KECANTIKAN DRAUPADI
Setelah melewati 12 tahun masa pembuangan di hutan, Pandawa dan Draupadi hendak menjalani satu tahun berikutnya hidup dalam penyamaran, seperti yang disyaratkan dalam perjudian. Mereka menyamar di Kerajaan Virata.
Vaisampayana berkata, "Mengikat rambutnya yang hitam, lembut, indah, panjang, tanpa cacat, dan ujung-ujungnya segar dan kering, dengan ikatan kelabang, Draupadi yang memiliki mata hitam, senyum manis, meletakkan ikatan rambutnya di bahu kanannya, menutupinya dengan pakaian. Dan dia mengenakan selembar kain hitam dan kotor meskipun harganya mahal. Dan menyamar sebagai seorang Sairindhri (pelayan wanita yang independen), dia mulai mondar-mandir kesana-kemari terlihat seperti kesusahan. Dan melihatnya mondar-mandir, orang-orang mendatanginya dan bertanya, 'Siapakah kamu? Dan apa yang kau cari?' Dan dia menjawab, 'Aku adalah Sairindhri dari seorang raja. Aku ingin melayani siapa saja yang akan memeliharaku.' Tapi melihat kecantikan dan pakaiannya, dan juga mendengar perkataannya yang sangat manis, orang-orang tak mampu mengambilnya sebagai pelayan.
Dan pada saat itulah, melalui teras istana, Ratu kesayangan Raja Virata, melihat Draupadi. Dan melihatnya sedih dengan hanya mengenakan satu lembar kain, Sang Ratu bertanya, 'Oh cantik, siapakah dirimu, dan apa yang kau cari?' Draupadi menjawab, 'Oh Ratu yang terkemuka, saya seorang Sairindhri. Saya akan melayani siapapun yang memelihara saya.'
Ratu Sudeshna berkata, 'Apa yang kau katakan itu tidak mungkin sesuai dengan kecantikan yang luar biasa itu. Kamu mungkin seorang nyonya rumah yang biasa dilayani baik oleh pelayan laki-laki maupun perempuan. Tumitmu tidak menonjol, dan kedua pahamu melekat rapat. Dan kecerdasanmu tinggi, dan pusarmu cekung kedalam, dan kata-katamu khidmat. Dan jari-jari kakimu besar, dan payudara dan pinggul, dan punggung dan sisi samping tubuhmu, dan kuku-kuku jari kaki, dan telapak tanganmu sangat indah. Dan telapak tangan, telapak kaki, dan wajahmu kemerahan. Dan bicaramu manis seperti suara angsa. Dan rambutmu indah, dan payudaramu berbentuk indah, dan kamu dianugerahi keanggunan tertinggi. Dan pinggul dan dadamu indah. Dan seperti kuda betina dari Kashmir, kamu memiliki setiap tanda-tanda keberuntungan. Dan bulu matamu melentik indah, dan bibir atasmu kemerahan. Dan pinggangmu langsing, dan garis-garis di lehermu bagaikan kulit kerang. Dan pembuluh darahmu jarang terlihat. Roman wajahmu seperti bulan purnama, dan matamu bagaikan daun teratai di musim gugur, dan tubuhmu wangi seperti bunga teratai itu sendiri.
Sungguhlah, kecantikanmu seperti Dewi Sri sendiri, yang tempat duduknya adalah bunga teratai. Katakan padaku, Oh wanita cantik, siapakah dirimu. Kamu tidak pernah mungkin seorang pelayan. Apakah kamu seorang Yakshi, seorang Dewi, atau Gandharvi, atau bidadari? Apakah kamu anak seorang Dewa, atau apakah kamu Naga perempuan? Apakah kamu seorang Dewi pelindung dari sebuah kota, atau Vidyadhari, atau Kinnari, atau apakah kamu Rohini itu sendiri? Atau apakah kamu Alamvusha, atau Misrakesi, Pundarika, atau Malini, atau istri dari Dewa Indra, atau istri dari Dewa Varuna? Atau, apakah kamu istri dari Viswakarma, atau dari Brahma sendiri? Dari semua Dewi yang dikenal di Khayangan, siapakah Engkau, Oh Sang anggun?"
(MAHABHARATA : Virata Parva)






