menyala. Han Han dan Wien Nio posisi “soja” seolah sedang berdoa. Begitu sampai gadis dari Kangkungan tiarap dibalik nisan yang cukup tinggi. Untuk menjaga rokok klembak menyan terpaksa diisapnya, terbatuk tentu saja.
“Ssstt…..jangan batuk”.
Dua truk berisi penuh tentara Belanda berjalan pelan sudah tampak tiba di pertigaan Semen. Ketegangan memuncak dirasakan Mardi. Tanda tanda Atmo, Rambat juga teman satuannya sama sekali belum Nampak. Trukpun berhenti dekat dengan Jeep yang sudah menunggunya. Entah apa yang akan terjadi nantinya diri Han Han, Wien Nio dan gadis Kangkungan yang tiarap. Tiba tiba Han Han dan Wien Nio mengucapkan doa doa dalam bahasa China dengan suara keras. Setidaknya suara batuk gadis yang terus menjaga rokok tetap menyala.
Pandangan tentara Belanda nyaris bersamaan kearah bukit Gremeng dan tangannya menunjuk nunjuk Han Han dan Wien Nio. Tentara tentara Belanda yang tak terhitung jumlahnya lengkap dengan senjata otomatis berbaris memasuki jalan selebar mobil Jeep. Tubuh Han Han dan Wien Nio tampak menahan getar kecemasan. Doa doa dalam bahasa China semakin keras diucapkannya. Suasana mencekam juga ada pada sebagian pejuang di samping Mardi. Mulutnya komat kamit entah berdoa atau meracau.
Truk tentara sudah kosong. Jeep dengan senjata mortir sudah jalan mengikuti barisan tentara yang hamper mengusai jalan datar kuburan China. Satu langkah lagi sudah masuk kuburan. Salah seorang tentara Belanda dengan mengarahkan senjatanya kea rah Han Han dan Wien Nio berteriak seperti memanggil Han Han yang semakin keras mengucap doa. Beberapa tenatara Belanda tinggal berjarak puluhan meter dari Han Han.
Buuummmmmm…..!
Satu truk Belanda meledak.
Serempak tentara Belanda kaget dan pandangan kearah truk yang meledak. Saat itu juga Han Han menyuruh Wie Nio menyalakan dinamit dan langsung dilemparkan kearah Belanda terdekat. Pasukan Belanda kacau balau diserang dari belakang dan dari depan.. Pemuda pemuda Kangkungan yang bersenjatakan parang menruni bukit dan menerjang tentara Belanda yang tengah kacau balau. Sebagian balik kearah truk yang bellum meledak namun pasukan Rambat dan Atmo terus membombardir dengan dinamit. Rambat dengan kenekadannya menghampiri Jeep dan berhasil menembak tentara yang memegang senjata mortir, dan mengambilnya lantas lari siksak sekencang kencang kencangnya. Dengan mengambil jarak tembak, pasuka Belanda mulai memberondong area perbukitan Gremeng. Jelas, misi bunuh diri kalau terus saja melawan. Dengan persenjataan yang sangat terbatas.
“Munduuuurrrr….”, teriak Mardi
Pemuda pemuda Kangkungan yang sudah terlanjur menuruni bukit tinggal menyisakan 14 dari 17 orang. Sementara pemuda pemuda yang datang dari pengungsian Sokorini 4 orang tewas. Han Han dibalik nisan terus menembaki Belanda, Wien Nio dan gadis Kangkungan tak berajak dari situ.
“Han, munduuurrr”. Perintah Mardi.
“Mundur ke balik bukit”, teriak Mardi
Han Han mengikuti perintah Mardi dan menyuruh Wien Nio dan gadis Kangkungan menaiki bukit lebih dulu, sementara Han Han jadi benteng perlindungan. Pasukan Belanda begitu melihat posisi yang sangat tidak menguntungkan baginya, berbalik mengejar pasukan Atmo dan Rambat. Namun mereka sudah meninggalkan gelanggang pertempuran.
Bala bantuan Belanda berdatangan dari barat dan timur. Medan pertempuran itu sudah sepi. Tinggal mayat berserak di perbukitan Gremeng di kedua belah pihak, namun pihak Belanda lebih banyak.
#lanjutan III
Oleh: Gati Andoko
“Ya ampun nang, kenapa kui…kene mlebu kene”, seorang nenek yang tinggal di lereng gunung Sari terkaget kaget melihat orang dipapah berdarah darah. Mardi dan Han Han yang tengah memapah Kholili mencoba minta pertimbangan Atmo dengan hanya mengarahkan pandangan. Atmo dengan gerakan kepalanya menyetujuinya.
“Getih kok peting dlewer kene”, nenek itu masih bertanya Tanya.
“Ketembak mbah mboten merga babaran”, sela Rambat. Atmo menendang kaki Rambat agar tidak bercanda.
“Kok ngerti nang nek aku ki dukun bayi”.
Mardi, Han Han, Atmo dan Rambat hanya saling pandang menganga kaget namun menahan tawa. Nenek menyuruh agar Kholili ditengkurapkan.
“Tinggalkan aku, susul arek arek”, kata Kholili dengan peluru yang masih bersarang di punggungnya.
“Bener nang, percaya wae karo simbah, wong ngetokne bayi wae bisa masa peluru wae ora bisa", kata nenek meyakinkan. Berempat masih saja ragu ragu belum beranjak.
“Iki simbah isih nyimpen kimpul, godhog gawanen nggo sangu”, paksa nenek sambil menyerahkan kimpul rebus dalam keranjang bambu. Rada berat Atmo, Mardi, Han Han dan Rambat meninggalkan Kholili. Barangkali ini yang terbaik.
Berjalan ke timur.
Melewati desa Gulon selatan, menyeberangi sungai Jlegong yang tak begitu besar. Mardi dan Han Han menghentikan jalannya, melepas bajunya yang penuh bercak darah Kholili. Mencuci dan langsung memerasnya beberapa kali kemudian dipakainya. Atmo melemparkan sepotong kimpul rebus kepada Rambat yang duduk di batu.
“Han, Mardi ambil sendiri”.
Ada yang hilang.
Tak seperti biasanya setiap makan apapun yang dimakan begitu lahap. Rambat yang boleh dibilang paling rakus tak begitu menikmatinya, mengunyah pelan pelan. Mardi masih saja memegang sepotong kimpul rebus, belum juga memakannya, pandangan tertuju pada sebongkah batu separuh tenggelam dalam air.sungai Jlegong. Tak mengedipkan mata sekalipun. Air matapun jatuh ke pinggir suangai.
“Uwis, Kholili bakalan slamet, percaya bae”, Atmo berusaha menghibur. Mardi sedikit menoleh kearah Atmo.
“Aku Cuma berfikir, kalau batu yang separuh tenggelam itu aku ambil untuk batu nisan kang Sarwi, mbah Sapar, anak anak tadi juga simbah putri yang tubuhnya hancur sewalang walang, sepertinya adem, apalagi mbah Sapar tetap melantunkan tembang Asmarandana”.
“Yuk berangkat”. Mardi tegas berdiri sambil menggigit kimpul rebus dan dikunyah sangat lahap. Gemericik sungai Jlegong ditinggalkannya, jalan kearah Timur melewati desa Nabin dan menyeberang kali Putih yang cukup besar.
“Kita berpisah di sini, Mardi dan Han Han langsung saja menuju candi Gunung Wukir, aku dan Rambat menyusuri kali ini, semoga teman teman yang ikut berjuang tidak jengah menunggu kita, yuk mbat”, Atmo sambil membagi dinamit.
“Dilit kang, tak ngising”,Rambat.
Mardi dan Han Han berjalan melewati jalan setapak lereng gunung Gendhol.,berseberangan dengan hamparan luas “ler-leran” sawah yang belum ditanami. Sepi, tak ada orang mengerjakan sawah. Hanya satu dua orang terlihat, itupun jauh seberang desa. Memasuki perkampungan, barulah dijumpai ibu ibu yang sibuk bekerja di sekitar rumah. Belasan pemuda dengan parang yang biasa untuk bertani berkumpul seperti merencanakan sesuatu.
“Maass…. mriki, mrikiiii”, teriak salah satu pemuda dengan melambaikan tanganya. Han Han dan Mardi memenuhi ajakannya, jalan menuju kerumunan pemuda. Mereka adalah pemuda pemuda dari daerah Kangkungan yang tengah siap siap membokong pergerakan pasukan Belanda. “Tumbu entuk tutup’, begitulah kira kira. Ibu ibu dan kaum perempuan desa sedari pagi sibuk menyiapkan ransum, nasi bungkus.
“Sebenarnya, kami akan gabung dengan para pejuang yang sejak subuh tadi sudah di balik Gremeng”, berkata salah satu pemuda. Yah, benar ini yang namanya “tumbu entuk tutup, batin Mardi dan Han Han sekali lagi.
Han Han dan Mardi bersama belasan pemuda Kangkungan, dan tiga gadis desa menggendong tenggok berisi makanan langsung menuju candi Gunung Wukir.
Sampai.
Maklum, kalau mereka serombongan yang datang dari Sokorini pagi tadi pagi nampak jengah menunggu, dan tidur di sekitar candi. Namun dengan bergabungnya belasan pemuda Kangkungan dan tiga gadis yang siap dengan ransum nasi bungkus. Keceriaan dan semangat kembali. Satu sama lain bersalaman saling mengenalkan diri tanpa komando dari siapapun. Tiga gadis pembawa ransum tak luput dari kerubutan para pemuda yang dating dari Sokorini. Han Han dan Mardi membatin, semoga saja Atmo dan Rambat tak berbeda dengan apa yang terjadi di sini.
“Lhoh, Wien Nio”, bergegas Han Han mengahmpiri seorang gadis keturunan Tionghoa di tengah kerumunan pemuda yang datang dari Sokorini. Han Han sangat mengenal betul gadis itu dan heran kenapa sampai di sini.
“Kok bisa disini, mama papah mamahmu? Tanya Han Han.
“Iya koh, ndak tau juga, kayaknya mamah dan papah ikut mengungsi di daerah Dukun, kami terpisah”, jawab gadis yang biasa dipanggil Wien Nio.
Masih akrab perbincangan antara Han Han dan Wien Nio, Mardi berdiri diatas batu candi yang sudah terlepas. Menjelaskan strategi yang mau dijalankan..
“Kita pancing perhatian tentara Belanda kearah Gremeng (kuburan China), sebisa mungkin mereka jalan menuju, namun jangan sampai menaiki bukit”, jelas Mardi.
“Jangan menyerang sebelum saudara saudara kita yang sudah siaga di desa Ngremame seberang utara jalan., kita siaga dibalik bukit”, lanjutnya.
Merekapun bergerak menaiki bukit dan sembunyi tepat di balik pekuburan Chna (Gremeng). Udara pagi hari sudah berganti dengan siang, beruntung rimpunan pohon pohon besar di gunung Gendhol mampu menyerap teriknya panas matahari. Bolak balik mobil Jeep tentara belanda dari barat ke timur, timur ke barat tampak dari puncak bukit yang hanya berjarak kira kira 500 m. Lagi lagi tugas menghambat pergerakan Belanda terhambat agar Magelang tidak diserang habis habisan. Syukur bisa menghentikan saat itu juga.
Lama.
Lama menunggu kedatangan tentara Belanda dari arah Jogya yang sekiranya cukup sigfikan untuk dihambat bahkan diserang. Mardi dan Han Han mengarahkan pandangan jauh keseberang jalan bagian utara, berharap ada sekelebat Atmo, Rambat atau pejuang lainnya. Setidak ada rasa aman jika ada gerakan meski meskipun cuma sekelebat atau ada tanda bahwa mereka siaga di sana. Namun masih belum juga ada tanda tanda. Bolak baliknya Jeep tentara semakin sering. Kecemasan sekaligus kebosanan sudah mulai dirasakan oleh mereka yang terus bersembunyi menunggu perintah, terutama Mardi dan Han Han.
‘Mardi, kita yakin saja Atmo, Rambat dan lain lain sudah ada di sana”, Han Han
“Aku turun ke tempat makam mamah”, tanpa dapat persetujuan Mardi, Han Han langsung memerosotkan tubuhnya menuruni bukit dan menuju makam mamahnya. Mardi hanya kebingungan tidak bisa mencegahnya sementara Nampak Jeep Belanda berheti dekat jalan masuk arah Gremeng berisi tiga tentara dengan satu senjata mortir. Belum juga kebingungan Mardi terpecahkan, Wien Nio teman Han Han lari menghampiri Han Han, terlanjur, tak bias dicegah. Bingungnya Mardi menjadi jadi begitu sadar senjata dan dinamit Han Han tertinggal. Terpaksa Mardi menyuruh salah satu gadis pembawa ransum dengan tenggoknya yang sudah kosong untuk diisi dinamit. Mardi juga menyuruh salah satu pemuda dari Kangkungan untuk menyalakan rokok klembak menyannya.
“Mbak, serahkan pada Han Han, dan jangan kembali sebelum ada aba aba dari saya, jaga api rokok ini tetep nyala’.
Gadis dari Kangkungan tanggap dengan perintah Mardi, seolah gadis pembersih makam dengan tenggok untuk mengumpulkan sampah. Tangan kanannya terus mengayun ayunkan rokok agar terus menyala. Han Han dan Wien Nio posisi “soja” seolah sedang berdoa. Begitu sampai gadis dari Kangkungan tiarap dibalik nisan yang cukup tinggi. Untuk menjaga rokok klembak menyan terpaksa diisapnya, terbatuk tentu saja.
“Ssstt…..jangan batuk”.
Dua truk berisi penuh tentara Belanda berjalan pelan sudah tampak tiba di pertigaan Semen. Ketegangan memuncak dirasakan Mardi. Tanda tanda Atmo, Rambat juga teman satuannya sama sekali belum Nampak. Trukpun berhenti dekat dengan Jeep yang sudah menunggunya. Entah apa yang akan terjadi nantinya diri Han Han, Wien Nio dan gadis Kangkungan yang tiarap. Tiba tiba Han Han dan Wien Nio mengucapkan doa doa dalam bahasa China dengan suara keras. Setidaknya suara batuk gadis yang terus menjaga rokok tetap menyala.
Pandangan tentara Belanda nyaris bersamaan kearah bukit Gremeng dan tangannya menunjuk nunjuk Han Han dan Wien Nio. Tentara tentara Belanda yang tak terhitung jumlahnya lengkap dengan senjata otomatis berbaris memasuki jalan selebar mobil Jeep. Tubuh Han Han dan Wien Nio tampak menahan getar kecemasan. Doa doa dalam bahasa China semakin keras diucapkannya. Suasana mencekam juga ada pada sebagian pejuang di samping Mardi. Mulutnya komat kamit entah berdoa atau meracau.
Truk tentara sudah kosong. Jeep dengan senjata mortir sudah jalan mengikuti barisan tentara yang hamper mengusai jalan datar kuburan China. Satu langkah lagi sudah masuk kuburan. Salah seorang tentara Belanda dengan mengarahkan senjatanya kea rah Han Han dan Wien Nio berteriak seperti memanggil Han Han yang semakin keras mengucap doa. Beberapa tenatara Belanda tinggal berjarak puluhan meter dari Han Han.
Buuummmmmm…..!
Satu truk Belanda meledak.
Serempak tentara Belanda kaget dan pandangan kearah truk yang meledak. Saat itu juga Han Han menyuruh Wie Nio menyalakan dinamit dan langsung dilemparkan kearah Belanda terdekat. Pasukan Belanda kacau balau diserang dari belakang dan dari depan.. Pemuda pemuda Kangkungan yang bersenjatakan parang menruni bukit dan menerjang tentara Belanda yang tengah kacau balau. Sebagian balik kearah truk yang bellum meledak namun pasukan Rambat dan Atmo terus membombardir dengan dinamit. Rambat dengan kenekadannya menghampiri Jeep dan berhasil menembak tentara yang memegang senjata mortir, dan mengambilnya lantas lari siksak sekencang kencang kencangnya. Dengan mengambil jarak tembak, pasuka Belanda mulai memberondong area perbukitan Gremeng. Jelas, misi bunuh diri kalau terus saja melawan. Dengan persenjataan yang sangat terbatas.
“Munduuuurrrr….”, teriak Mardi
Pemuda pemuda Kangkungan yang sudah terlanjur menuruni bukit tinggal menyisakan 14 dari 17 orang. Sementara pemuda pemuda yang datang dari pengungsian Sokorini 4 orang tewas. Han Han dibalik nisan terus menembaki Belanda, Wien Nio dan gadis Kangkungan tak berajak dari situ.
“Han, munduuurrr”. Perintah Mardi.
“Mundur ke balik bukit”, teriak Mardi
Han Han mengikuti perintah Mardi dan menyuruh Wien Nio dan gadis Kangkungan menaiki bukit lebih dulu, sementara Han Han jadi benteng perlindungan. Pasukan Belanda begitu melihat posisi yang sangat tidak menguntungkan baginya, berbalik mengejar pasukan Atmo dan Rambat. Namun mereka sudah meninggalkan gelanggang pertempuran.
Bala bantuan Belanda berdatangan dari barat dan timur. Medan pertempuran itu sudah sepi. Tinggal mayat berserak di perbukitan Gremeng di kedua belah pihak, namun pihak Belanda lebih banyak.






