NYI AGENG SERANG
(PANGLIMA WANITA AHLI STRATEGI PERANG YANG DITAKUTI BELANDA)
Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi (Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, 1752 - Yogyakarta, 1828) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah anak Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Setelah ayahnya wafat Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya. Karier Nyi Ageng dalam militer kerajaan dimulai sejak berusia 16 tahun. Kala itu dia masuk Korps Nyai di Keraton Yogyakarta. Di tempat inilah dia mendapat gelar Nyi Ageng, tulis Peter Carey dalam Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX. Sementara, kata Serang dia dapat karena menikahi Pangeran Serang I. Dalam setiap pertempuran, dia selalu berkuda putih dan menggunakan seragam serta melilitkan selendang pusaka lambang keperwiraannya di tombaknya. Ia juga dikenal sebagai seorang taktikus dan pengatur strategi perang yang andal. Pangeran Diponegoro sering meminta bantuannya.
Pasukan Semut Ireng terdiri dari 500 prajurit dengan posisi yang diatur selalu siap siaga. Di Perang Jawa, Semut Ireng yang selalu memakai panji Merah-Putih yang disebut Panji Gula Kelapa mula-mula menghancurkan pos Belanda di Gambringan kemudian melanjutkan penyerangan ke Purwodadi. Dalam tugas merebut bagian timur Jawa Tengah, Nyi Ageng yang duduk sebagai penasehat dan bergerak bersama anaknya. Setelah menyerang pos-pos Belanda dengan taktik “Serangan Hanoman”, yakni menyerang diam-diam dengan pasukan kecil, para prajurit lantas bersembunyi di ladang, semak-semak, atau sawah dengan berlindung di balik daun limbu yang mereka bawa. Taktik ini berhasil mengelabui Belanda. Para tentara pemburu Belanda mengira prajurit Nyi Ageng Serang hilang begitu saja di tengah sawah hijau. Kecerdikan dan pengalaman Nyi Ageng membuat nasihatnya tentang strategi perang selalu didengarkan Pangeran Diponegoro. Dia akhirnya dipercaya menjadi penasihat umum dalam Perang Jawa. Posisi pentingnya selama Perang Jawa membuat Nyi Ageng Serang sangat dihormati pengikut Diponegoro.
Pada pertengahan 1826, pejabat Indo-Belanda Paulus Daniel Portier tertangkap dan menjadi tawanan pasukan Diponegoro. Dia meminta Pangeran Serang II untuk mempertemukannya dengan Nyi Ageng yang kala itu sedang bersemedi di sekitar Pantai Selatan guna bernegosiasi. Permintaan itu tak dikabulkan. Belanda tak pernah berhasil menangkapnya. Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga, ia juga mempunyai keturunan seorang Pahlawan nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Warga Kulon Progo mengabadikan monumennya di tengah kota Wates berupa patungnya yang sedang menaiki kuda dengan gagah berani membawa tombak.
(Tulisan dikutip dari berbagai sumber / Photo dari Googling)
(PANGLIMA WANITA AHLI STRATEGI PERANG YANG DITAKUTI BELANDA)
Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi (Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, 1752 - Yogyakarta, 1828) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah anak Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Setelah ayahnya wafat Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya. Karier Nyi Ageng dalam militer kerajaan dimulai sejak berusia 16 tahun. Kala itu dia masuk Korps Nyai di Keraton Yogyakarta. Di tempat inilah dia mendapat gelar Nyi Ageng, tulis Peter Carey dalam Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX. Sementara, kata Serang dia dapat karena menikahi Pangeran Serang I. Dalam setiap pertempuran, dia selalu berkuda putih dan menggunakan seragam serta melilitkan selendang pusaka lambang keperwiraannya di tombaknya. Ia juga dikenal sebagai seorang taktikus dan pengatur strategi perang yang andal. Pangeran Diponegoro sering meminta bantuannya.
Pasukan Semut Ireng terdiri dari 500 prajurit dengan posisi yang diatur selalu siap siaga. Di Perang Jawa, Semut Ireng yang selalu memakai panji Merah-Putih yang disebut Panji Gula Kelapa mula-mula menghancurkan pos Belanda di Gambringan kemudian melanjutkan penyerangan ke Purwodadi. Dalam tugas merebut bagian timur Jawa Tengah, Nyi Ageng yang duduk sebagai penasehat dan bergerak bersama anaknya. Setelah menyerang pos-pos Belanda dengan taktik “Serangan Hanoman”, yakni menyerang diam-diam dengan pasukan kecil, para prajurit lantas bersembunyi di ladang, semak-semak, atau sawah dengan berlindung di balik daun limbu yang mereka bawa. Taktik ini berhasil mengelabui Belanda. Para tentara pemburu Belanda mengira prajurit Nyi Ageng Serang hilang begitu saja di tengah sawah hijau. Kecerdikan dan pengalaman Nyi Ageng membuat nasihatnya tentang strategi perang selalu didengarkan Pangeran Diponegoro. Dia akhirnya dipercaya menjadi penasihat umum dalam Perang Jawa. Posisi pentingnya selama Perang Jawa membuat Nyi Ageng Serang sangat dihormati pengikut Diponegoro.
Pada pertengahan 1826, pejabat Indo-Belanda Paulus Daniel Portier tertangkap dan menjadi tawanan pasukan Diponegoro. Dia meminta Pangeran Serang II untuk mempertemukannya dengan Nyi Ageng yang kala itu sedang bersemedi di sekitar Pantai Selatan guna bernegosiasi. Permintaan itu tak dikabulkan. Belanda tak pernah berhasil menangkapnya. Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga, ia juga mempunyai keturunan seorang Pahlawan nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Warga Kulon Progo mengabadikan monumennya di tengah kota Wates berupa patungnya yang sedang menaiki kuda dengan gagah berani membawa tombak.
(Tulisan dikutip dari berbagai sumber / Photo dari Googling)






