CO PATRIOT XII  #OperasiKerbauTanah II

CO PATRIOT XII #OperasiKerbauTanah II

CO PATRIOT XII  #OperasiKerbauTanah II

CO PATRIOT XII
#OperasiKerbauTanah II
Tak segera melaporkan. Sedang terjadi perbincangan serius. Atmo dan Kholili sangat menikmati apa yang sedang diceritakan Yani perihal Sulistyo juga keluarganya. Mardi duduk disamping Kholili ikut mendengarkan cerita Yani. Namun karena serasa dibawa terbang kembali oleh Dewi Kwan In Mardi hanya menatap sekujur wajah Yani yang berdampingan dengan bayangan wajah Wien Nio. Gerak bibr Yani saat bercerita, hidung mungilnya ketika menghirup dan mengeluarkan nafas, melebar ke pipi dengan bedak tipis begitu jelas meski hanya bercahayakan sinar lampu badai. bola mata bening menawarkan rindu, bulu matanya saat berkedip. Bulu mata ya bulu mata itu membuat Mardi ingin menghitungnya berapa lembar jumlahnya. Baru mengitung satu dua, bayangan wajah Wien Nio mengaburkankannya, terpaksa mengulangnya satu dua, kembali bayangan wajah Wien Nio melintas di depan matanya berlangsung berulang ulang.
“Mas Mardi lihat tidak waktu kang Sulis melemparkan pisau yang dengan tangannya?’, tanya Yani. Mardi tidak sadar kalau sedang ditanya. Sampai Kholili harus menepuk punggungnya.
“Ha…apa”. Mardi tergagap dan mengusap usap matanya.
“Jyaaangkrik, tak kira ngrungakna’, pisuh Kholili. Ningsih hanya senyum senyum melihat wajah Mardi yang gelagapan. Atmo melepas baju pemberian Wien Nio yang membuatnya gerah, membiarkan kaos singlet putih melekat di tubuhnya. Tak pelak, bekas luka luka goresan pisau terlihat di sana-sini.
“Dia sedang terinspirasi menciptakan jurus barunya, Kepak Sayap Dua Cinta”, kata Atmo. Jinguk! Mardi langsung merabahkan tubuh di lantai menutupi wajahnya. Kholili terbengong tidak tahu arah pembicaraan Atmo. Meski merasa tersindir juga, namun melihat Mardi sedemikian itu Yani tetap tertawa terpingkal pingkal. Lucu! Atmo hanya menyeringai saja melihat adiknya sedemikian salah tingkah, isi hatinya terbaca.
‘Eh iya”. Mardi ingat apa yang harus dilaporkan khususnya pada Atmo dan Kholili.
“Ini tadi, aku lihat seorang terbatuk batuk kesakitan bersama orang orang berbadan kekar, aku ingat persis mereka adalah pasukan Teratai yang sempat bersitegang dengan kita sebelum jembatan Bogowonto, ingat kan”, kata Mardi. Karena masih terbawa suasan kelucuan atas tingkah Mardi, dianggapnya hanya mengalihkan perhatian saja. 
“Kang Atmo tau apa yang dikatakan Mardi?’, tanya Kholili. Atmo tak menjawab justru merebahkan tubuh kelantai untuk mendinginkan badan yang tersentuh lantai.
“Kamu Yan?’. 
“Apa itu?’. Kholili menepuk jidat sendiri, sadar bahwa Yani belum lama bergabung.
“Ini benar adanya”, jelas Mardi sungguh sungguh.
“Ya biarkan saja, kita tidak berurusan sana mereka”, jawab Atmo santai sambil menutup mata dengan lengan tangan kirinya. Yani menutup mulutny sendiri saat keseriusan Mardi dianggap main main. Mardi geregetan dengan Yani yang terus mentertawakannya. Dihampiri dan dikitik kitiknya. Yani beranjak dengan terus tertawa, Mardi juga mengejarnya. Jadilah bekas gudang uyah itu jadi arena permainan kanak kanak. Gaya Mardi mengejar Yani menggunakan trik trik silat yang sempat dipelajarinya. Kholili yang melihat Mardi memperagakan gerak silatnya ikut nimbrung mengejar Yani. Sekedar mengingat kembali gerakan silat yang sudah lama tak dilatihnya. Yani yang sudah dikejar kejar dua lelaki, duduk minta ampun namun Mardi tetap menangkap dan memeluk Yani. Atmo tetap dalam posisinya, tertidur. Kholili meningkatkan latihannya, berlari kencang menaiki tembok dengan kakikya saja dan salto kebelakang, berguling sapuan ular dan teriakan harimau. Namun sejatinya misuh ‘jyanccuuk’, melihat Mardi memeluk Yani. Pengin!

Depan Klenteng.
‘Kekel’, batuknya. Kedua tangannya memegang dada serasa mau bedah saat mau batuk, Seorang mengurut urut leher belakang. Tiga temannya memilih dudu duduk agak menjauh dan sedikit tersembunyi. Satu orang lagi. Satu lagi temannya jalan bolak balik gelisah. Sepertinya mereka sedang menunggu, entah siapa. Pengunjung Klenteng sudah mulai keluar, pulang. Memang, sangat mencurigakan gerak gerik mereka ini. Mengamati satu satu siap yang keluar dari Klenteng. Tak sedikit yang menyingkir, mengindar jauh dari orang orang yang sangat kelihatan asing bagi warga Tionghoa Muntilan. Dengan melambaikan tangan orang yang terbatuk batuk melarang temannya yang mencegat salah seorang yang keluar dari Klenteng. Mau bertanya, barangkali.
“Jangan lupa, ajak teman teman untuk makan malam bersama nanti”, suara teriak Wien Nio. Han Han hamper memasuki gang kecil gudang uyah, menoleh seperti ada yang memanggil.
‘Koh…’. Salah seorang yang mencurigakan itulah yang memanggilnya.
“Masih ingat kami, Bogowonto”, tanya salah seorang dari mereka. Han Han ingat. Tengok kanan kiri, menunggu sepi. Dengan tangannya menyuruh mereka mengikuti. Masuk gang kecil ‘gudang uyah’. Berenam berurautan mengikuti. Atmo, Kholili, Mardi dan Yani yang tengah tiduran tergaget dengan kedatangan Han Han beserta segerombolan orang yang berbadan kekar, terlebih satu orang yang terkesan sangat “nggembelo” (berlagu) melebihi mereka yang sudah berbadan kekar. Saling kenal. Kerjasama juga pernah. Tidak ada basa basi, saling tegur selayaknya orang yang lama tidak bertemu. Saling bersalaman juga tidak antara dua kelompok.
“Seminggu, sepulang dari Bogowonto teman kami ini, batuk tak pernah berhenti , tambah parah dan semakin parah sampai sekarang ini”, kata salah satu dari mereka, Pasukan Teratai. Han Han yang pasti ingat bahwa orang yang terbatuk batuk adalah yang pernah dihadapinya satu lawan satu dengan kekalahan Han Han, minta tolong Mardi dan Kholili untuk memegang telapak tangan si penderita batuk yang sudah didudukan bersila. Sosok yang terihat ‘nggembelo’ menatap tajam Han Han yang tengah mengerahkan tenaga dalamnya. Dipegang punggungnya dengan ujung jari jari Han Han sekitar 10 menit. Si penderita batuk yang telanjanang dada itu penuh memar kebiruan puluhan titik jumlahnya. Semua memperhatikan Han Han menunggu apa yang akan dilakukannya dana pa yang terjadi kemudian. Lagi Lagi orang dengan lagak ‘ nggembelo’ tetap saja ‘nggembelo’. Ujung ugjung jari Han Han masih menempel pada punggung si penderita. Han Han mengantamkan telapak tangan dengan mengerahkan sperempat tenaga dalamnya. Si penderita tersentak, keluar gumpalan darah berwarna hitam, tersungkur sambil terus mengularkan butir butir darah kecil dan keluar darah encer kekuningan. Mardi dan Kholili melepas pegangan tangannya, Han Han berdiri dan mengibaskan tangannya ke lantai. Si penderita selama terapi pengobatan matanya selalu terpejam, sudah membuka mata serta keringat mengucur deras di wajah dan seluruh tubuhnya, membalikkan badannya dan bersimpuh dihadapan Han Han dan bersujud hormat pada Han Han.
“Jangan begitu, biasa saja jangan kaya orang yang menyerah kalah”, kata Han Han. Suasanapun cair. Inilah kemenangan. Tidak bisa diketahui dirasakan saat itu juga. Saat ini kalah namun sejaitinya kemenangan menunggu dikedepannya. Barulah mereka bersalaman, berbagi pengalaman.
“Koh,aku penasaran dengan kekuatanmu, aku pengin mencoba sekedar gerak badan tengah malam”, kata si ‘nggembelo’. Sudah tentu semua orang terperangah kaget, sekaligus terpancing marah. Hanya Atmo yang tetap saja kalem, sedari tadi membaca gerak gerik orang ini. Yani mendekat pada Mardi, Kholili sudah menahan marah juga melihat tingkah orang ini. Han Han masih mengibas ngibaskan kedua tangannya sambil jalan wara wiri tak jelas.
“KIsanak tolong hormati, dibalik tembok ini masih banyak saudara kita yang sedang berdoa”, kata Atmo. Teman teman Pasukan Teratai tak mampu meredam nafsu kesombongannya. Memang sedari awal si ‘nggembelo’ memaksa ikut karena penasaran dengan orang yang telah melukai salah satu anggotanya sampai terbatuk batuk sangat lama. Bendhol panggilannya, asli Ponorogo.
“Apakah aku sedang menantang saudara?’, balik bertanya pada Atmo. Mardi tidak khawatir dengan Atmo. Han Han sedikit menjauh tak terpancing.
“Percuma, Han Han tidak akan melayani saat ini, entah sembilan atau duabelas hari kedepan”, jelas Atmo.
“Siapa guru kalian?’, tanya Bendhol semakin ngacau.
“Tolong kisanak,berilah kesan terhormat pada saudara yang sedang merayakan hari bersejarah bagi keyakinan mereka. Ini HARI RAYA IMLEK”, Atmo sedikit menekan kalimatnya. Tanda tanda marah.
“Han, jarrno ae wis gak usah dirungokna ‘bedhes jyancuk’ sitok iki”, teriak Kholili. Atmo memegang punggung Kholili agar jangan terpancing. Tak dinyana Bendhol berjalan mendekati memegang bahu Han Han. Kholili yang sudah tidak bisa menahan amarahnya melompat.
“Aku gantinya Han Han”, tantang Kholili. Atmo menggerakkan wajahnya menyuruh Han Han agar disamping Atmo. Atmo memerintahkan Mardi, Yani dan teman Pasukan Teratai untuk bergeser mundur, memberi ruang untuk mereka yang mau bertarung. Han Han yang telah dekat dengan Atmo berbisik, menghawatirkan Kholili. Kholili sangat emosional dan selalu berniat membalas. Pertimbangan Han Han mereka itu rata rata tahan pukul dan kebal senjata. Atmo sangat memahami itu, tapi juaga memahami kemarahan Kholili. Ukuran badan Kholi yang sama dengan Mardi hanya sepundak tingginya, apalagi besaran badannya, sangt tidak imbang. Berhadapan sudah Kholili dan Bendhol si ‘nggembelo’. Kholili bersiap dengan jurus Lo Han andalannya. Han Han tambah khawatir lagi begitu Kholili dengan kuda kuda Lo Han dan melirik Mardi yang sedang bergelayut asmara. Bendhol dengan lagak pongahnya memandang rendah Kholili.
“Heh…ana apa iki”, Rambat disertai Ningsih tiba tiba muncul. Heran, bahagia dan terkejut campur jadi satu. Kholili lari menghampiri Rambat yang sangt dirindukannya. Atmo memeluk Rambat dan disusul Han Han, Mardi dan Yani.
“Pean pengin ndeleng tarungku tah?’, tanya Kholili
“Rak, aku mung kangen nembak ‘ndhas’ Londo”, jawab Rambat sekenanya. Sudah! Hahhahihi yang terjadi. Sahabat sejati yang berkumpul kembali. Rambat sudah tak sempurna, mata kirinya sudah rabun tak bisa melihat jarak lebih dari satu meter. Gigi taring dan geraham ki ompong, namun kaki dan tangannya sudah pulih seperti sediakala.
“Omopongmu menjadikan wajahmu cukup menarik”, kata Atmo sambil terus merangkul Rambat.
“Piye kabare mbak Rahayu kang?’, tanya Rambat serius. Tapi justru Kholili mendahului menyebut nama Sssssssyyyyyuuu….terhenti setelah dipelototi Atmo. Mereka tertawa dengan riangnya, lupa kalau sedang ada tamu kehormatan.
“Kalau tidak berani,maju semuanya”, teriak Bendhol
“Iki ana apa?’, Rambat memang belum tahu. Han Han menjelaskan awal mulanya. Karena jarak agak jauh Bendhol tidak mendengar apa yang dibicarakan Rambat dan kawan kawannya yang berbicara setengah berbisik sedikit ‘nggremeng’.
“Diajar wae nek ngono”, usul Rambat ngasal.
“Aku saja yang menghadapinya”, tiba tiba Mardi mengusulkan dirinya. Han Han berharap ini yang terbaik. Kholili-pun tak keberatan, dan mengaku serampangan kelakuannya. Atmo mengajak sekawanan pasukan“ Teratai mendekatinya, agar ruang lebih luas.
Ayo cepat”, teriak Bendhol maju mau melabrak kerumunan, Namun Mardi meloncat menerkam tepat wajah Bendol hingga tergores seperti cakar Harimau. Bendhol beregerak muundur. Mukanya terasa panas dan perih. Mardi sempat menengok arah Atmo yang memberi kode ‘ jangan kasih ampun dan cepat selesaikan’. Mardi berdiri kuda kuda jurus ‘tangan besar’. Bendhol juga menggunakan jurus yang tidal dikenal oleh Mardi, menyerang maju sambil memberondong dengan tinjunya. Mardi berkelit menampar tangan hingga Bendhol terjengkang jatuh, Bangun dan menyerang lagi, dengan sigap diengan posisi jongkok kaki Mardi menebang lutut sampin kaki kiri Bendhol, jatuh. Mardi tak memberi kesempatan untuk bernafas, Mardi berguling di belakang Bendhol dan langsung memegang kepala belakang Bendhol dibenturkan pada lutut Mardi, melempar nya kesamping dan kembali membenturkan kepala Bendhol pada lantai.’ Prookkk…’suara terdengar keras. Mardi bergerak tangan Bendhol yang juga sudah berdiri, memuntir sambil memutar. Jadilah Bendhol beputar seperti ‘gasing’. Benar benar Bendhol yang besaran tubuh dan tingginya satu setengahnya Mardi jadi mainan. Kelimpungan Bendhol dalam posis tidak seimbang inilah titik kosong yang dibaca Mardi dengan kedua tangannya memukul ‘lempeng’ kanan kiri Bendhol. Roboh terdiam berdiri dengan dua lututnya. Mardi tak terkena satu pukulan-pun. Mardi berdiri dibelakng Bendhol dan bergerak meninggalkani. Teman teman Pasukan Terataii senyam senyum saja. Yani masih was was menghawatirkan Mardi. Dikira mau menyalami Mardi yang gemilang memenangi pertarungan. Tiba tiba, Rambat berdiri dan berjalan, dikira mau menyalami Mardi yang baru memenangi pertarungan secara gemilang. Tidak. Rambat kearah kiri Bendhol dan menendang keras keras bagian wajah sebelah kiri. Jangan dengarkan suaranya tapi lihat hasilnya. Seluruh gigi geraham Bendhol rontok semua. Dengarkan Rambat berorasi!
‘Aku mung nyoba sikilku, jik waras ora. Sejatine aku wegah nglarani bangsa dewe, ning nek ndeleng tingkah bajingan iki, isa isa tak tembak ‘ndhase kaya Londo. Wong ra empan papan, ora ngurmati dulur dewe. Aku urakan ning isih duwe subasita’. 
“Oooo arek iki ngampet gendheng”, kata Kholili yang tak didengar Rambat. Rambat masih saja memaki maki dan menuding nuding segerombolan Pasukan Teratai.
‘Aku ndeleng tingkahmu mbiyen sakjane wis eneg,nek kowe, kowe, kowe,kowe lan kowe pengin nasibe kaya buajingan kae, mrene! Artine aku akeh kanaca, ompong untune’. Rambat menghentikan ocehannya.
“Jiancuk”, batin Kholil.
“Hiraukan saja kisanak,anak itu lagi….”, bisik Atmo. 
“Ah tidak apa apa, saya juga sangat memahami situasi, dia memang layak mendapat ganjaran atas kelakuannya.
“Mbaattt…ajak pak Bendhol kesini, duduk melingkar”, kata Atmo. Rambat sempat terperangah atas keinginan Atmo, tetap saja dilakukan. Rambat menarik tangan Bendhol dan memang kuat berdiri dengan terus memegang mulutnya yang masih berdarah.
“Ayuk, semua duduk melingkar, jangan bergerombol begitu”, ajak Atmo. Duduk melingkar rapat, formasi ‘cakra manggilingan’,bersila satu kaki kiri meluruskan kaki kanan saling menyentuh.
“Tidak apa apa kan pak Bendhol, bukan luka dalam kok cuma gigi mulut memang butuh waktu satu atau dua hari”, kata Atmo. Mardi yang duduk disamping kanan pak Bendhol merangkul pundaknya. Semetara Rambat samping kiri pak Bendhol juga merangkul dengan tangan kirinya. Yani yang sedari tadi merasa was was duduk diantara Atmo dan si penderita batuk tadi. Akrab, sangat akrab suasana. Saling berbagi pengalaman antara kedua kelompok dan pengalaman pribadi masing masing. Ketegangan diantaranya terlupa begitu saja. Tidak ada dendam. Sungguh menggelitik juga pengalaman teman teman pasukan Teratai. Sekarang ini mereka sudah tidak lagi menggunakan nama Pasukan Teratai. Mereka lebih suka menamai dirinya kelompok ‘rewo rewo’. Benar, mereka ini tadinya sebagai Pasukan Pengawal Presiden yang dibentuk oleh dokter Moestopo. Seiring berjalannya waktu tergeser oleh orang orang yang mempunyai latar belakang pendidikan. Sementara mereka sendiri rata rata ‘buta huruf’ dan hanya mengandalkan kekuatan fisik saja. Namun jangan tanya jiwa besar mereka atas kesetiaan mempertahankan bangsa ini, lebih dari tubuhnya sendiri. Indah nian hidup ini, jiwa jiwa besar selalu muncul sebagai jiwa jaman setiap generasinya.
“Wien Nio”, teriak melengking Yani.
Wien Nio, berdiri dengan kepala kanan berdarah hingga mengalir di pipinya serta baju robek. Mardi melompat menangkap Wien Nio yang mau jatuh. Sekilas Mardi memandang Yani, namun Yani mengangagukkan kepala. 
“Wien Nio kenapa?’.
Semua mgerubuti Wien Nio terbujur lemah di pangkuan Mardi. Han Han lari keluar sampai depan Klenteng disusul Rambat dan Kholili. Ningsih dan Yani mendekati Wien Nio yang belum juga bisa bicara. Pasukan ‘Rewo Rewo’ sigap tapi belum bisa berbuat banyak. Atmo berdiri gelisah.
“Wien Nio kenapa Wien Nio?’, tanya Ningsih.
“Jawab Wien Nio”, Yani menimpali. Mardi ikut terdiam dengan situasi ini. Yani menarik tubuh Wien Nio ditempatkan di pangkuanya. Pak Bendhol yang masih kesakitan giginya, mengangkat tubuh Mardi yang lemas. Atmo menampar kedua pipi Mardi untuk menyadarkannya.
“Jangan lengah dengan maut”, bentak Atmo pada Mardi. Mardi terjaga dan mau menyusul Han Han, Rambat dan kholili tapi mereka sudah balik.
“Ora ana sapa sapa, sepi”, kata Rambat. Han Han mendekati Wien Nio mencoba menotok aliran darah dan sinus kesadaran.
“Papah mamaaahh”, jerit Wien Nio. Yani memeluk lebih erat, Ningsih meijit mijit kaki Wien Nio.
“Han Han, Mardi, Kholili, Rambat cepat ke rumah Wien Nio”, tegas Atmo.
“Aku ikuuuttt’, jerit Wien Nio sambil meronta melepas pelukan Yani. Terpaksa Atmo menarik tangan Han Han untuk menunda dulu ke rumah Wien Nio.
“Wien Nio, jangan belindung di tengah rerumpunan tebu, kita harus jadi pohon tebu itu sendiri”, kata Han Han mengutip kata kata Mardi. Wien Nio terjaga.
“Han Han, Mardi, Kholili, Yani dan Ningsih menemani Wien Nio ke rumhanya, pelajari situasi dan jangan sampai mengudang perhatian terutama Belanda, cepat!’. Saat itu juga mereka beranjak pergi.
“Mbat, kita temani dulu saudara kita di sini tak baik jika beramai ramai, pasti akan mengundang perhatian”, tambah Atmo
“Benggol , ‘grayak’, masa sampai di sini….”, salah seorang mantan Pasukan Teratai itu membatin.
“Apa kisanak?’, tanya Atmo.
Meskipun wajah penampilan Pasukan ‘Rewo rewo’ ini bak pencoleng dan buta huruf lagi, bagaimanapun juga mereka bekas Pasukan Pengawal Presiden dan Wakilnya. Tentu saja info intelijen dari TNI sedikit banyak mereka ketahui. Akhir akhir ini cukup sering terjadi perampokan yang dilakukan oleh segerombolan yang disebut ‘benggol’ atau ‘grayak’. Terutama daaerah Surakarta begitu sering terjadi perampokan yang menjarah harta benda dan tak sedikit korban nyawa. Mereka inilah barisan ‘sakit hati’ atas kebijakan Bung Hata; rasionalisasi yang menghendaki adanya system organisasi angkatan perang yang professional. Seperti halnya ‘rewo rewo ini’ namun menempuh jalur yang sangat bertolak belakang. Rewo rewo memilih untuk tetap setia pada Bangsa dengan terus melawan Belanda sedang mereka para ‘bandit’ yang juga ditumpangi sisa sisa PKI Madiun memberontak dan mengacau dengan cara merampok.
“Masa Soeradi Bledhek sampai di sini”, kata salah satu mereka dengan ragu.
“Paling ‘wukul wukul’nya’, jawab temannya. Atmo dan Rambat mendengarkan dengan sekasama sambil menunggu laporan tentang keluarga Wien Nio.

#Bersambung

Gati Andoko

Advertisement

Baca juga:

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar