CO PATRIOT XII
#OperasiKerbauTanah. I
29 Januari 1949.
Hujan deras sejak pagi. Pasar Muntilan sepi pembeli. Warga lebih memilih tinggal di rumah memghindar dari butiran butiran air hujan hampir beku. Aliran air got sekeliling pasar mampet oleh sayatan bambu ‘kue keranjang’ yang rusak tak laku. Air dari talang genting membentuk lobang dalam, menggenang berputar mengalir lambat menjadikannya permukaan air tinggi merata. Penghormatan pada Tuhan, Bumi dan Kemanusiaan menyatu dalam ‘lampion’ depan rumah sepanjang pecinan. Hari ini adalah Tahun baru Imlek 2500 (Kerbau Tanah). Han Han menyebutnya Chun Jie (baca juen cie),’ perayaan menyambut musim semi’. Dalam hujan, Atmo, Kholili, Mardi dan Yani turun dari puncak gunung pring dengan sembunyi sembunyi berlarian memasuki los los pasar yang penuh genangan air mencari Han Han. Tidak ketemu. Sambil merobek habis gambar sketsa wajah yang masih terpasang, menyusuri jalanan pecinan yang juga tergenang air. Dengan memanjat tembok melihat agak jauh Klenteng Hok An Kiong barang kali Han Han ada didalam sana. Tidak ada. Mengurang kecepatan larinya kea rah timur hingga depan rumah juragan arang, berbalik kembali ke barat melewati ‘tugu wesi’ kekiri, kekanan menyusuri jalanan kecil belakang pecinan kembali memasuki los pasar, istirahat di los tukang cukur yang benar benar sepi. Kholili menyeka air di wajah dan rambutnya mengamati tempat ia kerja tinggalan bapaknya. ‘Sepertinya tempat ini sudah dipakai orang lain”, pikir Kholili. Sebulan lebih sedikit ditinggalkannya. Kecewa iya tapi ini lebih baik, dari pada terbengkelai tak ada guna. Atmo menyentuh pundak Kholili. Mardi melepas baju,dikebut kebutkannya sampai sedikit kering, lantas menutupkannya ke tubuh Yani yang menelungkupkan tangan kedinginan.
“Sepertinya akan tetap deras hujan lebih lama”, Atmo membuka perbincangan.
“Masih dingin?’, tanya Mardi pada Yani. Yani menjawab dengan senyum mengangguk.
“ Kudu piye mene?’, tanya Kholil.
“Jangan jangan di Gremeng”, kata Mardi. Atmo dan Kholili mengangguk ragu. Hujan deras begini.
“Lihat Wien Nio tadi di klentheng?’, tanya Atmo. Yani diam, tidak tahu siapa itu Wien Nio, sementara Mardi dan Kholili menggelengkan kepala. Hujan semakin deras, namun Atmo mengajak untuk bertanya pada Wien Nio keberadaan Han Han. Tidak jauh ke rumah Wien Nio.. Mardi dengan telanjang dada mengandeng tangan Yani, bersama Atmo dan Kholili keluar dari pasar menyeberang jalan dan melintasi rel kereta api sampai depan depot es yang sedang tutup. Cukup banyak orang berteduh sekitaran depot es hingga seberang jalan. Ragu ragu untuk mengetuk pintu, takut menganggu , barangkali keluarga Wien Nio tengah hikmat merayakan Imlek. Yani mengembalikan baju Mardi dan meminta untuk memakainya. Sambil memakai baju Mardi nekat mengetuk rumah Wien Nio.
“Mas Mardi,lhoh kang Atmo dan Kholili juga”, kata Wien Nio terkejut saat membuka pintu yang baru selebar wajahnya.
“Maaf, tahu Han Han dimana?”, tanya Mardi. Wien Nio tidak langsung menjawab, beralih pandang pada perempuan yang memegangang tangan Mardi. Suara kerata api mau berangkat arah Jogya terdengar di setasiun menengelamkan suara hujan.
“Kata tacike depan situ eh anu, kemarin lihat Han Han di Gremeng, ndak tahu sekarang”, jawab Wien Nio agak kebingungan juga.
“Kalau boleh titip Yani, nanti kemari lagi sekembalinya dari Gremeng”, kata Atmo setengah berteriak sambil menujuk Yani.
“Ehh anu, tapi…duh piye…ya ndak papa”, jawab Wien Nio gelagapan. Lokomotif ‘sepur kluthuk sudah melewati samping depot es. Atmo, Mardi dan Kholili bersiap ‘nyengklak’ mebonceng gerbong paling belakang. Ketiga tiganya bersama melompat dan meraih pintu belakang gerbong, bergelantungan. Tidak bisa berdiri bebas. Besi yang dipijakknya tidak cukup unutk enam kaki. Belim juga nyaman, Yani lari mengejar kereta. “Yaniii….”, teriak ketiganya. Atmo lompat lari menjemput Yani yang terus berlari. Dipanggulnya tubuh Yani mengejar kereta yang sudah mempercepat jalannya.
“Tangkap Yani”, teriak Atmo sambil melemparkan tubuh Yani dan ditangkap hanya kena tangannya oleh Mardi. Yani terseret. Kaki nya luka terbentur bantalan rel kereta api. Dengan sekuat tenaga Atmo mengejar dan mengangkat tubuh Yani agar tidak terseret. Berhasil. Mardi bisa memegang perut Yani dengan satu tangan kanan, tangan kirinya memegang pintu belakang. Atmo menggelantung pada sisi kiri pintu belakang kereta.
“Kenapa ikut”, bentak Mardi marah. Sangat sulit menentukan posisi yang aman. Tiga saja sangat sulit. Sekarang Empat. Terpaksa kedua kaki Yani menggelantung dan mengandalkan pegangan Mardi dengan satu tangan diperutnya.
“Sudah, percuma marah marah”, balas Atmo membentak Mardi. Kholili terus berusaha menempatkan posisi terbaik agar bisa membantu Mardi. Jembatan Blongkeng terlewati, kereta api tidak berhenti di setasiun Dangean. Tangan Mardi sudah seperti ditarik kuda, kesakitan. Kholili belum mendapatkan posisi terbaik untuk menolong Mardi.
“Semua turun, kalau tidak aku panggilkan polisi kereta”, teriak orang dari pintu belakang yang melihat pembonceng pembonceng gelap ini.
“Cepat turun”, bentaknya lagi. Suara tembakan dari dalam gerbong terdengar.
“Awas tanganmu, kasih Yani ke aku”, perintah Atmo yang khawatir jari ajari Mardi yang terlihat dari dalam gerbong tertemabak. Kholili bergeser kesamping kanan. Tangan kiri Atmo berhasil memegang perut Yani, menggelantung hanya dengan satu tangan. Mardi bersesr menikuti Kholili. Tembakan terdengar lagi.
“Kita lompat kang”, ajak Kholili berteriak.
“Jangaan….terlalau bahaya untuk lompat turun”, jawab Atmo. Kholili dan Mardi mengintip situasi pintu gerbong belakang yang setengah terbuka. Kembali suara tembakan dari dalam. Kereta Api melaju lebih cepat tidak berhenti di setasiun Tegalsari. Atmo masih bergelantungan dengan satu tangan sambil tangan kirinya memegang perut Yani. Hujan belum juga reda dan bertambah derasnya. Sekilas mata Mardi dan Kholili melihat moncong senjata laras panjang keluar pintu. Satu orang polisi Belanda dan satu pribumi keluar dan mengarahkan tembakan pada tangan Atmo. Mardi dan Kholili melompat bersamaan. Mardi merebut senjata mengarahkannya keatas , Kholil menarik tangan polisi satunya hingga terlempar dari kereta. Pergumulan berebut senjata antara Mardi dan Polisi masih terjadi. Kholili yang sudah bebas memukul keras tengkuk polisi disambut Mardi dengan kuat melempar polisi itu hingga terjun dari kereta. Kerta hamper melwati jembatan Batang. ATmo sambil memeganga perut Yani melompat turun, diiukut Mardi dan Kholili.
‘Rupane nglumpuk’ (wajahnya mengumpul), begitu kira kira tang terjadi pada diri Mardi mendahuluii Kholili, Atkmo dan Yani menaiki bukit gunung Gendol dari ujung timur. Tak lain gara gara Yani yang teramat kolokan, seperti kanak kanak diringgal pergi ‘kondangan’. Kalau tidak ada Atmo pastilah tak tau apa yang terjadi pada Yani.
“Mardi….bantu Yani”, teriak Atmo pada Mardi yang sudah dua pulung langkah mendaki bukit.
“Ningsih, Wien Nio bahkan mabk Rahayu yang sedang hamil tak pernah merepotkan orang lain”, jawab Mardi nyinyir.
“Pa mene, sing guedhii tapi malah meringankan, syu-syu-ne- syu-kat…”. Kholili ditendang pantatnya (didugang) oleh Atmo sampai terjengkang. Meski jarak gunung Gendhol dengan desa Probolinggo, Yani tak sekalipun menaiki bukit ini. Kesulitan dan melelahkan, tentu saja. Terlebih hujan deras yang belum juga reda membuat tanah merah (lempung) menempel dikaki juga sangat licin. Atmo begitu sabar membimbing Yani.
“Hiraukan saja mereka berdua, kalu gojek kadang keterlaluan”, bujuk Amto.
“Aku memang keterlaluan sudah merepotkan”, jawab Yani memelas.
“Sudah, nanti kan Mardi pasti menggandeng tanganmu penuh kasih, lihat saja”, lagi bujuk Atmo sambil terus membimbinh Yani dengan sabar.
“Haaaannnn…..”, teriak Mardi memanggil Han Han yang tengah bersila dekat makam Mamahnya . Barangkali sudah 6 jam Han Han berdiam disitu dalam cucuran hujan . Mardi yang lebih dulu sampai tak tega untuk membangunnkan Han Han yang tengah berdoa, bersila disamping Han Han, disusul Kholili disamping kiri, menyusul kemudaian Atmo dan Yani di belakangnya. Masih lama juga kiranya. Hujan mereda, tinggal rintik rintiknya. Tak seberapa lama awan gelap mulai terbuka terbelah oleh sinar matahari yang sudah condong ke barat. Yani gemetaran tubuhnya dan demam. Atmo membimbingnya duduk di salah satu bangunan nisan agar punggungnya terkena langsung sinar matahari. Atmo juga menghampiri, mendirikan dan melepas baju Mardi mengebut kebutnya beberapa kali dan menutupkan pada tubuh bagian depan Yani. Han Han berdiri melakukan ‘soja’ lantas memilih bangunan nisan, duduk menghadap utara. Kholili juga beranjak duduk dekat Han Han. Mardi tak berpindah tempat hanya membelokkan badannya menghadap utara juga. Jadilah semua mengahadap utara memandang puncak merapi yang mulai terihat puncaknya yang berasap, tak menghiraukan ribuan bunga kamboja yang jatuh berserak. Tak dihiraukan pula yalan utama yang cukup sering melintas dokar, andong, orang bersepeda dan sesekali mobil yang melaju cepat juga kereta api yang sudah balik kearah Magelang. Sinar matahari sudah memberi kehangatan pada punggung punggung yang belum lelah memperjuangkan hidupnya.
“Cepat juga tumbuhnya rumpun tebu depan sana, baru sebulan sejak kita bertempur di Gremeng ini sudah setinggi dada”, kata Han Han yang tidak diketahui kemana arahnya, tiba tiba ngomong tentang tebu. Tidak ada komentar dari siapapun, memnanggapinya dengan diam.
‘Hari hari seperti ini, sekeluarga merayakan ‘Chun Jie” menghadap meja makan yang sudah penuh aneka makanan setelah menghormat ‘dewa dapur’. Saling bertukar buah jeruk, mamah mengiris kue keranjang dan mebagi baginya pada papa, kokoh, cacik dan saudara lain yang dating. Tak lupa papah pasti bercerita tentang kebun rumpun tebu. Orang orang Hokkian terpaksa bersembunyi di rerumpunan pohon tebu atas kejaran tentara yang sangat kejam. Berhari hari mereka sembunyi hingga melwatkan malam’Sincia’. Tah ada makanan, hanya pohon tebu itu diperas diminum airnya. Manis madu tanpa lebah itulah mereka bisa bertahan hidup.Hari ke delapan, tentara yang zalim dan kejam menganggap mereka telah mati. Nyatanya tetap hidup hanya dengan pohon tebu.’, cukup panjang cerita Han Han namun sangat sayang kehilangan satu huruf-pun.
‘Papah selalu mengulang dan mengulang cerita itu, tetapi aku sama sekali tak merasa bosan. Aku tidak mempunyai kebun tebu, papah, mamah sudah tidak ada, kokoh dan tacik yang jauh tidak ada kabar serta family yang tidak tau dimana berada. Hanya aku dalam reruntuhan rumah yang aku sendiri sudah takut untuk menempatinya. Aku ingin sembunyi di tengah rerumpunan pohon tebu itu’. Pandangan Han Han jauh melewati puncak gunung Merapi, namun sejatinya yang dipandang sangat dekat bahkan sampai tak melihat.
“Koen nangis Han?’, tanya Kholili
“Sudah ada kabar tentang Rambat, kang Atmo?’, tanya Han Han pada Atmo menghindari pertanyaan Kholili yang memang tak perlu dijawab.
“Biarlah ‘Jurang Gawah’ itu tetap istirahat sampai sampai aku melarang Ningsih menyerahkan pistol Rambat, tau sendiri kalau sudah pegang pistol”, jawab Atmo.
“Kang Atmo, Kholili, Mardi, Yani, Rambat. Ningsih juga Wie Nio, kalianlah rumpun tebu tempat aku berlindung untuk tetap hidup”, kata Han Han yang membuat semua terharu.
“Tidak, kita semua adalah rumpun pohon tebu itu sendiri”, Mardi yang masih kesel membesarkan hati Han Han. Yani masih diam dan mendengarkan sekasama apa yang dikatakan mereka semua. Terutama kalimat Mardi terakhir,’kita semua adalah rumpun tebu itu sendiri’. Han Han mendahuli menyalami dan memeluk satu satu, Yani tang terakhir.
“Mardi lebih hangat pelukannya, iya kan”, sindir Han Han pada Yani sekaligus Mardi. Yani tersipu demikian Mardi disambut tawa bersama.
Melewati jembatan jalan utama. Itu pasti. Tapi setelah itu belok menyusuri jalan dusun melewati lotong lorong kecil juga jalan setapak mengindar jalan utama. Hujan deras dari pagi hingga menjelang sore menjadikan sungai rawan untuk diseberangi, Banjir. Atmo mengajak Kholili dan Han Han untuk terus terus disampingnya sedikit lebih di depan dari Mardi yang masih marah pada Yani. Biaralah, sekaligus menguji kesabaran Mardi. AKhirnya Mardi sendiri selalu menunggu jalannya Yani yang selalu tertinggal cukup jauh sampai tak mendengar apa yang dibicarakan Atmo, Han Han dan Kholili di depan sana.
“Mas, mendengar apa yang dikatakan mas Mardi pada Han Han tadi, aku sungguh tidak pantas”, kata Yani sambil terus berjalan.
“Apa maksudmu?’, tanya Mardi.
“Aku bukan pohon tebu tempat berlindung, aku selalu merepotkan dan jadi beban”, jawab Yani. Mardi menggandeng tangan Yani meremas tangan penuh kelembutan.
“Kita semua belajar tumbuh bersama seperti serumpun pohon tebu”, kata Mardi yang sangat membuat nyaman hati Yani. Kaki mungil Yani semakin kuat dan mengajak lari Mardi menyusul Atmo. Han Han dan Kholili yang jauh di depan ratusan meter.
“Kejadian tadi di kereta bukannya berdampak kang?’, tanya Mardi pada Atmo begitu sampai menyusul jalannya.
“Itu pasti, makanya kita hindari jalanan utama, entah bagaimana nantinya kita tentukan setelah sampai pasar”, jawab Atmo.
“Tujuan kita yang utama adalah mengantar Han Han agar tetap bisa berdoa di Klentheng, semoga Wien Nio bisa membantu entah bagaiman caranya nanti’, tambahnya. Basah hujan sudah berganti dengan basah keringat. ‘Ora duwe Wudel” (tidak punya pusar), begitulah istilah orang Jawa untuk menyebut orang tak kenal lelah. Sudah melewati jalan kecil dusun Tegalslerem keluar sampailah pasar Muntilan. Kholili langsung ke rumah Wien Nio, sementara lainnya memasuki pasar teriring burng burung merpati berterbangan merenggangkan syap sayapnya sehabis berteduh yang sangat lama. Tak seberapa lama Wien Nio sambil membawa tas cukup besar lari bersama Kholili melintas rel kereta api dan jalan utama masuk pintu gerbang pasar.
“Ini untuk Kang Atmo semoga cukup, koh Han Han semoga ndak kebesaran, juga mas Mardi dan Kholili”, kata Wien Nio sambil membagi bagikan pakaian. “Yani aku ajak kerumah ya, masa ganti baju di sini”, tambahnya. Segera Wien Nio mengajak Yani ke rumahnya.
“Ini kamar mandinya, baju daleman sudah tak siapkan di dalam”, suruh Wien Nio sekalian menunggu Yani mandi sambil mempersiapkan pakaian ganti untuk Yani. Wien Nio juga menyiapkan segelas the hangat.
“Baju basahmu taruh dalam ember saja, biar besok tak cucinya”, kata Wien Nio sedikit berteriak. Wien Nio mau mencuci baju Yani? Penyesalan besar bagi Yani yang telah bersakwa sangka Wien Nio seorang yang angkuh yang diperlihatkan tadi pagi.
“Duduk saja depan cermin itu dan minum teh hangat dulu”, kata Wien Nio yang belum selesai memilih baju yang tepat untuk Yani.
“Jangan sungkan, papah dan mamah sudah di Klenteng sejak tadi sore”, lanjutnya. Yani hanya mengikuti apa yang dikatakan Wien Nio, dengan masih menyimpan penyesalannya, Sungguh, Wien Nio bukanlah orang diluar prasnagkanya. Wien Nio mengarahkan cara memakai pakaian yang sudah dipilihnya, Selanjutnya memberi polesan tipis bedak pada wajah Yani. Yani yang kehabisan kata kata memandang wajah Wien Nio yang teramat dekat dengan wajahnya sendiri . Wien Nio memandangi wajah Yani membandingkan memandang langsung juga melalui cermin.
“Betapa cantiknya kamu Yani, lihat itu di cermin, itulah kenapa aku cemburu”, kata Wien Nio yang jujur mengakui kecantikan Yani. Yani menoleh dan tangannya menyentuh pipi Wien Nio dengan senyum terharu dengan perlakuan Wien Nio terhadapnya.
“Maafkan aku Yani atas kelakuanku tadi pagi, sungguh aku cemburu kamu sangat pantas disamping mas Mardi”, kata Wien Nio sambil memeluk Yani dari belakang dan menatap cermin di depannya. Yani baru paham duduk persoalannya, bahwa Wien Nio menyukai Mardi, Menyesal dan meras dosa Yani menjadi. Betapa rendah dirinya jika disebut merebut Mardi dari Wien Nio, padahal aaach…..’naif’ tentu saja menentukan takdir hidupnya sendiri. Sungguh mulia budi Wien Nio dengan kejujurannya. Wien Nio segera mengganti pakaiannya.
“Aku senang melihat mas Mardi hidup bahagia, pasti akan di dapat kalau kamu disampingnya”, kata Wien Nio. “Ssssttt…mas Mardi tidak tahu, tentang perasaanku padanya”, lanjutnya. Yani sudah kehabisan kata kata.
“Yang mulia permaisuri Wien Nio, Paduka Kaisar Dinasti Han telah siap di luar”, teriak Mardi dari luar rumah. Wien Nio dan Yani keluar, sudah ditunggu Atmo, Mardi, Kholili dan Han Han yang kesemuanya berpakaian China waran warni kecuali warna hitam.
“Sungguh, yang mulia permaisuri bukan gadis manja lagi, kami pengawal siap menghantarnya”, canda Mardi lagi. Wien Nio hanya pasrah dicandainya, Berjalan bersama menuju Klenteng. Mardi, Kholili sibuk tengok sana tengok seni mencari etalase kaca toko namun tak ada toko yang buka, sekedar ingin bercermin. Akhir hanyalah kubangan air digunakan unutk bercermin. Han Han yang disamping Wien Nio dan Yani serta Atmo dibelakang pura pura tidak memperhatikan tingkah Mardi dan Kholili. Sampailah depan Klenteng. Atmo menggandeng Yani memasuki lorong kecil ‘gudang uyah diikuti Kholili dan Mardi.
“Koh masuk dulu, aku mau ngomong sama mas Mardi sebentar”, pinta Wien Nio. Mardipun menghentikan langkahnya ketika mendengar percakapan Wien Nio dan Han Han. Tinggalah berdua Wien Nio dan Mardi lorong sempit gudang uyah.
“Mas Mardi, aku minta maaf atas perlakuanku pada Yani tadi pagi”, kata Wien Nio yang membuat Mardi bertanya tanya.
“Lhoh ada apa ini?’, tanya Mardi. Dari pada jadi beban seumur umur, Wien Nio bercerita apa adanya kejadian tadi pagi sekaligus perasaan terpendam selama ini. Mardi mendengarkan dengan geleng geleng kepala tak menyangka kalau sepeti ini sambil menatap wajah Wien Nio yang mengeluarkan kecantikan terdalamnya. ‘Wien Nio’, batin Mardi menyebut nama.
“Bolehkah aku memelukmu untuk pertama dan terakhir kali”, lanjut Wien Nio yang membuat Mardi hampir terlempar dalam kubangan. Senyum mardipun hampa, mengalami peritiwa yang sangat tidak diduganya. Tidak ada yang bisa diperbuat Mardi kecuali mendahului memeluk Wien Nio, sementara Wien Nio yang didahului membalas pelukan lebih erat, enggan untuk melepasnya.
“Kamu bukan China, tapi sangat ganteng dengan pakaian itu”, kata Wien Nio sambil melepas pelukannya dan langsung lari memasuki Klenteng. Mardi dengan masih posisi tangan memeluk dibawa terbang oleh Dei Kwan In dan dijatuhkan begitu saja bersamaan datangnya gerombolan berbadan kekar dari arah barat. Salah satunya dipapah terbatuk kesakitan. Ingatannya langsung pada peristiwa jembatan Bogowonto bulan lalu. Mereka pasukan Teratai bentukan dokter Moestopo yang pernah menguji berhadapan dengan Han Han. Ada apa mereka datang kemari? Segera Mardi masuk lorong gudang uyah melaporkan kedatangan mereka ini pada Atmo dan Kholili.
#Bersambung.
Gati Andoko
10 November pukul 16.51 di Grup KKJ






